Berita

Foto/Net

On The Spot

Jembatan Ponulele Palu Dipotong Jadi Kecil-kecil

Supaya Mudah Diangkat Dari Teluk Talise
KAMIS, 25 OKTOBER 2018 | 10:01 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Jembatan Ponulele atau Jembatan Kuning, Palu, Sulawesi Tengah yang hancur akibat gempa dan tsunami mulai dibersihkan. Jembatan sepanjang 250 meter yang menghubungkan Jalan Cumi-cumi, Palu Barat dan Raja Moili, Palu Timur akan bersih dalam dua pekan ke depan.

 Sebelum proses pembersihan dilakukan, beberapa pekerja mengecek struktur jembatan yang ambruk terlebih dahulu. Setelah dicek dan dirasa aman, beberapa alat berat diturunkan ke lokasi.

Kemudian, tiga bekhoe mem­bersihkan puing-puing yang ber­serakan di sisi barat jembatan. Puing–puing berbagai ukuran itu kemudian dipinggirkan di sudut lapangan. Selanjutnya, beberapa truk besar membawa puing-puing tersebut ke tempat lain.


"Proses pembersihan puingsudah dilakukan sejak Jumat (19/10)," ujar Donny Simorangkir, komandan lapangan pembersihan Jembatan Ponulele dari Kementerian Energi dan Sumberdaya Mineral (ESDM) kepada Rakyat Merdeka.

Setelah puing-puing di pinggirjembatan bersih, puluhan pekerjayang mengenakan seragam lengkap dengan sepatu boot danhelm lapangan, bergegas menuju tiang-tiang jembatan yang am­bruk. Jembatan yang sebelumnya menjadi kebanggaanmasyarakat Palu itu, lantas dipotong-potong menjadi bagian kecil sepanjang dua meter agar mudah diangkut menggunakan truk.

Langkah tersebut dilakukan karena rangka jembatan ber­diameter sekitar empat meter ini, masih teronggok di tengah-tengah teluk. Sehingga, sulit dipindahkan bila tidak dipotong-potong menjadi bagian kecil.

"Proses pembersihan rangka jembatan paling cepat dua min­ggu," prediksi Donny.

Runtuhan jembatan yang ambrukakibat gempa berkekuatan 7,4 skala richter (SR) itu, cukup mengganggu aliran sungai di Teluk Talise. Air sungai yang menuju ke laut Palu itu, tidak bisamengalir deras karena ter­hambat besi jembatan yang menutupi sebagai besar sungai ini.

Tidak hanya itu, beton sele­bar enam meter juga ikut menutupijalan air. "Proses pemotongan tergantung aliran sungai. Kalau air pasang dan angin berhembus kencang, pekerjaan dihentikan sementara. Kalau kondisi tenang, baru dilanjutkan," ujar Donny.

Di sekitar lokasi pembersihan jembatan, angin berhembus cu­kup kencang. Beberapa pekerja memilih duduk di sisi jembatan sembari menunggu hembusan angin mereda. Setelah menunggu sekitar satu jam, puluhan pekerja yang dilengkapi tabung-tabung berukuran besar dan alat las itu, kembali memotong bongkahan jembatan berukuran besar.

"Pembersihan jembatan hanya dilakukan pagi hingga sore hari untuk keselamatan pekerja," ujar Donny.

Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik dan Kerja Sama, Kementerian ESDM, Agung Pribadi mengatakan, proses pembongkaran dan pengangkatan Jembatan Ponulele dilakukan Tim Siaga Bencana ESDM bersama Tim dari Adibrantas sejak Jumat (19/10). "Crane berkekuatan 60 ton dari Bayan Resources sudah memasuki hari keempat dalam mengangkat dan memindah­kan jembatan kuning yang ter­dampak bencana 28 September lalu," ujar Agung.

Menurut Agung, proses pengangkatan besi Jembatan Ponulele dilakukan Tim Siaga Bencana ESDM menggunakan Crane berkekuatan 60 ton, Zoomlion. "Ada sebanyak 107 orang tim rescue yang dilibatkan dalam proses pembersihan jem­batan tersebut," ucap dia.

Selain menggunakan crane, lanjutnya, Tim Siaga ESDM juga dibantu alat berupa rock breaker untuk mempercepat membongkar pondasi jembatan tersebut.

