Pemerintah Malaysia bersyukur hubungan bilateralnya dengan Indonesia yang dimulai sejak tahun 1957 masih terjalin baik hingga kini.
Hubungan yang terus menguat diharapkan akan terus berkembang berdasarkan persamaan sejarah dan budaya yang telah lama diarungi bersama.
Hal ini dikemukakan Wakil Duta Besar (Wadubes) Malaysia untuk RI, Zamshari dalam sambutan perayaan Hari Nasional Malaysia di Kedubes Malaysia, Jakarta, Rabu petang (19/9).
"Saya yakin hubungan persaudaraan ini bukan sahaja lebih mantap tetapi akan terus berkembang melampaui batas harapan kita," ucapnya.
Keakraban kedua negara selama ini dinilainya cukup harmonis.
Karena memang, kata dia, Malaysia-RI ditakdirkan menjadi tetangga dan bersaudara. Ini diperlihatkan dari kunjungan resmi bilateral pertama Perdana Menteri Tun Mahathir Mohamad ke Indonesia pada Juni 2018 lalu.
"Begitu juga dengan Menteri Luar Negeri Malaysia, Dato’ Saifuddin Abdullah, yang memilih Indonesia sebagai destinasi pertama untuk kunjungan luar negeri beliau. Ini mencerminkan pentingnya Indonesia sebagai rakan strategis kita di rantau ini," tuturnya.
Selain itu, kata dia, faktor sosial dan kebudayaan juga mendekatkan kedua negara, seperti pada tahun 2018 Malaysia dan Indonesia bersama-sama mendaftarkan pantun sebagai Warisan Dunia Non-Tangible di UNESCO.
"Usaha-usaha seperti ini harus kita sama-sama pertingkatkan dan diperluaskan lagi dalam bidang-bidang lain. Kesamaan budaya dan sejarah harus menjadi dasar dan fondasi utama keakraban kedua-dua negara kita dalam usaha kita menjadi bangsa serumpun yang berjaya dan disegani dunia," tandasnya.
Tak disangka di penghujung sambutannya, Wadubes menuturkan sebuah pantun. Berikut isi pantun yang dibacakan Wadubes:
Ruyung dipecah mencari sagu
Enaknya bumbu kerana lada
Bagaikan santunan irama dan lagu
Malaysia dan Indonesia berpisah tiada
Kini menjadi tugas kita bersama, untuk mencari titik-titik persamaan ini untuk kita bergabung tenaga menjadi satu asas kepada bangsa serumpun yang maju, damai dan amat disegani di persada dunia.
[wid]