Berita

Foto/Net

On The Spot

Kantor Penghubung Sulteng Dipadati Keluarga Korban

100 Orang Minta Diberangkatkan ke Lokasi Gempa
SELASA, 02 OKTOBER 2018 | 09:29 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Bencana gempa dan tsunami di Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah setidaknya merenggut 844 korban jiwa. Banyaknya korban jiwa dan luka-luka, membuat keluarga korban ramai-ramai mendatangi Kantor Penghubung Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah di Jakarta.
 
 Kemarin siang, suasana kan­tor penghubung yang beralamat di Jalan Kebon Kacang Raya, Nomor 32, Jakarta Pusat ra­mai. Puluhan orang hilir mudik memasuki rumah dua lantai itu. Mereka serius berbincang-bincang satu dengan yang lain. Wajah gelisah dan cemas tampak sekali di raut wajah para tamu yang rata-rata mahasiswa itu.

Sesekali mereka menanyakan kabar keluarga kepada petugas yang berjaga di meja recepsionis itu. "Sudah ada 100-an orang yang ingin diberangkatkan ke Palu untuk melihat keluarg­anya setelah musibah gempa dan tsunami," ujar Dwi Fara, Koordinator relawan di Kantor Perwakilan Pemprov Sulteng, di Jakarta, kemarin.


Kantor Penghubung Pemprov Sulteng berada persis di depan pusat perbelanjaan Thamrim City. Letaknya berhimpitan den­gan rumah-rumah penduduk di sepanjang Jalan Kebon Kacang, Jakarta Pusat. Tepat di depan rumah terdapat plang kecil war­na merah bertuliskan, "Badan Penghubung Provinsi Sulawesi Tengah."

Di depan kantor nyaris tidak menyisakan ruang sedikit pun untuk parkir. Lahan yang tidak terlalu luas itu penuh dengan beberapa kendaraan roda em­pat dan dua. Kendaraan juga menyatu dengan teras rumah. Beberapa kursi yang tersedia di teras juga dipenuhi beberapa orang yang saling bercerita ten­tang kondisi keluarga mereka setelah musibah gempa dan tsu­nami. "Rata-rata mereka belum bisa berkomunikasi dengan ke­luarganya," ucap Fara kembali.

Masuk lebih dalam, langsung dihadapkan dengan tumpukan belasan karung berukuran be­sar. Karung-karung tersebut berisi pakian layak pakai hasil sumbangan dari para donator yang ada di ibukota. "Pakaian belum bisa dikirimkan. Kami baru mendahulukan mengirim 32 dus air mineral dan obat-obatan melalui Bandara Halim Perdanakusuma," terang ma­hasiswi Universitas Persada Indonesia (UPI) YAIini.

Di tengah-tengah ruangan, disediakan sofa yang yang tidak terlalu besar. Kursi-kursi terse­but juga telah dipenuhi beberapa orang tua yang terus menanya­kan kabar keluarganya yang be­rada di Palu. Mereka menunggu kabar sembari terus berdoa agar keluarganya diberi keselamatan atas bencana tersebut. "Kami di sini sudah seperti satu keluarga dan saling menguatkan satu den­gan yang lain," ujar wanita asal Kabupaten Sigi, Sulteng ini.

Fara mengakui, keluarganya juga turut menjadi korban ben­cana gempa bumi dan tsunami. "Nenek saya belum ketemu sampai sekarang. Tapi kedua orangtua, kakak dan adik alham­dulilah selamat," ucap dia.

Wanita yang mengenakan baju warna putih ini mengeluhkan keluarganya belum menerima bantuan kebutuhan pokok, obat-obatan dan juga pakaian layak pakai, baik dari pemerintah mau­pun donator. Pasalnya, seluruh akses jalan menuju daerahnya terputus total akibat gempa. "Kalau mau ke sana harus jalan memutar lewat gunung dulu se­lama 2 jam. Sebelumnya hanya 45 menit," sebutnya.

Demi meringankan beban para korban bencana, kata Fara, beberapa relawan mahasiswa asal Sulteng di Jakarta beri­nisiatif menggalang dana dalam moment car free day di Jalan Thamrin dan Sudirman, Jakarta Pusat. "Alhamdulilah sudah ter­kumpul uang Rp 17 juta. Uang akan dibelikan obat-obatan dan makanan pokok," ujarnya.

Namun demikian, dia ber­harap pemerintah bisa segera mengirimkan bantuan pokok dan juga obat-obatan ke seluruh korban gempa dan tsunami di beberapa daerah di Sulteng secara merata. Sebab, selama ini bantuan hanya terpusat di Kota Palu, sedangkan daerah lain belum tersentuh. "Yang penting bantuan harus merata ke seluruh daerah dan jangan terpusat di kota-kota besar saja," harap dia.

