Berita

Burberry/BBC

Dunia

Peduli Lingkungan, Burberry Stop Bakar Produk Gagal

KAMIS, 06 SEPTEMBER 2018 | 13:59 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Produsen barang mewah Inggris, Burberry, mengumumkan akan menghentikan praktik membakar barang yang tidak terjual atau gagal sesegera mungkin.

Label mode ini juga mengatakan akan berhenti menggunakan bulu asli dalam membuat produknya.

Langkah itu diambil menyusul banyaknya kecaman dari kelompok pecinta lingkungan.


Sebelumnya pada Juli lalu, laporan pendapatan mengungkapkan bahwa Burberry menghancurkan pakaian, aksesoris dan parfum yang tidak terjual senilai 28.6 juta poundsterling pada tahun 2017 untuk melindungi mereknya.

Pasca berita tersebut, banyak kelompok pecinta lingkungan yang geram atas kebijakan Burberry ini.

Pada saat itu, pihak pengecer mengatakan bahwa 2017 adalah tahun yang tidak biasa karena harus menghancurkan produk parfum lama senilai 10 juta poundsterling setelah menandatangani kesepakatan baru dengan perusahaan Amerika Serikat, Coty.

Perusahaan-perusahaan mode termasuk Burberry biasanya memang menghancurkan barang-barang yang tidak diinginkan untuk mencegah mereka dicuri atau dijual dengan harga murah.

Namun menyusul kecaman yang datang, Burberry memutuskan untuk mendaur ulang produk untuk digunakan kembali atau disumbangkan.

Pengecer tersebut telah memulai kemitraan dengan perusahaan mewah yang berkelanjutan, Elvis & Kresse pada tahun lalu yang akan mendorong daur ulang kulit menjadi produk baru selama lima tahun ke depan.

Pada saat yang sama, Burberry juga mendirikan Grup Penelitian Bahan Burberry Futures dengan Royal College of Art untuk menciptakan bahan berkelanjutan baru.

"Kemewahan modern berarti bertanggung jawab secara sosial dan lingkungan," kata kepala eksekutif Burberry, Marco Gobbetti.

"Kepercayaan ini adalah inti bagi kami di Burberry dan kunci kesuksesan jangka panjang kami. Kami berkomitmen untuk menerapkan kreativitas yang sama ke seluruh bagian Burberry seperti yang kami lakukan untuk produk kami," sambungnya seperti dimuat BBC. [mel]

Populer

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Kekesalan JK Dipicu Sikap Gibran dan Serangan Termul

Senin, 20 April 2026 | 12:50

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

Camat hingga Dirut PDAM Kota Madiun Digarap KPK

Kamis, 16 April 2026 | 13:50

UPDATE

Wacana Pileg 2029 Seperti Liga Sepak Bola Mencuat, Partai Baru Tarkam Dulu

Sabtu, 25 April 2026 | 01:54

Bahlil Bungkam soal Isu CPO dan Kenaikan Harga Minyakita

Sabtu, 25 April 2026 | 01:31

Yuddy Chrisnandi Ajak FDI Bangun Dapur MBG di Daerah Tertinggal

Sabtu, 25 April 2026 | 01:08

Optimalisasi Selat Malaka Harus Lewat Infrastruktur Maritim, Bukan Pungut Pajak

Sabtu, 25 April 2026 | 00:51

Kejari Jakbar Fasilitasi Isbat Nikah Massal bagi 26 Pasutri

Sabtu, 25 April 2026 | 00:30

Kemampuan Diplomasi Energi Bahlil Sering Diolok-olok Netizen

Sabtu, 25 April 2026 | 00:09

Kinerja Bareskrim Dinilai Makin Tajam Usai Bongkar Kasus Strategis

Jumat, 24 April 2026 | 23:58

Ketegasan dalam Peradilan Militer Menyangkut Keamanan Negara

Jumat, 24 April 2026 | 23:33

Kebijakan Bahlil Dicap Auto Pilot dan Sering Bahayakan Rakyat

Jumat, 24 April 2026 | 23:09

KPK Diminta Sita Aset Kalla Group Jika Gagal Bayar Proyek PLTA Poso

Jumat, 24 April 2026 | 22:48

Selengkapnya