Berita

Jaya Suprana/Net

Jaya Suprana

Dihujat Akibat Memuji

MINGGU, 09 SEPTEMBER 2018 | 07:33 WIB | OLEH: JAYA SUPRANA

ORANGTUA saya  berupaya mendidik saya tidak melakukan sesuatu terhadap orang lain yang saya tidak ingin orang lain melakukannya terhadap diri saya.  

Pada hakikatnya inti makna pendidikan orangtua saya adalah sebab-akibat interaksi sosial selaras dengan hukum karma.

Hukum Karma

Satu di antara sekian banyak sebab-akibat interaksi sosial selaras hukum karma adalah dihujat akibat menghujat. Maka saya selalu berupaya tidak menghujat agar tidak dihujat.

Satu di antara sekian banyak sebab-akibat interaksi sosial selaras hukum karma adalah dihujat akibat menghujat. Maka saya selalu berupaya tidak menghujat agar tidak dihujat.

Namun teknologi komunikasi yang menghadirkan medsos memunculkan suatu gejala interaksi sosial gaya baru yang melanggar hukum karma yaitu, dihujat akibat memuji.  

Akibat memuji kepedulian Pak Harto terhadap nasib petani, saya dihujat oleh mereka yang anti-Orba. Akibat memuji Gus Dur sebagai Mahaguru Bangsa, saya dihujat oleh mereka yang tidak setuju pemikiran Gus Dur. Akibat memuji Megawati Soekarnoputeri sebagai penerus perjuangan Bung Karno, saya dihujat oleh mereka yang tidak suka Bung Karno.

Akibat memuji Wiranto meletakkan kepentingan negara di atas kepentingan pribadi sehingga tidak melakukan kudeta pada saat Pak Harto lengser, saya dihujat buta politik tapi sok tahu politik. 

Akibat memuji kesabaran Susilo Bambang Yudhoyono mirip Yudistira, saya dihujat sebagai penjilat presiden VI RI. Akibat memuji Agus Harimurti Yudhoyono mewarisi kearif-bijaksanaan ayahnya, saya dihujat sebagai penjilat bakal calon presiden masa depan. Akibat memuji Rizal Ramli mampu membenahi ekonomi Indonesia, saya dihujat buka mulut asal bunyi.

Akibat memuji Moeldoko lulus program doktoral dengan predikat sangat memuaskan atas disertasi pengelolaan kawasan perbatasan, saya dihujat bicara di luar kompetensi.

Kecebong-Kampret
Akibat memuji para peserta 212 tidak melakukan kekerasan, saya dihujat tidak Pancasilais. Akibat memuji Basuki Tjahaja Purnama menolak hak asimilasi demi mencegah kontroversi memecah-belah bangsa, saya dihujat naif.

Akibat memuji Anies Baswedan menolak tawaran menjadi capres untuk tetap menunaikan tugas sebagai gubernur Jakarta, saya juga dihujat naif.

Akibat memuji Hendro Priyono sebagai mahaguru pertama ilmu intelejen di dunia, saya dihujat oleh para pejuang hak asasi manusia. Akibat memuji Gatot Nurmantyo menolak uang suap, saya dihujat sebagai tua bangka bau tanah cari muka.

Akibat memuji Sandyawan Sumardi sebagai tokoh pejuang kemanusiaan sejati, saya dihujat sebagai pendukung gerakan melestarikan kemiskinan.  

Akibat memuji Mahfud MD pilihan paling tepat sebagai cawapres 2019-2024, saya dihujat oleh mereka yang kuatir sang mantan MK menjadi cawapres kapan pun juga.

Maka wajar akibat saya memuji ketajaman pandangan Prabowo Subianto di dalam buku “Paradoks Indonesia: Negara Kaya Raya Tetapi Masih Banyak Rakyat Hidup Miskin” dan sukses membina pencak-silat sehingga mempersembahkan medali emas terbanyak Asian Games XVIII,  saya dihujat sebagai kampret gendut oleh para kecebong.

Sama  wajarnya dengan akibat memuji Joko Widodo berpihak kepada rakyat tergusur akibat di masa kanak-kanak pernah 3 X mengalami derita digusur atas nama pembangunan dan memilih mengunjungi para korban gempa di Lombok ketimbang menghadiri upacara penutupan Asian Games di Jakarta, saya dihujat sebagai kecebong gendut oleh para kampret.[***]


Penulis adalah pendiri Sanggar Pembelajaran Kemanusiaan


Populer

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

Bos Rokok PT Gading Gadjah Mada Dipanggil KPK

Senin, 27 April 2026 | 14:16

Usai Dilantik, Jumhur Tegaskan Status Hukum Bersih dari Vonis 10 Bulan

Senin, 27 April 2026 | 21:08

KPK Dalami Peran Haji Her dan Suryo di Skandal Cukai Rokok

Jumat, 01 Mei 2026 | 20:51

Sikap Adem Ayem Seskab Teddy Mencurigakan

Selasa, 05 Mei 2026 | 02:06

UPDATE

OJK Catat Penyaluran Kredit Tembus Rp 8.659 Triliun, Sektor UMKM Mulai Tunjukkan Perbaikan

Rabu, 06 Mei 2026 | 08:14

Trump Mendadak Hentikan Operasi Project Freedom di Selat Hormuz

Rabu, 06 Mei 2026 | 07:52

Harga Emas Rebound Saat Pasar Pantau Geopolitik dan Data Tenaga Kerja

Rabu, 06 Mei 2026 | 07:23

Sektor Teknologi Eropa Bangkit dari Keterpurukan, STOXX 600 Menghijau

Rabu, 06 Mei 2026 | 07:05

Kemenag Fasilitasi Kepindahan Santri Ponpes Ndolo Kusumo

Rabu, 06 Mei 2026 | 06:45

Dana Wakaf Baitul Asyi untuk Jemaah Haji Aceh Diusulkan Naik

Rabu, 06 Mei 2026 | 06:32

Rudy Mas’ud di Ujung Tanduk

Rabu, 06 Mei 2026 | 06:09

Rakyat Antipati dengan PSI

Rabu, 06 Mei 2026 | 05:38

10 Orang Jadi Korban Penyiraman Air Keras Kurir Ekspedisi

Rabu, 06 Mei 2026 | 05:19

Kapal Supertanker Iran Masuk RI Bukan Dagang Biasa

Rabu, 06 Mei 2026 | 05:08

Selengkapnya