Berita

Dubes Lyudmila Vorobieva/RMOL

Global

Apa Kabar Krimea

KAMIS, 06 SEPTEMBER 2018 | 21:44 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Maret 2014, mayoritas media internasional mengangkat kabar soal penyatuan Krimea dengan Rusia setelah masyarakat di wilayah tersebut menggelar referendum dan memilih memerdekakan diri dari Ukraina.

Hal itu merupakan buntut dari gejolak politik yang terjadi beberapa bulan sebelumnya di Kiev.

Pada saat itu, media-media barat mengangkat istilah 'aneksasi Krimea oleh Rusia.' Namun agaknya kata 'aneksasi' tidak tepat disematkan dalam kasus tersebut.


Pasalnya, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), aneksasi memiliki makna pengambilan dengan paksa tanah, wilayah atau negara lain untuk disatukan dengan tanah, wilayah atau negara sendiri. Dengan bahsa lain, aneksasi sama dengan pencaplokan atau penyerobotan. Sedangkan dalam kasus Krimea, tidak ada penyerobotan atau pemaksaan yang dilakukan oleh Rusia terhadap Krimea.

"Apa yang terjadi di Krimea bukanlah aneksasi melainkan penyatuan kembali," jelas Duta Besar Federasi Rusia untuk Indonesia Lyudmila Vorobieva saat berkunjung ke redaksi Rakyat Merdeka di Jakarta, Kamis (6/9).

Vorobieva secara singkat menjelaskan, Kriema sejak dulu, tepatnya ketika Uni Soviet masih berdiri merupakan bagian dari wilayah Rusia. Semasa Perang Dunia II, Krimea sempat diduduki oleh Jerman sebelum akhirnya Tentara Merah merebut kembali pada 1944.

Sejak saat itu, Krimea berada di bawah pemerintahan Uni Soviet dengan mayoritas warga Rusia dan sebagian warga asli Tatar Krimea.

Namun kemudian di tahun 1954, perdana menteri saat itu, Nikita Khrushchev dengan sejumlah alasan memberikan Krimea ke Ukraina dan pemerintahanan Krimea berada di bawah Ukraina.

"Pada saat itu masih baik-baik saja, karena kita masih satu kesatuan," katanya.

"Jika diibaratkan, Provinsi Bali diberikan ke provinsi lain agar bisa diatur di bawah pemerintahan yang sama namun masih dalam satu kesatuan negara Indonesia," jelas Vorobieva.

Namun, seiring berjalannya waktu, gejolak politik dan situasi internasional mengalami perubahan. Uni Soviet hancur di awal tahun 90-an serta terjadi sejumlah gejolak politik di Krimea dan Ukraina. Banyak warga Krimea yang menolak untuk menjadi bagian dari Ukraina.

Hingga pada puncaknya terjadi di tahun 2014. Tepatnya pasca kudeta presiden Ukraina terpilih Viktor Yanukovych. Kudeta itu memicu terjadinya huru hara di Kiev, di mana pemerintahan baru berupaya menghapus Bahasa Rusia di Ukraina termasuk Krimea. Selain itu juga terjadi diskriminasi yang nyata terhadap warga Rusia di Ukraina.

Hal tersebut jelas membuat geram penduduk Krimea yang walaupun merupakan warga negara Ukraina mereka merupakan orang Rusia dan memiliki bahasa ibu Bahasa Rusia. Mereka yang geram ini pun kemudian membuat gerakan nasionalis yang mendorong terjadinya referendum untuk memerdekakan diri dari Ukraina.

"Mereka paham dengan apa yang mereka lakukan dan memutuskan untuk menentukan nasib sendiri dengan menggelar reverendum," ujar Vorobieva.

Hasil referendum itu, sekitar 90 persen warga menyetujui kemerdekaan diri dan mengajukan diri untuk bergabung kembali dengan Rusia.

"Setelah referendum, pejabat tinggi Rusia melakukan pembahasan dan akhirnya memutuskan untuk menerima Krimea menjadi bagian dari Rusia," sambungnya,

Sejak saat itu, Krimea menjadi wilayah yang kembali bergabung dengan Rusia dan berjalan di bawah pemerintahan Rusia.

Banyak perubahan yang terjadi secara signifikan di Krimea pasca penyatuan kembali dengan Rusia. Hal yang tampak nyata adalah dalam sektor pembangunan infrastruktur terutama yang krusial seperti bandara, jembatan dan rumah sakit.

"Anda akan menemukan Krimea yang jauh dari bayangan sebelumnya. Krimea yang indah, menarik dan modern," ungkap Vorobieva.

Selain itu, pembangunan masyarakat juga terus digenjot oleh Rusia. Salah satu hal yang juga menjadi poin penting adalah pasca penyatuan kembali Krimea dengan Rusia, untuk pertama kalinya, Bahasa Tatar diakui sebagai bahasa resmi Krimea.

"Jadi Krimea memiliki tiga bahasa resmi yakni Rusia, Ukraina, dan Tatar," tutup Vorobieva. [wah]

Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Boikot Raffi Ahmad-Willie Salim Cederai Nilai Demokrasi

Senin, 02 November 2026 | 20:11

UPDATE

Investasi Jakarta Tertinggi Nasional, Tumbuh 22,1 Persen

Rabu, 04 November 2026 | 00:34

Pemerintah Optimis Polri Bakal Bongkar Aktor Intelektual Penyadapan Presiden

Rabu, 04 November 2026 | 00:20

Geledah Pukul 03.20

Rabu, 04 November 2026 | 00:04

Peduli Karhutla, PKSS Salurkan Ribuan Masker dan Susu Steril

Selasa, 03 November 2026 | 23:43

Listyo Sigit Cs Salah Pilih Lawan, Akhirnya Masuk Penjara

Selasa, 03 November 2026 | 23:22

WNA China Praperadilkan BNN di PN Jaktim terkait Narkoba

Selasa, 03 November 2026 | 23:00

Ditanya soal Gibran Ikut Disadap, Yusril: Wallahu A'lam bish-Shawab

Selasa, 03 November 2026 | 22:45

TEI 2026 jadi Pintu Ekspor Produk Sawit dan Pangan Indonesia

Selasa, 03 November 2026 | 22:32

Ini Kronologi Penyadapan Prabowo oleh Listyo Sigit Dkk

Selasa, 03 November 2026 | 22:29

Prabowo Bekali 400 Calon Pemimpin BUMN dengan Nilai Integritas dan Nasionalisme

Selasa, 03 November 2026 | 22:13

Selengkapnya