Berita

Rapimnas PPP/RMOL

Bisnis

PPP Dorong Pemerintah Ambil Kebijakan Tepat Sikapi Perang Dagang AS

KAMIS, 27 SEPTEMBER 2018 | 16:18 WIB | LAPORAN:

Partai Persatuan Pembangunan (PPP) mengingatkan pemerintah segera mengambil kebijakan tepat dalam menghadapi perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok.

Ketum PPP Romahurmuziy menekankan, kondisi perekonomian global sedang berada di dalam ketidakpastian. Kondisi ketidakpastian itu karena kebijakan ekonomi AS di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump yang memicu perang dagang dengan Tiongkok. Serta kenaikan suku bunga acuan The Fed yang membuat ekonomi dunia kembali bergejolak.

"Perang dagang antara AS-Cina kini masuk ke dalam babak baru setelah AS mengenakan tarif bea masuk untuk 200 miliar dolar AS produk asal Cina, dan dibalas oleh Cina yang mengenakan bea masuk untuk 60 miliar dolar AS produk AS. Padahal dua negara ini adalah 25 persen pangsa pasar ekspor Indonesia," jelasnya dalam Rapat Pimpinan Nasional III dan Santiaji Nasional Caleg PPP di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, Kamis (27/9).


Keadaan itu semakin kompleks ketika model proteksionisme ala Trump justru menimbulkan efek bola salju ke negara-negara mitra dagang Indonesia. Misalkan India yang sudah memberlakukan kebijakan bea masuk cukup tinggi bagi produk sawit Indonesia.

"Hasilnya ekspor minyak sawit dari Januari-Agustus 2018 turun minus 11,5 persen secara tahunan," kata Romi, sapaan akrabnya.

Menurutnya, neraca perdagangan Indonesia dalam tujuh bulan terakhir mengalami defisit sebesar USD 4 miliar. Angka itu melonjak signifikan dibandingkan posisi yang sama tahun lalu yang tercatat surplus USD 9 miliar.

Adapun, selain efek perang dagang, kenaikan harga minyak mentah yang telah menembus USD 80 dolar per barel memberi tekanan pada impor migas. Bagaimana tidak, defisit migas sudah mencapai USD 8,3 miliar, melonjak dari USD 5,3 miliar di posisi yang sama tahun 2017.

Masalahnya, kenaikan konsumsi BBM dalam negeri berbanding terbalik dengan kondisi produksi minyak atau lifting. Karena itu, jika pemerintah tidak segera membuat kebijakan yang tepat maka akan menjadi masalah sangat serius bagi perekonomian nasional.

"Jika tidak segera dilakukan terobosan dalam menahan turunnya atau meningkatkan produksi minyak nasional, penurunan ini akan menjadi masalah serius," pungkas Romi. [wah] 

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Melanggar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Karier Gila-gilaan Mufli Budi Ananda: Dari Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris Krakatau Posco

Senin, 29 Juni 2026 | 00:00

Tim Mawar dan Tambang

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:59

UPDATE

Jokowi Injak Kepala Kerbau saat Terima Gelar Adat Lampung, Apa Maknanya?

Selasa, 30 Juni 2026 | 18:21

Safari Politik Jokowi Bukti Kepemimpinan Gibran dan Kaesang Lemah

Selasa, 30 Juni 2026 | 18:21

Jokowi dan PSI, Duri dalam Daging Pemerintahan Prabowo

Selasa, 30 Juni 2026 | 18:09

Daftar Wilayah yang Berpotensi Terdampak El Nino 2026

Selasa, 30 Juni 2026 | 18:05

Keiko Fujimori Akhirnya Bernasib Sama Seperti Prabowo

Selasa, 30 Juni 2026 | 18:03

KPK Sebut 10 Orang Diamankan dalam OTT Kuansing

Selasa, 30 Juni 2026 | 17:57

Panitia Minta Jokowi Datang Setelah Acara Adat, Kunjungan Malah Batal

Selasa, 30 Juni 2026 | 17:50

Koperasi Beri Ruang Bagi Mahasiswa Berwirausaha

Selasa, 30 Juni 2026 | 17:37

Tutup Perdagangan Akhir Bulan: IHSG Merosot ke 5.643, Rupiah Loyo Dekati Rp18 Ribu

Selasa, 30 Juni 2026 | 17:28

Ketum AHY: Genap 25 Tahun, Partai Demokrat Ingin jadi Bagian Solusi

Selasa, 30 Juni 2026 | 17:19

Selengkapnya