Berita

Foto/RMOL

Politik

Gandeng AHY Yang Kartu Mati, Prabowo Sulit Hadapi Jokowi

SELASA, 07 AGUSTUS 2018 | 20:22 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto akan sulit menghadapi Joko Widodo pada Pilpres 2019 jika berpasangan dengan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). AHY dianggap kartu mati.

"Prabowo-AHY bukan pasangan yang bisa membuat orang-orang yang selama ini setuju ganti presiden plong. Banyak yang akan kecewa. Dukungan akan kurang maksimal," kata Ketua Koalisi Rakyat Pemerhati Jakarta Baru (Katar), Sugiyanto, kepada Kantor Berita Politik RMOL, Selasa (7/8).

Menurut Sugiyanto, dukungan terhadap Prabowo tidak akan kempes jika cawapres yang mendampinginya figur yang bersih dan diterima masyarakat.


"(AHY) di Pilgub DKI saja kalah. Silviana Murni (cawagub AHY) dilaporkan terus ke KPK. Jelang pencoblosan, AHY 'dibom atom' oleh Antasari Azhar. Terkait kriminalisasi Antasari ketika jadi Ketua KPK. Nah di Pilpres nanti bisa saja Antasari mengeluarkan lagi bom atomnya," kata Sgy, demikian Sugiyanto disapa.

"Kalau tidak, bisa saja yang diserang SBY. Dua periode jadi presiden sudah pasti membuat SBY punya banyak musuh. Serangan terhadap SBY akan berdampak pada elektabilitas AHY," sambung dia.

Sgy mengingatkan, sejak awal koalisi mengusung Prabowo dibangun PKS, PAN dan Gerindra. Jika tiba-tiba kader Demokrat yang mendapat tiket cawapres maka secara tidak langsung menampikan komitmen PKS dan PAN menatap Pilpres 2019 bersama Gerindra.

Secara historis koalisi PAN, PKS dan Gerindra lebih lama terjalin. Sementara Demokrat, misalnya di Pilpres 2014, bukan partai yang mendukung Prabowo. Demokrat abstain. Padahal saat itu Hatta Rajasa yang merupakan cawapres Prabowo adalah besan SBY.

"Pilpres memang membutuhkan dana yang sangat besar. Itu nggak bisa dinapikan. Tapi jauh lebih penting kepercayaan dari masyarakat. Prabowo harus memilih figur cawapres yang disukai masyarakat. Misalnya Rizal Ramli atau Ustad Abdul Somad. Soal logistik yang besar akan teratasi dengan kontribusi masyarakat," tukas Sgy.[dem]

Populer

Oknum Prajurit di Lokasi Penggeledahan di Luar Mandat TNI

Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:29

10 Jalan Febrie Adriansyah Menuju Bebas

Minggu, 19 Juli 2026 | 05:24

Hotman Paris Harus Minta Maaf

Minggu, 19 Juli 2026 | 17:02

Saat Konglomerat Tan Kian Diamankan Polisi

Sabtu, 11 Juli 2026 | 21:50

Hotman Paris Tegaskan Tuduhan Keterlibatan Febrie dalam Kasus Asabri Salah Total

Sabtu, 18 Juli 2026 | 02:58

Permainan Kejagung Terlalu Kasar soal Penghentian Pengumpulan Data Program MBG

Rabu, 15 Juli 2026 | 05:14

Penetapan Tersangka Tetap Sah Meski Belum Diperiksa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 12:35

UPDATE

Megawati: Kudatuli adalah Simbol Ketidakadilan!

Selasa, 21 Juli 2026 | 23:38

Densus 88 Ciduk Dua Pria Terlibat Jaringan Terorisme di Ciamis dan Lampung

Selasa, 21 Juli 2026 | 23:11

PDIP Sebut Babinsa Awasi Wajib Pajak Salahi Wewenang

Selasa, 21 Juli 2026 | 22:47

Purbaya Buka Peluang Ubah Status KEK di Bali untuk PFII

Selasa, 21 Juli 2026 | 22:39

Megawati Minta Pramono dan Doel Kembalikan TIM jadi Tempat Seniman

Selasa, 21 Juli 2026 | 22:30

Warga Kwini 8 Minta Sengketa Diselesaikan Lewat Jalur Hukum

Selasa, 21 Juli 2026 | 22:28

PPP Dukung Tindakan Tegas Polri Jaga Kamtibmas di Jakarta

Selasa, 21 Juli 2026 | 22:14

KPK Terbitkan Dua Sprindik Pengembangan Kasus Bea Cukai, Sudah Ada Tersangka

Selasa, 21 Juli 2026 | 21:31

Pakar Soroti Modus Dugaan TPPU Febrie dari Safe House hingga Temuan Emas Batangan

Selasa, 21 Juli 2026 | 21:24

Kiprah Mantri BRI Menjadi Penggerak Pertumbuhan Ekonomi Kerakyatan

Selasa, 21 Juli 2026 | 21:14

Selengkapnya