Berita

Dunia

Presiden: Ekonomi Merosot, Kemiskinan Meningkat

SABTU, 18 AGUSTUS 2018 | 12:46 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Presiden Argentina Mauricio Macri mengatakan bahwa lebih banyak orang Argentina saat ini yang kemungkinan hidup dalam kemiskinan dibandingkan dengan tahun lalu.

Hal ini disampaikan ketika ekonomi negara tersebut meluncur ke arah resesi setelah krisis mata uang dan kekeringan parah yang merusak hasil pertanian.

Ekonomi Argentina sendiri diketahui telah terpukul pada tahun 2018 ini setelah krisis mata uang peso mendorong pemerintah untuk mendapatkan kredit senilai 50 miliar dolar AS dari Dana Moneter Internasional.


Peso Argentina menyentuh rekor terendah lagi bulan ini karena investor melarikan diri dari aset pasar berkembang karena kekhawatiran tentang ekonomi Turki.

"Devaluasi ini membawa rebound inflasi, dan inflasi adalah penggerak kemiskinan terbesar, dan sayangnya, kita akan kehilangan sebagian keuntungan yang telah kita buat dalam pengentasan kemiskinan," kata Macri pada konferensi pers di provinsi barat laut Jujuy.

Tingkat inflasi 12 bulan Argentina sendiri adalah 31,2 persen pada bulan Juli.

Sementara itu, menurut badan statistik resmi Argentina, Indec, kemiskinan di Argentina menurun tahun lalu menjadi 25,7 persen dari 30,3 persen pada tahun 2016.

Sedangkan Observatorium Sosial Argentina tentang Utang Sosial, sebuah lembaga pemikir yang berafiliasi dengan Universitas Katolik Argentina mengatakan bulan lalu mereka memprediksikan ada peningkatan 2-3 persen dalam tingkat kemiskinan pada 2018.

Para ekonom memperkirakan ekonomi akan berkontraksi 0,3 persen tahun ini dan tumbuh 1,5 persen tahun depan.

"Tahun depan ekonomi akan tumbuh," kata Macri.

"Tidak banyak, tapi itu akan tumbuh,"tambahnya.

Pemerintah Macri mulai menerbitkan statistik kemiskinan pada tahun 2016 dalam pembalikan dari pemerintah populis sebelumnya, yang menghentikan penerbitan tingkat kemiskinan pada tahun 2013. Pada saat itu, pemerintah mengatakan hanya 5 persen dari Argentina hidup dalam kemiskinan, tingkat yang lebih rendah dari Jerman. [mel]

Populer

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

UPDATE

Tinjau Situs Bersejarah

Jumat, 26 Juni 2026 | 03:59

KPK Harus Berani Ungkap 'Borok' Sejumlah Forwarder di Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 03:40

Kalkulasi Strategis Akuisisi Rudal BrahMos

Jumat, 26 Juni 2026 | 03:27

Gabungan Aliansi BEM Nasional Tolak Penunggangan Gerakan Mahasiswa

Jumat, 26 Juni 2026 | 02:57

Siapa Sebenarnya Pengkhianat?

Jumat, 26 Juni 2026 | 02:40

Perlindungan Warga Sipil Papua Harus Berbasis Riset dan Demokrasi

Jumat, 26 Juni 2026 | 02:20

Ini Pesan Panglima TNI kepada 1.737 Perwira Remaja yang Baru Dilantik

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:58

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Berikut Usulan Perpemindo ke KSP soal Penempatan PMI

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:01

Jembatan Pemikiran Frans Seda

Jumat, 26 Juni 2026 | 00:53

Selengkapnya