Berita

Rizal Ramli/Net

Politik

RR: Neoliberal, Biang Kerok Ekonomi Indonesia Gagal Tumbuh Pesat

SELASA, 07 AGUSTUS 2018 | 12:39 WIB | LAPORAN: WIDIAN VEBRIYANTO

Hampir semua negara di benua Asia hidup miskin pada 45 tahun yang lalu. Rata-rata penduduknya hanya berpenghasilan 100 dolar AS per tahun.

Begitu kata ekonom senior Dr Rizal Ramli dalam Talk Show Bravos Radio bertajuk 'Ngobrol Bareng Tokoh' usai berkunjung ke Pasar Kramat Jati, Senin (6/8).

Namun demikian, sambungnya, pada hari ini banyak negara Asia yang bisa berlari kencang. Tingkat perekonomian mereka bahkan menyaingi tingkat kesejahteraan negara-negara di Eropa Barat.


“Di Korea itu sekara 44 ribu dolar, 13 kali dari kita. Taiwan 13 kali dari kita, Malaysia 3 kali dari kita, dan Vietnam yang miskin kini hampir menyamai kita,” ujarnya Menko Perekonomian era Presiden Abdurrahman Wahid itu.

Kemudian timbul pertanyaan tentang bagaimana negara-negara itu bisa berlari kencang meninggalkan negara Asia lain, seperti Indonesia.

RR, begitu dia disapa, mencatat ada beberapa penyebab Indonesia bisa tertinggal jauh meski secara kapasitas dan sumber daya alam tidak kalah dengan negara lain. Pertama adalah tingkat korupsi yang masih menjadi masalah akut di Indonesia.

“Memang benar hari ini pun perilaku korupsi kita tidak berubah,” jelasnya.

Selain itu, model pembangunan yang dianut Indonesia juga menjadi biang kerok negeri tidak maju-maju. Indonesia selama ini menggunakan model pembangunan dari Bank Dunia, neoliberal.

“Model pembangunan ini tergantung utang. Begitu ekonomi tinggi, utangnya nambah, jadi harus dikurangi. Jadi ada semacam rem otomatisnya,” jelas Rizal.

Mantan Menko Kemaritiman itu menyebut bahwa model pembangunan neoliberal telah membuat perekonomian Indonesia sejak zaman Soeharto hanya bisa tumbuh paling tinggi 7 persen.

“Jepang China yang tidak pakai mengandalkan model Bank Dunia bisa tumbuh 12 persen selama 20 tahun, sehingga bisa kejar negeri Barat,” tukasnya. [ian]

Populer

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Kekesalan JK Dipicu Sikap Gibran dan Serangan Termul

Senin, 20 April 2026 | 12:50

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

UPDATE

Kebijakan Energi Harus Seimbang dengan Perlindungan Daya Beli Masyarakat

Minggu, 26 April 2026 | 08:05

Lewat Seminar di Wonosobo, Jateng Nyatakan Perang Terhadap Hoaks

Minggu, 26 April 2026 | 07:36

Jemaah Haji Diminta Selalu Bawa Kartu Nusuk dan Dokumen Resmi

Minggu, 26 April 2026 | 07:32

Menkop Optimistis Kopdes Perkuat Ekonomi Masyarakat

Minggu, 26 April 2026 | 07:03

Narkoba Melahirkan Rezim TPPU

Minggu, 26 April 2026 | 06:42

KH Imam Jazuli: Kiai Transformatif Cum Saudagar Gagasan

Minggu, 26 April 2026 | 06:23

Pertemuan Prabowo-Kapolri Mengandung Makna Kebangsaan Mendalam

Minggu, 26 April 2026 | 06:03

Satu Keluarga dengan Lima Nyawa Melayang di Barito Utara

Minggu, 26 April 2026 | 05:48

Tanpa Kubu Tetap

Minggu, 26 April 2026 | 05:13

Pertemuan Menhan dengan Para Jenderal Bukan Sekadar Temu Kangen

Minggu, 26 April 2026 | 05:09

Selengkapnya