Berita

Dahlan Iskan

Proton Rasa Mitsubishi Jadi Rasa Geely

SENIN, 27 AGUSTUS 2018 | 05:00 WIB | OLEH: DAHLAN ISKAN

PROTON bangkit lagi. Setelah dua kali hampir mati. Setelah Geely masuk berinvestasi.

Bulan depan, mobil jenis barunya diluncurkan: SUV. Ikut-ikutan merk lain.

Pasar SUV itu memang besar. Lagi disenangi. Mengakhiri era sedan. Yang pernah jadi lambang gengsi. "Proton harus kembali jadi raja di negaranya sendiri.''


Yang mengucapkan itu Dr Li Chenrong. CEO baru Proton. Mewakili pemegang saham baru: Geely. Asal Tiongkok. Tepatnya dari Hangzhou. Propinsi Zhejiang. Dekat Shanghai.

Proton SUV itu diberi nama aneh: Boyue. Salah satu andalan Geely di Tiongkok. Saya tidak menemukan: Boyue itu artinya apa. Tulisan mandarinnya saya tahu: 博越. Tapi saya sulit mencari artinya. Bisakah ditafsirkan 'lebih kaya'?

Yang jelas Geely kini memang lebih kaya. Sekarang sudah menjadi produsen mobil nomor dua. Di Tiongkok. Setelah BYD.

Nasib Li Shufu memang baik. Lahir di Tiongkok. Memulai usaha mobilnya di sana. Yang pejabat pemerintahnya tidak menghina kemampuan anak bangsanya.

Padahal mobil pertama yang dibuat Li Shufu sungguh sederhana pasa tahun 1998.  Mirip Suzuki Carry. Tapi jauh lebih jelek lagi. Bus mini yang sangat mini. Sangat-sangat sederhana. Dibuat di bengkelnya. Bukan di pabrik. Tidak seperti mobil pada umumnya.

Saya jadi ingat Dasep Ahmadi. Yang membuat mobil listrik pertama. Atau Ricky Elson. Yang membuat jenis lainnya.

Mobil yang dibuat Dasep itu, yang hijau itu, yang pernah saya coba itu, jauh lebih baik. Dari mobil pertama yang  dibuat Geely.

Bedanya, Geely dapat izin masuk pasar. Dengan kualitas apa adanya itu. Pemerintahnya mendukung.

Siapa sangka Geely jadi raja.  Terbesar kedua. Hanya dalam tempo 20 tahun.

Prinsip awalnya sederhana. Biar pun jelek tetap saja ada pasarnya. Karena murah. Itu yang membuat Li Shufu belajar. Bikin yang lebih baik. Tapi belum juga baik. Li Shufu terus belajar. Keras. Terus bekerja. Keras. Kian baik.

Tidak ada pihak yang ingin membunuhnya. Saat Geely baru lahir. Akhirnya Geely bisa bikin mobil beneran. Punya pabrik. Punya tim desain. Punya segala-galanya.

Toyota marah. Geely dianggap menjiplak desain Toyota Aygo. Roll Roys juga sewot. Mobil super mewahnya di-copy Geely. Jadi Roll Roys rasa Geely. Atau Geely GE tampak Roll Roys.

Li Shufu jalan terus. Inovasi terus. Jualan terus. Sangat maju.

Lalu bikin kejutan. Tiba-tiba membeli Volvo. Yang sudah dimiliki Ford. Lalu membeli Lotus. Merk mobil Inggris itu.

Lalu beli saham Marcedez Benz. Jadilah Li Shufu pemegang saham perorangan terbesar di Mercy: 12 persen.

Ia kemudian juga beli Shanghai Maple Dan banyak lagi. Jadilah Li Shufu orang terkaya no 63 di Tiongkok.

Terakhir Geely beli Proton. Mobil Malaysia itu. Memegang 49,9 persen sahamnya.

Mahathir pun senang. Setelah minggu lalu ke Tiongkok. Antara lain ke Geely.

Mahathir tampak duduk di dalam Geely... eh... Proton. Di belakang kemudi. Mendengarkan dengan serius. Penjelasan gadis yang duduk di sebelahnya.

Gadis itu dari keluarga Tionghoa Malaysia. Yang lagi kuliah di sana. Yang sudah menguasai tatacara mengemudikan Proton baru.

Yang bisa dikendalikan dengan suara. Lewat artificial intellegence. "Buka jendela depan kiri,'' kata gadis itu. Maka kaca jendela di sebelah Mahathir membuka.

''Dengan Boyue ini Proton akan mengalahkan Honda. Di Malaysia,'' ujar CEO Proton, Dr Li Chunrong.

Kabarnya Geely Boyue akan dijual jauh lebih murah dibandingkan dengan Honda CRV. Proton pun akan bangkit lagi. Akan menyerbu Indonesia pula.

Yang menjual Proton ke Geely sebenarnya Najib Razak. Saat Najib jadi perdana menteri.

Waktu itu Mahathir marah. Waktu masih oposisi. Kini Mahathir senang.
Setelah jadi perdana menteri lagi. Apalagi setelah melihat sendiri. Pabrik Protonnya di Geely.

Proton City akan ramai lagi. Yang di negara bagian Perak  itu.Yang karyawannya 12.000 itu. Yang segera memproduksi Geely... eh Proton...lagi.

Mahathir yang melahirkannya. Mahathir pula yang akan membangkitkannya.  Dulu Proton rasa Mitsubishi. Kini Proton rasa Geely.  [***]

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Langgar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Langgar HAM, Segera Tangkap Taufik Hidayat dan Dihukum Setimpal!

Senin, 22 Juni 2026 | 15:05

Berpeluang Kalah, Wajar Pengacara Profesional Menolak Bela Jokowi

Kamis, 25 Juni 2026 | 07:47

UPDATE

Komisi XIII DPR Soroti Perlindungan Hukum Pelaku Usaha yang Tabrak Aturan

Senin, 29 Juni 2026 | 12:22

Ketika Jalanan Pindah ke Dalam Genggaman

Senin, 29 Juni 2026 | 12:07

Gaya Komunikasi Presiden Prabowo Berisiko Menenggelamkan Kinerja Pemerintah

Senin, 29 Juni 2026 | 12:01

KPK Periksa Saksi Swasta dalam Kasus Gratifikasi Produksi Batu Bara di Kukar

Senin, 29 Juni 2026 | 11:54

Harga Bapok Kompak Anjlok, Telur Ayam Turun Jadi Rp28.850/Kg

Senin, 29 Juni 2026 | 11:32

Kasus YTR Jadi Alarm, Garnita NasDem Minta Negara Perkuat Perlindungan Perempuan

Senin, 29 Juni 2026 | 11:15

Safari Politik Jokowi Dibungkus Ritual Adat untuk Dongkrak Publisitas PSI

Senin, 29 Juni 2026 | 11:13

Petugas Haji Masih Bersiaga hingga Kepulangan Kloter Terakhir

Senin, 29 Juni 2026 | 11:07

Kenaikan Beruntun CPO Malaysia Didorong Sentimen Minyak Global

Senin, 29 Juni 2026 | 10:57

Prabowo Ingatkan Ancaman AI, Akademisi Diminta Antisipasi Dampaknya

Senin, 29 Juni 2026 | 10:52

Selengkapnya