Berita

Rahmat Effendi/Net

Wawancara

WAWANCARA

Rahmat Effendi: Setelah Ketemu Pak Anies, Kota Bekasi Sangat Adem

SELASA, 23 OKTOBER 2018 | 11:08 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Hubungan antara Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta dengan Pemerintah Kota (Pemkot) Bekasi memanas terkait persoalan pengelolaan Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST). Pemkot Bekasi menyatakan Pemprov DKI Jakarta belum mencairkan dana hibah kemitraan tentang pengelolaan sampah. Namun, Pemprov DKI Jakarta mengklaim telah me­nyelesaikan semua pembayaran tentang dana hibah pengelolaan sampah.

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menuding Pemkot Bekasi sengaja memunculkan isu sampah untuk memper­oleh dana kemitraan dari DKI Jakarta, sebab, kata Anies, per­soalan dana hibah kemitraan tak ada kaitannya dengan dana hibah pengelolaan sampah, yang di dalamnya termasuk dana kompensasi bau sampah.

Kisruh soal pengelolaan sampah itu kemudian berlanjut saat Dinas Perhubungan Kota Bekasi  melakukan penghentian operasional 16 truk sampah mi­lik Pemprov DKI Jakarta.


Kemarin siang, Walikota Bekasi Rahmat Effendi bertemu dengan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan di Balaikota DKI. Lantas bagaimana hasil­nya? Apakah Bekasi tetap mengajukan dana kemitraan Rp 2 triliun? Berikut penuturan pria yang akrab dipanggil Bang Pepen ini.

Bagaimana hasil pemba­hasan soal polemik pengelolaan sampah di Bantargebang?
Beberapa hari ini memang terjadi miskomunikasi, antara Bekasi dengan DKI Jakarta. Dan hari ini saya merasa bersyukur, bahwa ternyata tidak ada yang berubah dari kebijakan DKI, berkenaan dengan hubungan kedaerahan dan kemitraan yang dibangun, dan juga tanggung jawab terhadap pengelolaan TPST Bantargebang. Jadi karena saya melihat dan mendengar langsung dari Pak Gubernur, rasanya sangat adem Kota Bekasi.

Memang kemarin ada yang sulit, ternyata dua hari yang lalu Pak Gubernur menghubungi saya, cuma tidak ditindaklanjuti. Pas tadi dicek-cek saya hubungi, ternyata keluar nomor ini oh iya.

Akhirnya, atas nama Pemerintah Kota (Pemkot) Bekasi dan warga kota Bekasi, kami mengucapkan terima kasih kepada pak gubernur.

Bahkan setelah itu pun kami dijamu makan. Jadi itu baru makan sebentar saja gizi kami sudah meningkat, apalagi jika kebersamaan ini terus diban­gun.

Soal masalah dana bagaima­na?
Kalau pun ada pengajuan dari Kota Bekasi ke Pak Gubernur, itu adalah bagian dari kemi­traan, bagian dari perjanjian. Kemudian sesuatu hal yang Pak Gubernur sampaikan tadi, integrasi daerah bagaimana membangun daerah itu supaya kalau jalan di DKI rasanya Adi Kota Bekasi juga A.

Karena komunitas urbannya seperti itu. Terus berkenaan dengan bantuan hibah itu, da­lam kata proses pengelolaan keuangan sebenarnya yang kami minta itu partisipasi, karena kami ada kerjasama pengelo­laan Bantargebang. Terus tadi ditanya saat ada persoalan mis­komunikasi itu, semua datang ke sana enggak ada yang tertahan. Yang tertahan itu hanya 12 mo­bil yang enggak punya SIM dan surat-suratnya enggak lengkap.

Lalu dananya akan cair akhir 2018 atau tahun de­pan?
Persoalannya bukan cair atau tidak, persoalannya itu rasional atau tidak. Yang kedua prosesnya ini yang kesepahaman. Saya dan Pak Gubernur sudah sepa­kat kalau ke depan akan terus, karena itu tadi kami membuat kerangka pembangunan untuk lima tahun.

Pak Gubernur kan baru satu tahun pertama, lalu saya juga baru pertama, nanti kami grade tahun pertama, tahun kedua, tahun ketiga dan seterusnya sehingga tidak terjadi miskomu­nikasi seperti ini lagi.

Bakal bentuk tim untuk membahas hal ini?
Iya, nanti antar tim akan berdiskusi lebih detailnya. Kami ingin pembangunan Jabodetabekjur dibangun dalam sebuah semangat integrasi, karena perekonomian di wilayah ini terintegrasi, jadi kerjanya pun harus terintegrasi.

Yang dibahas detail itu dana sampahnya saja kan?

Semuanya, katanya semua yang jadi aspirasi akan dibahas secara detail.

Dana tersebut nanti diman­faatkan buat apa saja?
Kami manfaatkan bantuan itu pertama buat infrastruktur ling­kungan, pendidikan, kesehatan, serta sarana dan prasarana. Nah, karena itu diatur dalam hak dan kewajiban, maka pemanfaatan tadi diutamakan buat di sekitar daerah TPST Bantargebang. Sekarang di sana itu sudah ada 90 ribu jiwa.

Kalau tahun 1988-1989 atau pada saat awal itu belum segitu, dan volumenya belum mencapai 7 ribu. Kalau Pak Gubernur dengan intermediate treatment facility (ITF) bisa 2.200 ton per hari sebenarnya cukup, dengan DKI yang uangnya banyak, dan bisa mengurangi yang di sana sehingga bisa selesai. ***

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

UPDATE

Minyak Dunia Tembus 100 Dolar AS, Purbaya Belum Tambah Subsidi Energi

Sabtu, 12 September 2026 | 02:25

One Asia Golf Cup 2026 Diikuti 144 Pengusaha dari 11 Negara

Sabtu, 12 September 2026 | 02:14

Relawan Prabowo-Gibran Tak cuma Hadir saat Pemilu

Sabtu, 12 September 2026 | 01:30

Ferry Boboho Balikin Duit Rp5 Miliar, Diduga terkait Pemerasan Febrie

Sabtu, 12 September 2026 | 01:10

Maruli Janji Dongkrak Peringkat Atlet Judo Indonesia

Sabtu, 12 September 2026 | 01:01

ERP Solusi Pengendalian Kemacetan Jakarta

Sabtu, 12 September 2026 | 00:34

Simak Rekayasa Lalin Persija-Persib di GBK

Sabtu, 12 September 2026 | 00:18

Jarnas Konsisten Kawal Program Pro Rakyat Prabowo-Gibran

Sabtu, 12 September 2026 | 00:00

Haji Dimulai dari Kalkulator

Jumat, 11 September 2026 | 23:35

Baznas Kembali Raih Indonesia Most Reputable Companies Award 2026

Jumat, 11 September 2026 | 23:20

Selengkapnya