Berita

Wiranto/Net

Wawancara

WAWANCARA

Wiranto: Ancaman Negara Kita Saat Ini Tidak Terlihat, Tapi Masif, Yakni Cyber Attack

JUMAT, 26 OKTOBER 2018 | 10:38 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Pemerintah mengklaim, empat tahun Jokowi-JK kon­disi sosial politik dan keamanan banyak mengalami kemajuan, meski ada beberapa gejolak. Bagaimana sebenarnya peta situ­asi kondisi politik dan keamanan di Tanah Air, berikut penjelasan Menko Polhukam Wiranto, di Jakarta.

Situasi politik dan keaman­an akhir-akhir ini kerap bergejolak, bagaimana me­nyikapinya?
Pemerintah perlu mengem­ban tugas menciptakan kondisi nasional yang kondusif. Saat ini kami yakin, kondisi politik stabil, hukum dapat ditegakkan dengan baik, dan keamanan.Alhasil tercatat, Indeks Demokrasi Indonesia naik 2,02 persen pada 2017.

Bagaimana dengan daya dukung aparat?

Bagaimana dengan daya dukung aparat?
Kemenkopolhukam saat ini bertugas menciptakan pra­kondisi demi mendukung kinerja jajaran. Terkait penilaian pra­kondisi yang terjadi di Indonesia dari lembaga internasional, kami akan jelaskan. Yakni, pada 2017 disebutkan oleh salah satu lem­baga internasional bahwa ada negara dengan tingkat keper­cayaan publik terhadap pemerintahnya yang sangat tinggi, yakni di Swiss dan Indonesia. Tapi karena Indonesia lebih besar, maka kita ditempatkan lebih tinggi.

Sebagian kalangan men­ganggap penegakan hukum tebang pilih, terutama dari kepolisian. Bagaimana itu?
Menurut Global Law and Order pada 2018, Indonesia juga disebut sebagai negara teraman nomor 9 di dunia. Sedangkan pa­da 2016, USNews justru menu­liskan bahwa Indonesia merupa­kan negara tujuan berinvestasi nomor 2 terbaik dan teraman.

Bagaimana pula dengan pelaksanaan proses demokra­si?
Ihwal demokrasi Indonesia, memang terus berkembang. Sejak reformasi, demokrasi terus dikembangkan agar ki­an dapat menampung aspirasi masyarakat. Dan semua capaian itu, mengingatkan kita akan in­deks demokrasi Indonesia.

Tapi di tahun 2015-2016 sem­pat ada gejolak, apalagi saat itu ada Pilkada DKI yang sangat menyita perhatian masyarakat?
Memang saat itu terjadi penurunan Indeks Demokrasi Indonesia. Hal itu karena ada ada tambahan indikator yang mengakibatkan ada kegiatan yang tidak bisa langsung dinetralisir. Dan itu, menggerus sedikit nilai in­deks demokrasi. Tapi kali ini pe­merintah telah memberi isyarat tegas, di antaranya agar PNStidak memakai fasilitas pemer­intah untuk kampanye dan soal netralitas pun digembar-gembo­rkan terus. Pada 2016, memang sempat terjadi penurunan indeks kerukunan beragama. Hal terse­but terjadi karena ada pengaruh dari pelaksanaan pilkada serentak.

Bagaimana pula dengan kerukunan agama yang sem­pat panas akhir-akhir ini?
Dari catatan Kemenkopolhukam, yakni terkait pemben­tukan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) yang bisa dikatakan sukses menyatukan umat beragama. ari 2015, FKUB sudah dibentuk di 34 provinsi. Sedangkan pada 2018, sudah ada di 500 kabupaten/ kota. FKUB merupakan media yang efektif untuk dialog, ter­masuk menekan konflik.

Pemerintah apakah juga mencatat soal gesekan antar elemen masyarakat dalam kerukunan beragama?
Ada gesekan-gesekanyang terjadi. Ada kecenderungan dalamkegiatan politik digunakan agama sebagai simbol-simbol kon­testasi. Itulah yang kemudian menyebabkan indeks kerukunan umat beragama menjadi agak turun.

Lantaran munculnya konflik-konflik horizontal dan juga pengaruh perkembangan hoax. Kondisi ini tidak bisa dielak­kan. Tapi, tetap harus senan­tiasa ditemukan cara untuk bisa ditekan. Sehingga tidak meng­ganggu stabilitas nasional. Hoax sendiri hingga kini dipandang belum sampai mengganggu kerukunan sebagai bangsa.

Ke depan, apa saja anca­man keamanan yang akan muncul?
Apa pula ancaman terbaru yang akan dihadapi Indonesia. Jika wujud ancaman di masa lalu adalah aneksasi. Kini, ancaman baru yang dihadapi tidaklah terlihat tapi bersifat masif. Ancaman itu adalah cy­ber attack yang muncul dari perkembangan teknologi tinggi. Untuk itu, pemerintah sudah mengembangkan langkah nyata untuk menghadapi ancaman tersebut. Sebanyak 324 ka­sus hate speech sudah ditan­gani. Demikian juga dengan hoax sebanyak 53 kasus dan terjadi penurunan cybercrime pada 2015-2017. Khusus terkait kejahatan siber, sudah dian­tisipasi dengan pembentukan badan siber. Pembentuk badan itu tidak dilakukan dari nol. Pasalnya, badan itu sebelumnya adalah Badan Sandi Negara yang ditingkatkan kemampuannya untuk mempercepat kemampuan melawan siber. ***

Populer

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

Dua Tahun Cukup bagi Prabowo Mengasuh Geng Solo

Selasa, 13 Oktober 2026 | 13:43

UPDATE

Bursa Asia Tertekan, Kospi Anjlok Lebih 2 Persen

Jumat, 23 Oktober 2026 | 08:33

Ekonom Sentil Menteri Prabowo: Jangan Jadi Beban Presiden!

Jumat, 23 Oktober 2026 | 08:21

Wall Street Tertekan Aksi Jual Saham Teknologi

Jumat, 23 Oktober 2026 | 07:56

Lonjakan Minyak Tekan Logam Dunia: Emas Anjlok ke Level Terendah

Jumat, 23 Oktober 2026 | 07:45

Saham BYAN Tancap Gas, Naik 3,16 Persen ke Rp10.600

Jumat, 23 Oktober 2026 | 07:22

Penguatan IHSG Sinyal Kepercayaan ke Pemerintah Mulai Pulih

Jumat, 23 Oktober 2026 | 07:10

Pasar Eropa Merah Gara-gara Minyak

Jumat, 23 Oktober 2026 | 07:06

Terbuka Peluang Bangun Museum Haji Indonesia

Jumat, 23 Oktober 2026 | 06:58

Pujian Prabowo Jangan Jadi Obat Tidur Menteri

Jumat, 23 Oktober 2026 | 06:57

Pemerintah Harus Berlakukan Wajib Halal pada Oktober 2026

Jumat, 23 Oktober 2026 | 06:19

Selengkapnya