Berita

Peta Palu pasca gempa dan Tsunami/AFP

Dunia

Peneliti: Tsunami Sulteng Diperburuk Oleh Bentuk Teluk Palu

SELASA, 02 OKTOBER 2018 | 11:27 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Tsunami yang terjadi di Palu dan sejumlah wilayah di sekitarnya memiliki skala yang lebih besar bila dibandingkan dengan gempa bumi yang memunculkannya. Banyak faktor yang menyebabkan mengapa gelombang tsunami tersebut muncul lebih besar, salah satunya adalah posisi teluk yang panjang dan sempit.

Begitu kesimpulan awal sejumlah peneliti yang melakukan pengamatan atas kasus gempa disertai tsunami yang terjadi di Sulawesi Tengah.

Diketahui bahwa gempa berkekuatan 7,5 skala richter yang melanda pada Jumat malam (28/9) telah memicu terjadinya tsunami.


"Gelombangnya (tsunami) setidaknya dua hingga tiga meter tingginya, dan mungkin dua kali lipatnya," kata Jane Cunneen, seorang peneliti di Fakultas Sains dan Teknik Universitas Curtin di Bentley, Australia Barat, dan seorang arsitek peringatan tsunami Samudra Hindia, sebuah sistem yang dikembangkan di bawah bimbingan PBB.

Namun, para peneliti menilai bahwa kekuatan gempa itu seharusnya tidak menimbulkan tsunami sebesar itu.

"Dalam sebagian besar kasus, tsunami dihasilkan oleh apa yang disebut gempa dorong, yang menciptakan perpindahan vertikal besar-besaran dari dasar laut," kata Baptiste Gombert, seorang ahli tektonik di departemen ilmu bumi Universitas Oxford.

Tsunami Palu, sebaliknya, dihasilkan oleh kesalahan menggelincir atau strike-slip faults , di mana potongan-potongan kerak bumi bergerak di atas atau di bawah satu sama lain di sepanjang bidang horizontal

"Strike-slip faults cenderung tidak menghasilkan tsunami, karena mereka tidak mengangkat dasar laut terlalu banyak," kata Cunneen.

Namun para ahli menjabarkan setidaknya ada tiga faktor yang kemungkinan menyebabkan terjadinya gelombang mematikan itu.

Salah satunya adalah saluran air laut yang sangat panjang yang berakhir di kota dataran rendah Palu.

"Bentuk teluk pasti memainkan peran utama dalam memperkuat ukuran ombak," kata Anne Socquet, seorang ahli gempa di Institut Ilmu Bumi di Grenoble yang telah mempelajari kesalahan seismik di kawasan itu.

"Teluk itu bertindak seperti corong ke mana gelombang tsunami masuk," sambungnya.

Saat teluk menyempit dan menjadi lebih dangkal, air didorong dari bawah dan diperas dari sisi pada saat yang sama.

Faktor kedua adalah ukuran serta lokasi gempa. Gempa berkekuatan 7,5 skala richter itu adalah gempa yang kuat.

"(Gempa yang menghantam Palu) juga sangat dangkal, yang berarti perpindahan dasar laut yang lebih besar," kata Gombert.

Untuk membuat segalanya lebih buruk, pecahnya dekat dengan pantai, meninggalkan sedikit waktu atau jarak untuk gelombang menghilang.

Faktor terakhir adalah bukti tidak langsung yang menunjukkan bahwa tsunami diperbesar oleh ekuivalen bawah laut dari tanah longsor.

"Gempa bumi mungkin menyebabkan tanah di bawah laut dekat mulut teluk, atau bahkan di dalam teluk itu sendiri," kata Cunneen, mencatat dinding-dinding tanah yang curam di jalur air.

Hal ini akan membantu menjelaskan mengapa ombak itu begitu besar di dekat Palu, tetapi jauh lebih kecil di daerah sekitarnya. Demikian seperti dimuat Channel News Asia. [mel]

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

Tiket Jakarta Fair Tidak Ramah Kantong Rakyat Berpenghasilan Rendah

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:21

UPDATE

Penumpang Melonjak di Libur Sekolah, Whoosh Hadirkan Promo Wisata

Sabtu, 27 Juni 2026 | 19:57

Razman Dieksekusi

Sabtu, 27 Juni 2026 | 19:29

Purbaya Bantah Restitusi Pajak Ditahan, Tuding Ada Permainan Oknum DJP

Sabtu, 27 Juni 2026 | 18:51

Dari Kandang ke Kanopi Hutan: Tiga Orangutan Hasil Rehabilitasi Kembali ke Alam Liar

Sabtu, 27 Juni 2026 | 18:45

Perjalanan Tengkar KH Miftachul Akhyar

Sabtu, 27 Juni 2026 | 17:52

Punya Integritas, Zulhas Lantik Uya Kuya Pimpin PAN Jakarta

Sabtu, 27 Juni 2026 | 17:34

Terus Meningkat, Mayoritas Publik Tak Puas Kinerja Wapres Gibran

Sabtu, 27 Juni 2026 | 17:22

Dikuasai Gaya Hidup, Pasar Indonesia Diincar Asing

Sabtu, 27 Juni 2026 | 16:41

Polisi Tangkap Perantara Jual Beli Sabu 1 Kg di Pasar Baru

Sabtu, 27 Juni 2026 | 16:29

JK Resmikan Pembangunan Masjid Hajjah Yuliana Bekas Kantor Polisi di Melbourne

Sabtu, 27 Juni 2026 | 16:00

Selengkapnya