"Crane itu setiap hari bekerjamemindahkan potongan Jembatan Ponulele ke tempat yang aman, kemudian bertahap diba­wa ke tempat lain menggunakan truk," ujarnya.

Agung menambahkan, ren­cananya, proses pengangkatan Jembatan Ponulele juga akan dibantu menggunakan Crane berkekuatan 180 ton, Kobelco untuk pengangkatan bagian tengah. "Tapi masih menung­gu kesediaan jangkar sandar kapal di wilayah Teluk Talise," ucapnya.

Lokasi Jembatan Baru Masih Dalam Kajian


Direktur Jalan dan Jembatan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Iwan Zarkasi mengatakan, pihaknya tengah mengkaji sejumlah desain dan konsep pembangunan yang paling ideal agar Jembatan Ponulele bisa dibangun kembali.

Kementerian PUPR, kata dia, akan menitikberatkan pada kajian terhadap kondisi tanah di lokasi jembatan yang ambruk tersebut, apakah masih memung­kinkan untuk dibangun di tempat yang sama dengan memperhati­kan potensi geologis tanah.

"Akan direkonstruksi, tetapi kami masih mengkaji kondisi tanahnya untuk dibangun kembali sebaiknya seperti apa," ujar Iwan.

Iwan menjelaskan, Jembatan Ponulele merupakan jembatan lengkung sepanjang 250 meter yang membentang di atas Teluk Talise dan mulai beroperasi pada 2006. "Nilai investasi jembatan yang ambruk tersebut menca­pai Rp 60 miliar, berasal dari anggaranpemerintah kota set­empat," ucapnya.

Saat ini, Iwan mengaku belum bisa memperkirakan biaya pembangunan jembatan Ponulele yangbaru karena kajian masih dilakukan.

Menurut Direktur Jenderal Bina Marga Kementerian PUPR Sugiyartanto, kajian mengenai struktur tengah jembatan diin­tensifkan oleh kementeriannya untuk mengetahui kekuatan fon­dasi dan geologis tanah setelah bencana alam tersebut.

"Dalam diskusi awal, ada opsi untuk membuat jembatan gantung yang hanya bisa dilewati manusia sebagai monumen un­tuk mengenang jembatan terse­but," ujar Sugiyartanto.

Menurut Sugiyartanto, pembangunan jembatan permanen bisa dilakukan pada 250 meter menuju ke arah hulu, sehingga dapat meminimalisir potensi pergeseran fondasi dan struktur tanah. Dengan demikian, pembangunan jembatan baru, dinilai lebih aman.

"Jembatan itu nantinya akan tetap pertahankan keindahannya, tetapi mungkin tidak dilewati kendaraan. Kalau dibangun sep­erti jembatan lama, harus mem­pertimbangkan anggaran dan takut risiko lagi," tuturnya.

Kendati demikian, Sugiyartanto menambahkan, pihaknya akan mengomunikasikan hal tersebut dengan pemerintah kota setempat terlebih dahulu, sembari mengkaji desain rekonstruksi jembatan. "Karena ini aset mereka," tandasnya. ***

Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

UPDATE

Investor Diminta Wait and See, Pengamat Prediksi Banyak yang Ditangkap Imbas MSCI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 12:30

Serangan Houthi Ganggu Ajang Olahraga Saudi, Piala Asia Tetap Sesuai Jadwal

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 12:14

Putusan MK soal UU Peradilan Militer Momentum Akhiri Impunitas

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 12:06

Komisi III DPR Desak Pelaku Korupsi Dana Bencana Dihukum Maksimal!

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 11:46

Daftar Negara Masuk Standalone Market MSCI, Ada 12 Negara

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 11:34

Dihantam Ancaman MSCI, IHSG Terancam Anjlok ke 4.700 Pekan Depan

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 11:24

Minyak Dunia Tembus 110 Dolar AS

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 11:07

Profil Hamenang Wajar Ismoyo, Bupati Klaten Tersangka Kasus Suap Audit BPK

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 10:53

Karhutla Meluas, Legislator Golkar Desak Evaluasi Pencegahan dan Penegakan Hukum

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 10:52

BMKG Deteksi Sebaran Asap Karhutla hingga Jakarta dan Papua

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 10:39

Selengkapnya