Berita

Nirsia Castro Guevara/RMOL

Dunia

Kuba Rugi Belasan Ribu Triliun Dampak Embargo AS

JUMAT, 19 OKTOBER 2018 | 19:31 WIB | LAPORAN:

Embargo dan sanksi yang dijatuhkan Amerika Serikat telah membuat kaku pergerakan ekonomi Kuba.

Negara khas produksi cerutu itu bahkan tidak dapat menggunakan dolar AS dalam transaksi internasional.

"Ada juga Daftar Dibatasi Entitas dan Sub-entitas Kuba yang diterbitkan oleh Departemen Luar Negeri pada akhir 2017 yang mencakup 179 perusahaan yang berada di bawah larangan khusus. Semua ini berarti bahwa Kuba harus mencari mitra komersialnya jauh dan membayar lebih untuk transportasi barang dagangan," beber Duta Besar Kuba untuk Indonesia, Nirsia Castro Guevara di Jakarta, Jumat (19/10).


Hubungan AS dan Kuba kembali memanas setelah Presiden Donald Trump menekankan kebijakannya melalui memorandum Presiden yang berjudul "Memperkuat Kebijakan Amerika Serikat terhadap Kuba" pada 16 Juni 2017.

Di sektor produksi, embargo AS telah menyebabkan rusaknya investasi, transportasi, serta jaringan ritel Kuba.

"Karena ada kekurangan suku cadang dan suku cadang untuk peralatan, serta hambatan untuk pembiayaan dan akses ke teknologi baru, kondisi yang mendukung kekurangan dan ketidakstabilan produk," tuturnya.

Dubes Nirsia menyebutkan Kuba mengalami kerugian sebanyak 933,68 miliar dolar AS atau sekira Rp 14.211,51 triliun (Asumsi kurs tengah Bank Indonesia hari ini: Rp15.221 per dolar AS) melalui pertimbangan depresiasi dolar dibandingkan dengan harga emas di pasar internasional.

Sektor kesehatan Kuba juga ikut terganggu pasokan obat-obatan reagen, instrumen, suku cadang untuk peralatan medis dan perlengkapan lainnya menjadi kebutuhan saat ini. Termasuk kesulitan pasokan teknologi canggih seperti kolonoskop, bronkoskop, dan tomograf.

"Sanksi AS telah mempengaruhi semua sektor ekonomi dan sosial di Kuba," tandasnya.[wid]

Populer

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

UPDATE

Harga Emas Dunia Terkoreksi Saat Ultimatum Trump Dekati Tenggat

Senin, 06 April 2026 | 08:19

Krisis Global Memanas, Industri Air Minum Tercekik Lonjakan Harga Kemasan

Senin, 06 April 2026 | 08:06

Sektor Bisnis Arab Saudi Terpukul, Pertama Kalinya dalam 6 Tahun

Senin, 06 April 2026 | 08:00

Trump Ancam Ciptakan Neraka untuk Iran jika Selat Hormuz Tak Dibuka

Senin, 06 April 2026 | 07:48

AS Berhasil Selamatkan Pilot Jet Tempur F-15 di Pegunungan Iran

Senin, 06 April 2026 | 07:36

Strategi WFH di Berbagai Negara Demi Efisiensi Energi

Senin, 06 April 2026 | 07:21

Cadangan Pangan Pemerintah Capai Level Tertinggi, Aman hingga Tahun Depan

Senin, 06 April 2026 | 07:06

Daya Kritis PBNU ke Pemerintah Makin Melempem

Senin, 06 April 2026 | 06:32

Amerika Negara dengan Ideologi Kapitalisme Menindas

Senin, 06 April 2026 | 06:12

Isu Pemakzulan Prabowo Belum Padam Total

Senin, 06 April 2026 | 06:07

Selengkapnya