Berita

Ilustrasi/Net

Hukum

Ahli Waris Heran Dana Konsinyasi Dicairkan PN Wates dan Paku Alam X

RABU, 24 OKTOBER 2018 | 18:39 WIB | LAPORAN:

Kubu Suwarsi dan keluarga selaku ahli waris tanah di pembangunan Bandara baru Yogyakarta Internasional Airport menyesali tindakan Pengadilan Negeri (PN) Wates dan Paku Alam X yang diduga mencairkan dana konsinyasi sebesar Rp701 miliar.

Menurut kuasa hukum Suwarsi Cs, Petrus Selestinus, PN Wates dan Paku Alam X yang juga menjabat sebagai wakil gubernur Yogyakarta itu tidak pantas mencairkan dana konsinyasi sebelum adanya putusan inkrah dari pengadilan.

"Jadi 2 Oktober kemarin, kami sudah melaporkan ke Bareskrim, Paku Alam X dan Ketua PN Wates Pak Marlius karena melakukan tindakan pencairan uang konsinyasi pembayaran ganti rugi lahan 120 hektare untuk pembangunan Bandara Kulon Progo," kata Petrus sebelum menjalani pemeriksaan sebagai saksi pelapor di Bareskrim Polri, Jakarta Pusat, Rabu (23/10).


Petrus manambahkan berdasarkan ketentuan Mahkamah Agung (MA), objek pengadaan tanah yang masih sengketa, maka pembayaran ganti ruginya harus dikonsinyasikan atau dititipkan di PN Wates.

Dana ganti rugi bisa dicairkan ketika putusan pengadilan sudah berkekuatan hukum tetap atau adanya perdamaian di antara kedua pihak. Sementara perkara perdata gugatan ini, hingga saat ini masih banding di Pengadilan Tinggi Yogyakarta.

"Nyatanya sengketa itu masih berlangsung di Yogyakarta dari 2017. Tetapi 5 Juni 2018 kemarin, Paku Alam X bersama ketua PN Wates dan juga pihak Angkasa Pura atas dasar yang kami tidak tahu, mereka berhasil mencairkan dana konsinyasi itu," jelas Petrus.

Petrus menduga ada permufakatan jahat di antara mereka beserta sejumlah jaksa dalam perkara itu. Untuk itulah pihaknya melaporkan Paku Alam X atas penggelapan dalam jabatan atau penyalahgunaan wewenang.

Dia mengharapkan, Bareskrim Polri segera menyeret orang-orang yang terkait dalam pencairan dana ganti rugi itu ke ranah hukum. Sejauh ini tahap proses hukum sudah memasuki penyelidikan.

"Hari ini akan ada gelar pertama," tambah Petrus.

Laporan Petrus diterima Bareskrim dan teregistrasi dengan laporan nomor: LP/B/1224/X/2018/Bareskrim tertanggal 2 Oktober 2019. Sejumlah nama dilaporkan di antaranya Paku Alam X, Marlius dan Sri Harijati.

Petrus melaporkan mereka dengan Undang-undang Nomor 1 Tahun 1946 tentang Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP), dan Pasal 372 KUHP tentang Penggelapan. [nes]


Populer

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

KPK Dalami Peran Haji Her dan Suryo di Skandal Cukai Rokok

Jumat, 01 Mei 2026 | 20:51

Bos Rokok PT Gading Gadjah Mada Dipanggil KPK

Senin, 27 April 2026 | 14:16

Usai Dilantik, Jumhur Tegaskan Status Hukum Bersih dari Vonis 10 Bulan

Senin, 27 April 2026 | 21:08

Sikap Adem Ayem Seskab Teddy Mencurigakan

Selasa, 05 Mei 2026 | 02:06

UPDATE

BPOM Terbitkan Aturan Baru untuk Penjualan Obat di Minimarket

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:01

Jaksa KPK Endus Ada Makelar Kasus dalam Kasus Bea Cukai

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:59

Kapolri Dianugerahi Tanda Kehormatan Adhi Bhakti Senapati

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:50

Komisi XIII DPR Desak LPSK Lindungi Korban Kasus Ponpes Pati

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:39

Pengembangan Koperasi di Luar Kopdes Tetap jadi Prioritas

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:20

AS Galang Dukungan PBB untuk Tekan Iran di Selat Hormuz

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:19

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

Komdigi Lakukan Blunder Kuadrat soal Video Amien Rais

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:06

Menteri PU: Pejabat Eselon I Diisi Putra dan Putri Terbaik

Rabu, 06 Mei 2026 | 16:58

RI Jangan Lengah Meski Konflik Timur Tengah Mereda

Rabu, 06 Mei 2026 | 16:45

Selengkapnya