Berita

Bashar al Assad/Net

Dunia

Dubes Djoko: Tidak Ada Alasan Indonesia Memusuhi Suriah

MINGGU, 28 OKTOBER 2018 | 15:44 WIB | LAPORAN:

Duta Besar RI untuk Republik Arab Suriah YM. Djoko Harjanto memberikan kuliah umum tema 'Masa Depan Rekonsiliasi Suriah: Peranan Indonesia dalam Menjaga Perdamaian Dunia' di hadapan civitas akademika Universitas Serang Raya (Unsera) Banten.

Acara dibuka oleh sambutan dari Rektor Unsera, Hamdanyang menyampaikan apresiasi dan penghargaan atas kesediaan Dubes Djoko Harjanto untuk memberikan kuliah umum kepada mahasiwa Unsera pada khususnya.

Menurutnya, hal tersebut sangat penting dan merupakan kesempatan langka untuk dapat lebih mengetahui duduk masalah konflik Suriah dan keadaan serta kondisi terakhir di Suriah dari sudut pandang yang objektif.


Dalam paparannya, Dubes mengupas asal mula konflik Suriah berawal dari skenario Arab Spring yang dimulai di Tunisia, Mesir dan Libya. Selanjutnya menyebar ke Suriah. Konflik politik tersebut kemudian semakin keruh dengan masuknya banyak pihak asing dari luar Suriah.

"Konflik Suriah bukanlah konflik sektarian antara Sunni dan Shiah namun konflik politik dengan adanya upaya pihak tertentu untuk menjatuhkan pemerintahan sah Presiden Bashar Al-Assad," terangnya.

Menurut Dubes Djoko, tidak ada alasan bagi Indonesia untuk ikut serta memusuhi Suriah apalagi menutup Kedutaan Besarnya di Suriah seperti yang dilakukan oleh sejumlah negara lain.

"Suriah merupakan kawan lama dan salah satu negara yang paling pertama mengakui kemerdekaan Republik Indonesia," tegasnya.

Bahkan pada saat bencana Tsunami di Aceh yang lalu, lanjut Dubes Djoko, Suriah juga memberikan bantuan kemanusiaan dengan mengirimkan tenaga medis dan obat-obatan.

Dubes yang merupakan mantan Konsul Jenderal di Kuching Malaysia ini juga menegaskan bahwa Indonesia tidak akan menutup Kantor Perwakilannya di Damaskus karena masih terdapat ribuan TKI di Suriah.

Selama dirinya menjabat sebagai Duta Besar RI di Suriah tercatat lebih dari 12 ribu TKI telah dipulangkan dari Suriah ke Indonesia.

"Suriah bukan negara tujuan pengiriman TKI namun saat ini masih saja ada pengiriman TKI ilegal ke sana." ujarnya.

Lebih lanjut Dubes Djoko menjelaskan upaya-upaya penyelesaian konflik Suriah melalui jalur perundingan damai. Sebagai negara nonblok yang menjalankan amanat alinea ke-4 UUD 1945 Indonesia turut berperan dan setiap perundingan damai masalah Suriah di PBB.

Indonesia juga berkomitmen untuk memberikan bantuan senilai 500 ribu dolar AS yang disalurkan melalui badan PBB, UN OCHA. Selain itu dirinya juga telah memfasilitasi dan menyerahkan bantuan dua unit ambulance sumbangan Dompet Dhuafa dan Mer-C.

Menutup kuliah umumnya, Dubes Djoko Harjanto meminta agar masyarakat Indonesia dapat melihat konflik Suriah melalui kacamata yang lebih jernih. Konflik Suriah hendaknya tidak dikait-kaitkan dengan konflik sektarian apalagi dijadikan sebagai komoditas politik di tanah air.

Dirinya optimis konflik serupa tidak akan terjadi di Indonesia karena Indonesia memiliki dua organisasi besar yakni Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah yang tidak pernah sekalipun mengajarkan radikalisasi.

Kehadiran Dubes Djoko di Unsera merupakan rangkaian program kunjungannya ke Indonesia dalam rangka pendampingan delegasi pengusaha Suriah mengikuti Indonesia-Middle East Gathering on Economy  di Yogyakarta (22-23 Oktober 2018) dan Trade Expo Indonesia ke-33 di ICE BSD, Tengerang Banten pada 24-28 Oktober 2018. Sebanyak 49 orang pengusaha Suriah hadir dalam kegiatan tersebut.[wid]


Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

UPDATE

Konsep Pasar Modern Tak Harus Identik Bangunan Mewah

Selasa, 07 April 2026 | 04:15

Jangan cuma Israel, Preman Kampung di Purwakarta Juga Wajib Dikutuk

Selasa, 07 April 2026 | 04:04

Tukang Ojek Ditembak Penumpang, Motor Dibawa Kabur

Selasa, 07 April 2026 | 03:38

Subsidi BBM Bocor Rp7 Triliun Gegara Kemacetan Jakarta

Selasa, 07 April 2026 | 03:15

KA Bangunkarta Anjlok di Bumiayu, Penumpang Dievakuasi 10 Bus

Selasa, 07 April 2026 | 03:00

Fahira Sodorkan Lima Strategi Pasar Tradisional Jadi Fondasi Jakarta Kota Global

Selasa, 07 April 2026 | 02:25

Waspada Politik Gunting dalam Lipatan di Lingkaran Istana

Selasa, 07 April 2026 | 02:11

Muslim Iran, Berjuanglah untuk Islam

Selasa, 07 April 2026 | 02:07

Viral Mobil Dinas di Kawasan Puncak, Pemprov DKI Minta Maaf

Selasa, 07 April 2026 | 01:36

Seruan Pemakzulan Prabowo Muncul dari Ketakutan Operasi Besar Berantas Korupsi

Selasa, 07 April 2026 | 01:12

Selengkapnya