Berita

Sandiaga Uno/Net

Wawancara

WAWANCARA

Sandiaga Uno: Perang Dagang Tidak Bisa Kita Kontrol, Jokowi Hanya Beri Pesan ke Eksternal

SENIN, 15 OKTOBER 2018 | 08:45 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Presiden Joko Widodo kem­bali menghadiri Pertemuan IMF-Bank Dunia di Nusa Dua, Bali pada Jumat (12/10). Mantan Gubernur DKI Jakarta tersebut menjadi keynote speaker. Dalam pidatonya, Jokowi menggam­barkan kondisi ekonomi dunia. Dari mulai perselisihan yang terjadi di antara negara-negara maju hingga dampaknya bagi perekonomian negara lain.

Tanpa disadari, kata Jokowi, perselisihan itu membuat negara-negara di dunia melupakan hal penting, yakni kondisi yang lebih berdampak bagi masyarakat dunia. Seperti perubahan iklim, penyakit, sampah plastik, dan persoalan lingkungan lainnya. Jokowi bahkan mengibaratkan apa yang terjadi saat ini seperti dalam film Game of Thrones. Di mana para negara-negara besar sibuk berperang tanpa me­mikirkan risiko yang terjadi dari perang itu. Berikut pernyataan cawapres Sandiaga Uno terkait pidato Jokowi itu.

Pertemuan IMF-Bank Dunia menurut Anda apakah bisa menjadi salah satu cara pe­merintah untuk memperbaiki ekonomi Indonesia saat ini?

Saya perlu menggarisbawahi bahwa kita ini tengah masuk ke awan pekat turbulensi ekonomi. Kita semua bisa mempredik­sikan The Fed bisa akan me­naikkan suku bunga beberapa kali lagi. Kemudian ada perang dagang yang akan menjadi salah satu ancaman kita. Hal ini faktor eksternal yang kita tidak bisa mengontrolnya.

Saya perlu menggarisbawahi bahwa kita ini tengah masuk ke awan pekat turbulensi ekonomi. Kita semua bisa mempredik­sikan The Fed bisa akan me­naikkan suku bunga beberapa kali lagi. Kemudian ada perang dagang yang akan menjadi salah satu ancaman kita. Hal ini faktor eksternal yang kita tidak bisa mengontrolnya.

Jadi pemerintah harusnya bagaimana?

Indonesia itu mestinya fokus di internal saja. Jadi benahi fak­tor internal kita. Saya sudah ber­ulang-ulang kali hemat dan kita semua memang harus hemat. Pangkas impor yang bisa ditunda dan ekspor digenjot, mari kita genjot semuanya setuju. Saya melihat beberapa produk-produk mengalami kendala birokrasilah. Seperti kendala perizinan dan sebagainya. Jadi untuk mem­benahi ekonomi Indonesia mari kita dorong ekspor.

Ciptakan lapangan kerja se­luas-luasnya, tekan impor, dan stabilitas yang terjangkau di masyarakat. Maka kita pastikan dengan kenaikan BBM tidak membebani masyarakat. Sebab kita harus fokus untuk penghe­matan. Menurut saya itu saja yang harus dilakukan. Untuk yang di luar negeri itu kita eng­gak bisa kontrol.

Kenapa demikian?
Sebab mereka (negara-negara) hanya memastikan ekonominya masing-masing. Toh itu yang menjadi prioritas mereka kok. Jadi tidak ada lagi yang me­mikirkan nasib Indonesia bahkan merasa iba ke Indonesia. Kalau menurut saya apa yang disam­paikan Pak Jokowi itu sah-sah saja. Namun itu lebih mengarah kepada mencoba memberikan satu pesan kepada eksternal, bahwa jangan melakukan perang dagang.

Maksudnya?
Yang seperti itu di luar kontrol Indonesia. Artinya sangat tidak bisa kita kontrol. Jadi imbauan itu boleh saja namun kita tidak akan bisa mengkontrol itu.

Kalau Anda di posisi Jokowi apa yang akan Anda lakukan?
Kalau saya pasti fokusnya pada hal-hal yang bisa saya kontrol. Jadi hal-hal yang bisa saya kontrol, ya internal dalam negeri. Seperti penghematan, dorong ekspor, tekan impor, gerakkan ekonomi kerakyatan, dan berdayakan UMKM. Jadi hal tersebut yang harus kita lakukan. Selama ini fokus kita belum ke arah sana. Makanya saya bersama Pak Prabowo ingin menggarisbawahi untuk mem­perbaiki ekonomi Indonesia ke depannya.

