Berita

Politik

Ternyata Ada Tawaran Mencari Tokoh Netral Di Balik Kicauan Tentang Jenderal Kardus

SABTU, 11 AGUSTUS 2018 | 23:05 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Drama Jenderal Kardus lawan Jenderal Baper yang mewarnai proses pencalonan Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno masih dibicarakan banyak kalangan. Drama ini dimulai dari kicauan Wakil Sekjen Demokrat Andi Arief, dua hari menjelang batas akhir pendaftaran pasangan capres dan cawapres.

Seperti petir di siang bolong, Andi Arief menuding Prabowo Subianto sebagai Jenderal Kardus karena lebih mementingkan uang daripada perjuangan.

Tudingan Andi Arief ini dibalas Wakil Ketua Umum Gerindra Arief Poyuono yang mengatakan SBY lah yang baper dan suka mengeluh.


Partai Demokrat pada akhirnya memang memberikan dukungan (tertulis) pada pasangan Prabowo dan Sandiaga Uno. Ketika mengantarkan pasangan itu ke KPU, Jumat siang (10/8), Ketua Umum Partai Demokrat SBY tidak hadir. Dia diwakili putra sulungnya yang juga Komandan Kogasma Agus Harimurti Yudhoyono.

Sampai kini kicauan Andi Arief tentang Jenderal Kardus masih jadi pertanyaan.

Andi Arief yang pernah bertugas sebagai Staf Khusus Presiden, pagi tadi (Sabtu, 11/8) memberikan penjelasan mengenai alasan mengapa dirinya berkicau soal Jenderal Kardus dan kabar Partai Keadilan Sejahtera (PKS) serta Partai Amanat Nasional (PAN) menerima masing-masing Rp 500 miliar dari Sandiaga Uno.

“Besar harapan saya dan Partai Demokrat, Prabowo memililih cawapres lain agar niat baik tidak rusak,” kata dia.

Menurut Andi Arief soal mahar untuk PKS dan PAN itu didengarkan langsung petinggi Partai Demokat yang terdiri dari Sekretaris Jenderal Hinca IP Pandjaitan, Wakil Ketua Umum Syarief Hassan dam Sekretaris Majelis Tinggi Amir Syamsuddin dari tim kecil Partai Gerindra yang dipimpin Fadli Zon dan Fuad Bawazier. Mereka bertemu pada Rabu sore (8/8) sekitar pukul 16.00 WIB.

“Soal mahar Rp 500 M untuk masing-masing pada PAN dan PKS itu yang membuat malam itu saya mentwit jendral kardus,” kata Andi.

Kamis pagi (9/8), untuk memperbaiki keadaan, Prabowo dan SBY kembali bertemu singkat di kediaman SBY di Mega Kuningan. Dalam pertemuan itu SBY mengusulkan agar yang menjadi cawapres bukan AHY, bukan Sandiaga Uno, bukan Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan, juga bukan Ketua Umum PKS Salim Segaf Al Jufri. Zulhas setuju agar yang dipilih adalah tokoh netral.

Prabowo, menurut Andi Arief, tetap tidak mau mengindahkan saran SBY soal tokoh netral. Sementara Zulhas dan Salim Al Jufri dari sebelumnya ngotot meminta tokoh PAN dan PKS menjadi setuju apabila yang dipilih adalah Sandiaga Uno.

Andi Arief tak mau mengganggu keputusan yang sudah diambil SBY untuk mendukung Prabowo dan Sandiaga Uno. Tetapi, di saat bersamaan dia juga ingin agar publik mengerti apa yang terjadi.

Apalagi, dia mendengar PKS dan PAN mengancam akan membawa urusan Jenderal Kardus dan Jenderal Baper ini ke ranah hukum.

“Saya siap, dan dalam kesempatan ini menjelaskan pada publik,” demikian Andi Arief. [dem]

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Ganti Rugi Lahan Belum Tuntas, Warga Medan Polisikan Developer

Minggu, 07 Juni 2026 | 01:40

iPhone Raffi Ahmad Dikirim dari AS Tanpa Disebut dalam Dokumen

Selasa, 09 Juni 2026 | 00:01

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

UPDATE

Dialog BEM di Makassar: Gerakan Mahasiswa Harus Independen dan Berbasis Data

Rabu, 17 Juni 2026 | 20:17

DPR Apresiasi Perbaikan Haji di Era Prabowo, Antrean Jemaah Turun Jadi 26 Tahun

Rabu, 17 Juni 2026 | 20:14

KPK Soroti Nama Besar yang Muncul dalam Persidangan Kasus Bea Cukai

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:59

Polri Serius Garap Universitas Kepolisian yang Bisa Diakses Masyarakat Umum

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:42

Tiyo Ardianto dan Tradisi Panjang Anak Rakyat dalam Sejarah Pergerakan Indonesia

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:33

RUU Perkoperasian Buka Jalan Koperasi Jadi Soko Guru Perekonomian

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:25

Masyarakat Kemuning Ngadu ke BAM DPR soal Klaim Kawasan Hutan

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:21

FPHI Ultimatum OJK, Minta Kejelasan Laporan Keuangan Danantara

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:10

KPK Tagih Perbaikan Sistem MBG di Era Kepala BGN Baru

Rabu, 17 Juni 2026 | 18:56

Kinerja Bertumbuh, Pelindo Setor Rp7,81 Triliun kepada Negara

Rabu, 17 Juni 2026 | 18:50

Selengkapnya