Berita

Dahlan Iskan/Net

Dahlan Iskan

Hukuman Baru Yang Dicepatkan

SELASA, 18 SEPTEMBER 2018 | 05:00 WIB | OLEH: DAHLAN ISKAN

TRUMP meneruskan hukuman untuk Tiongkok. Bahkan meningkatkannya. Dan mempercepatnya pula.

Senin kemarin hukuman baru itu harus diberlakukan. Lebih cepat dari rencana semula. Lebih besar dari hukuman pertama dan kedua. Tiga kali lipatnya USD 200 miliar dolar.

Itulah nilai yang dikenakan tambahan bea masuk. Untuk barang-barang Tiongkok yang diekspor ke Amerika.


Tiongkok terus membalas. Pun kali ini. Bahkan membatalkan kedatangan delegasinya ke Washington. Akhir bulan ini. Yang awalnya diundang oleh Amerika. Untuk kembali ke meja perundingan.

Undangan itulah yang di dalam negeri AS jadi isu posisi Trump melemah?

Langsung saja Trump meledak atas isu itu. Jarinya yang mungil spontan upload ke twitter: Kita tidak dalam keadaan tertekan. Tiongkok yang tertekan. Ekonomi kita terus menguat. Ekonomi Tiongkok yang menuju kolaps.

Tapi Tiongkok terus melakukan tit-for-tat. Membalas setiap tindakan Amerika. Dengan cara dan nilai setimpal. Pun kali ini. Belum ada tanda-tanda menyerah.

Anehnya, aneh. Neraca perdagangan Tiongkok tetap surplus. Agustus kemarin malah lebih besar. Dibanding  Juli. Dari USD 28 miliar menjadi 31 miliar. Naik 10 persen. Padahal perang dagang sudah berlangsung dua bulan. Lagi diteliti apa penyebabnya. Kok belum ada hasilnya.

Namun ekonomi Amerika memang gila. Sangat-sangat bagus. Pertumbuhan ekonominya 4,2 persen. Itu angka luar biasa. Bagi negara maju.

Harga saham di Wall Street pun terus membumbung. Tingkat penganggurannya juga sangat rendah 4 persen. Saking bangganya, Trump sampai kebablasan. Ia upload twitter: Belum pernah terjadi sepanjang sejarah Amerika. Tingkat pengangguran di bawah angka pertumbuhan ekonomi. Ini terbaik sejak 100 tahun terakhir.

Angka itu lantas dikoreksi. Hari itu juga. Maksudnya dalam 10 tahun terakhir. Koreksi resmi. Datang dari staf Gedung Putih.

Presiden Obama berteori pertumbuhan bagus itu terjadi karena fondasi yang dibuatnya. Obamalah yang mengentas ekonomi AS dari krisis. Sekarang tinggal lari.

Ekonom berteori dalam sejarah 10 kali krisis, selalu terjadi pertumbuhan ekonomi yang tinggi setelahnya.

Di Tiongkok sebaliknya pertumbuhan ekonominya turun. Tinggal 6,2 persen. Angka yang masih sangat tinggi. Tapi terasa bahaya. Biasa tumbuh lebih dari 9 persen.

Daerah yang paling terkena adalah provinsi Guangdong. Yang beribukota di Guangzhou. Shenzhen masuk di provinsi ini. Yang dekat Hongkong itu. Di situlah yang terbanyak pabrik berorientasi ekspor ke Amerika.
 
Tiongkok terus cari akal. Tidak menyerah. Mata uangnya dilemahkan. Untuk mendorong ekspor.

Minggu lalu muncul putusan baru di provinsi itu. Investor diberi tanah gratis. Diberi fasilitas perpajakan. Sahamnya boleh 100 persen asing. Bagi yang berorientasi ekspor.

Hari-hari ini jadi hari yang sangat menegangkan. Tiongkok menunggu barang apa saja yang masuk USD 200 miliar dolar itu.

Amerika menunggu tit-for-tatnya. Kita kebagian berdebarnya. [***] 

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

Suyudi Pede Gusur Puluhan Pati-Pamen Loyalis Listyo

Selasa, 06 Oktober 2026 | 05:09

Pergantian Kapolri untuk Antisipasi Putusan MK soal Gibran

Kamis, 01 Oktober 2026 | 18:19

UPDATE

Trump Tunjuk Katie Zacharia Jadi Sekretaris Pers Gedung Putih

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 10:27

Saat Outing Kantor Bergeser Jadi Strategi Korporat

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 10:09

Harga Emas Meroket di Akhir Pekan Jadi Semahal Ini

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 09:57

FORU Anjlok 11,39 Persen, Transaksi Tembus Rp253 Miliar saat IHSG Rebound

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 09:44

Komisi V DPR Wanti-wanti Tiga Kementerian Jangan Saling Lempar Tanggung Jawab Soal Ojol

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 09:30

Harga Logam Dunia Bangkit Usai Aksi Borong di Level Rendah

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 09:01

Tiga Anggota OPM Meninggal Dunia Usai Kontak Tembak di Maybrat

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 08:46

Teguh Santosa: Pepera 1969 Sejalan dengan Prinsip Self Determination

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 08:31

Kapolri Pimpin Sertijab di Mabes Polri, Komjen Asep Resmi Jadi Irwasum

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 08:17

Wall Street Tutup Pekan Kedua di Zona Hijau

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 08:05

Selengkapnya