Terpisah, Gubernur Sulawesi Tengah Longki Djanggola men­gatakan, pemerintah telah men­etapkan masa tanggap darurat bencana gempa bumi dan tsu­nami di Palu dan Donggala se­lama 14 hari, sejak 28 September 2018 hingga 11 Oktober 2018. Selama masa tanggap darurat, kata dia, akan dipimpin oleh Danrem Korem 132/Tadulako, Sulteng. "Posko tanggap daru­rat penanganan bencana gempa bumi dan tsunami berada di Makorem 132/Tadulako Kota Palu," ujar Longki dalam ket­eranganya, kemarin.

Longki menyebut, jumlah korban gempa dan tsunami di Sulteng mencapai 48 ribu jiwa. Banyaknya jumlah pengungsi tersebut, kata dia, menjadi kend­ala tersendiri untuk menyalurkan bantuan karena pengungsi terse­bar di banyak tempat. "Jangan dibilang Pemda enggak ada, enggak disentuh, semua yang terkumpul jadi satu pasti kami datangi, tapi kalau kecil-kecil enggak," ucapnya.

Longki mengakui, pemerintah daerah belum bisa menjang­kau seluruh pengungsi korban gempa dan tsunami di Sulteng. Bahkan, ia mengaku belum bisa menjalin komunikasi dengan Bupati Donggala. "Kami masih belum bisa berkomunikasi den­gan para bupati. Cuma kota Palu sama Bupati Sigi yang bisa dihubungi," ucapnya.

Saat ini, kata Longki, Pemda telah menyiapkan dapur um­um di beberapa lokasi, yakni Watulembo, rumah dinas guber­nur, dan sejumlah tempat lain. "Kami minta pemkot di beberapa daerah di Sulteng secara berjen­jang mulai dari walikota dan bupati bisa berpatisipasi dalam menangani bencana gempa serta tsunami di Palu," harap dia.

Selain itu, Longki mengaku ke­sulitan dalam melakukan evakuasi warga di daerah terdampak gempa dan tsunami di Palu karena terk­endala minimnya alat berat. Hal itu terjadi, kata dia, karena pe­nyediaan alat berat sulit dipenuhi mengingat matinya jaringan ko­munikasi di Sulteng. "Bahan bakar untuk alat berat juga sulit didapatkan," keluhnya.

Longki menambahkan, salah satu alat berat yang sulit didatang­kan adalah eskavator. Padahal kata dia, evakuasi korban dengan alat berat seharusnya dapat dipenuhi oleh lembaga teknis.

Kendati demikian, sambung Longki, Pemda sudah menda­tangkan enam unit eskavator untuk membantu evakuasi bagi para korban. Eskavator ini akan digunakan untuk mengevakua­si korban gempa di kawasan Perumnas Balaroa yang men­jadi salah satu korban terparah gempa bumi. ***

Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Bonatua akan Diperiksa Bareskrim terkait Dugaan Pemalsuan Dokumen Suket Gibran

Rabu, 04 November 2026 | 23:19

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Boikot Raffi Ahmad-Willie Salim Cederai Nilai Demokrasi

Senin, 02 November 2026 | 20:11

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

KPK Bongkar Dugaan Akal-akalan Cukai Rokok PT Djarum Sejak 2010

Senin, 02 November 2026 | 15:43

UPDATE

Hari Bakti, Lapas Cianjur Gelar Aksi Bersih-Bersih melalui Imipas Peduli

Jumat, 06 November 2026 | 22:35

Kejagung Sita Rp11,7 Miliar dalam Kasus Nikel Arif Kurniawan

Jumat, 06 November 2026 | 22:31

Kapolri Banjir Dukungan Bongkar Kasus Penyadapan

Jumat, 06 November 2026 | 22:21

Bank Mandiri Bukukan Laba Bank Only Rp46,5 Triliun

Jumat, 06 November 2026 | 22:19

Aturan Berubah, Ekspor ke Jepang hingga Uni Eropa Masuk Daftar Relaksasi

Jumat, 06 November 2026 | 22:06

11 Kreator Indonesia Siap Bersaing di TikTok Awards Southeast Asia 2026

Jumat, 06 November 2026 | 21:48

Singgung Jokowi-Gibran, Penyadapan Prabowo Diduga Bermuatan Politik

Jumat, 06 November 2026 | 21:39

Pegasus di Indonesia: Sekadar Mitos atau Ancaman Nyata?

Jumat, 06 November 2026 | 21:26

MedcoEnergi Umumkan Penerbitan Obligasi Senilai 300 Juta Dolar AS

Jumat, 06 November 2026 | 21:26

Ketika Listrik Membuka Peluang: Dari Rumah Tangga hingga Ekonomi Desa

Jumat, 06 November 2026 | 21:03

Selengkapnya