Berarti hal tersebut senada dengan pidato Prabowo beber­apa hari lalu yang mengatakan ekonomi Indonesia sistem ekonomi kebodohan?
Jadi saya menggarisbawahi bahwa sistem ekonomi kita bukan hanya zaman Pak Jokowi, tapi sebelum-sebelumnya termasuk Pak Prabowo dan saya adalah bagian daripada self correction kepada kita. Serta auto kritik ke­pada kita semua terutama kepada kaum elite. Jadi kita mesti ubah cara berpikir bangsa ini. Cara pikir bangsa ini awalnya dengan melihat kekuatan internal kita. Mulai melihat sumber-sumber produksi yang kita miliki, misal­nya industri pengolahan.

Silakan cek saja sejumlah kilang yang ada di indonesia. Bagaimana caranya kita bisa meningkatkan industri pengo­lahan. Ya termasuk petro kimia dan sebagainya harus kita bang­kitkan sehingga impor bisa kita kurangi. Kita juga bangkitkan kekuatan ekonomi yang berbasis keunggulan kota untuk melaku­kan ekspor. Karena pasarnya ada dan tersedia. Beberapa waktu lalu pengrajin rotan mendapat order begitu banyak namun ke­sulitan bahan baku. Padahal itu sangat mendasar lho dan per­masalahan mendasar itu yang harus kita perbaiki ke depan.

Artinya sejalan dengan slo­gan Prabowo 'Make Indonesia Great Again'?
Ya itu salah satunya. Sebab Pak Prabowo itu loving what he does and doing what he loves. Jadi Pak Prabowo itu cinta Indonesia dan dia ingin bangsa ini kuat. Mengingat kita ini pernah jaya lho di zamannya. Zaman kerajaan Sriwijaya kita berjaya. Zaman Majapahit kita pun berjaya. Zaman pada saat pertumbuhan ekonomi yang kita pernah mencapai 7-8 persen kita juga jaya. Jadi kita ini raja ekspor. Poduk-produk Indonesia itu raja dan dikenal di luar negeri sebagai megara yang luar biasa kuat ekonominya. Nah kita ingin mengembalikan ekonomi kita yang seperti itu. Sah-sah saja Pak Prabowo mengusung kon­sep 'make Indonesia great again' karena kita pernah jaya. Jadi ini membangkitkan semangat kita. Saya rasa bahwa hal ini berto­lak belakang dengan apa yang dilakukan oleh Presiden Jokowi dan KH Ma'ruf Amin. Mereka juga sama berpikir bahwa Indonesia bisa jaya. Jadi kenapa mesti dikritik. Sebab Pak Jokowi punya mimpi yang sama bahwa kita ingin Indonesia jaya. ***

Populer

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

Tiket Jakarta Fair Tidak Ramah Kantong Rakyat Berpenghasilan Rendah

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:21

Langgar HAM, Segera Tangkap Taufik Hidayat dan Dihukum Setimpal!

Senin, 22 Juni 2026 | 15:05

UPDATE

Purbaya Santai Tanggapi Risiko Pencucian Uang di Patriot Bond: Bisa Dipakai untuk Bangun Ekonomi

Selasa, 23 Juni 2026 | 16:16

7 Cara Mencegah ISPA saat Musim Kemarau

Selasa, 23 Juni 2026 | 16:10

ITDC Buka Suara soal Laporan Dugaan Korupsi PPK Mandalika ke KPK

Selasa, 23 Juni 2026 | 16:07

Nadiem Apresiasi Mahasiswa yang Turun ke Jalan

Selasa, 23 Juni 2026 | 16:04

Usulan Penderita TB Jadi Penerima MBG Harus Dikaji Matang

Selasa, 23 Juni 2026 | 16:01

Kemenkeu Belum Berminat Miliki Saham BEI

Selasa, 23 Juni 2026 | 15:59

Tiga Pejabat Bea Cukai Segera Diadili Gegara Terima Suap dan Gratifikasi Rp71 Miliar

Selasa, 23 Juni 2026 | 15:53

Update Harga iPhone Terbaru di Indonesia 22 Juni 2026

Selasa, 23 Juni 2026 | 15:49

Kuasa Hukum Sulaiman Minta Komnas HAM Awasi Dugaan Kriminalisasi

Selasa, 23 Juni 2026 | 15:45

Joko Anwar Umumkan Pengabdi Setan 3 Akan Tayang 2027

Selasa, 23 Juni 2026 | 15:32

Selengkapnya