Berita

Foto/Net

Politik

Jokowi: Jangan Dipotong...

Soal Pesan Berantem
SELASA, 07 AGUSTUS 2018 | 11:09 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Presiden Jokowi akhirnya meluruskan perihal pesan "berantem" yang disampaikan di depan relawannya, Sabtu lalu. Eks Walikota Solo ini meminta pernyataannya tidak dipotong-potong.

Menurut Jokowi, jika ingin tahu makna sebenarnya, dengarkan secara utuh. Soalnya, kalau dipotong-potong muncul kesan pernyataannya berbau provokasi, mengajak masyarakat berkelahi secara fisik. "Ditonton yang komplet, dong," ujarnya kepada wartawan saat meninjau venue Jetski di Ancol, Jakarta Utara, kemarin.

Jokowi keras membantah memprovokasi masyarakat untuk berkelahi. Yang paling utama disampaikan dalam pesannya kepada relawan saat itu yakni mengajak publik menjaga persatuan dan kerukunan dan tidak saling membangun kebencian.


"Saya kan menyampaikan, aset terbesar kita adalah persatuan, kerukunan. Oleh sebab itu, ya jangan sampai membangun kebencian, saling mencela, saling menjelekkan. Saya sampaikan itu. Coba dirunut ke atas, jangan diambil sepotongnya saja. Nanti enak yang mengomentari, kalau seperti itu. Dilihat secara keseluruhan, konteksnya kelihatan,"  jelas Jokowi.

Mendagri Tjahjo Kumolo ikut meluruskan pernyataan Jokowi. Seruan Jokowi kepada relawan untuk siap berantem tidak bermaksud mendorong terjadinya kekerasan di Pilpres 2019.

Jika mendengarkan atau membaca pidato Jokowi secara utuh, Tjahjo memastikan publik tak akan salah paham dan tak salah memaknai seperti yang menjadi perdebatan beberapa hari ini. "Tolong didengar secara utuh pidato Bapak Presiden secara utuh dan runtut, tidak akan salah paham," ujar politisi PDIP ini.

Menanggapi penjelasan Jokowi, netizen di link komentar berita terkait banyak yang setuju. Namun, Jokowi diminta berhati-hati mengeluarkan pernyataan jelang Pilpres. "Biasa udah deket pemilu, selalu dicari salah nya, bukan bagusnya yang diliat," tulis akun @babamomo disambut pembaca bernama Yusuf Kurniawan. "Pak de, belajar dari kasus Ahok. Kubu sebelah sadis dalam potong video," tulisnya diamini @JuraganSahroni. "Lobang sekecil apapun, syaiton akan memanfaatkannya semaksimal mungkin."

Akun @ArifinAsyafa meminta pelaku pemotongan video ditangkap. "Cuman usul. Jangan terulang kembali kasus Pak Ahok. Tolong pak kalau yang berani mengedit video bapak tangkap segera," saran dia dibenarkan Rony Gunawan. "Usut tuntas pak polisi. Ini namanya kriminal." Akun @RobinKanaya menilai yang disampaikan Jokowi benar dan tak bermasalah. "Pidato Presiden Jokowi selaras dengan sabda Rasulullah Saw wahai manusia, janganlah kamu bercita-cita untuk bertemu musuh, tetapi apabila kamu bertemu musuh maka jangan lari," tulisnya.

Di Twitter, ada tweeps yang tak mau mendengar penjelasan Jokowi. "Kemaren-kemaren "gebuk" sekarang "kelahi", preman," kicau @ReyArton disamber @hadianeve. "Kenapa tidak memilih kata kata yang mudah dipahami, tidak perlu diminta untuk dipahami."

Akun @yadhijashar memberi kuliah bahasa. "Dalam bahasa ada dikenal istilah konteks, koteks, medan wacana, pelibat wacana, dll. Jika disimak utuh, pernyataan Presiden Jokowi jelas bukan kias. Tak ada makna lain. Berantem di situ bermakna berkelahi, begoco, belage, tawuran, dll," kicaunya. Akun @h_prasetyanto langsung menjawab. "Berantem ide, berantem gagasan, berantem program, dalam diskusi yang sopan, saling menghargai, tanpa permusuhan, tanpa menghina, tanpa mencaci, untuk Indonesia Raya. Saya rasa itu makna kalimat Bapak @jokowi," cuitnya.

Akun @MhangunMr menyarankan Jokowi tak usah menanggapi. "Pak De Jokowi gak usah ditanggapi para penanggap pidato bapak, sebagus apapun narasi-narasi & diksi pidato bapak pasti mereka plesetkan," kicau dia.

Akun @nieke_aereta punya komentar lain. "Bagi pendukung cerdas Pak Jokowi, pasti menangkap utuh kutipan perkataan Beliau dengan positif. Tapi untuk pendukung Pak Jokowi yang napsuan, tensi tinggi, rekam jejaknya tukang hadang atau persekusi, teror, bikin rusuh LP Cipinang, pasti yang ditangkap otak mereka bagian "BERKELAHI". Ini yang repot," cuitnya. ***

Populer

Profil Achmad Syahri Assidiqi: Legislator Gerindra 'Gamer' Anak Eks DPR RI

Selasa, 12 Mei 2026 | 20:12

Jangan Biarkan Dua Juri Final LCC Lolos dari Sanksi UU ASN

Kamis, 14 Mei 2026 | 12:43

Tetangga Sudah Mendahului, Indonesia Masih Berpidato

Jumat, 15 Mei 2026 | 05:30

Jokowi Boleh Keliling Indonesia Asal Tunjukkan Ijazah Asli

Rabu, 20 Mei 2026 | 01:33

Tuntutan Seret Jokowi ke Pengadilan terkait Kasus Nadiem Mengemuka

Jumat, 15 Mei 2026 | 00:02

Bebaskan Nadiem, Lalu Adili Jokowi

Senin, 18 Mei 2026 | 02:46

Pujian Anies ke JK Benamkan Ade Armando Cs

Senin, 18 Mei 2026 | 04:20

UPDATE

Perkuat Inovasi, Anak Usaha Pertamina Sabet Penghargaan CCSEA Enam Kali

Sabtu, 23 Mei 2026 | 00:19

Tio Aliansyah Diadukan ke DKPP Gegara Ikut Helikopter Bareng Anggota KPU

Jumat, 22 Mei 2026 | 23:55

Legislator Kebon Sirih Ingin jadi Batman Benahi Gotham City

Jumat, 22 Mei 2026 | 23:35

173 Bandit Jalanan di Jadetabek Sukses Diringkus Polisi

Jumat, 22 Mei 2026 | 23:15

Kejagung Didesak Bongkar Pihak Terkait Bos Tambang di Kalbar Tersangka Korupsi

Jumat, 22 Mei 2026 | 22:53

Tata Kelola RSUD dr Soedarso Disorot, Utang Pengadaan Obat Tembus Rp29 Miliar

Jumat, 22 Mei 2026 | 22:49

Energy AdSport Challenge Wadah Mahasiswa Berprestasi Jalur Non-Akademis

Jumat, 22 Mei 2026 | 22:47

40 Warga Binaan Sumsel Dipindah ke Nusakambangan

Jumat, 22 Mei 2026 | 22:33

Komisioner Pertamina: Perempuan Jangan Takut Masuk Dunia STEM

Jumat, 22 Mei 2026 | 22:15

Fraksi PKB Bakal Panggil Kapolda dan Kajati Kalbar

Jumat, 22 Mei 2026 | 22:12

Selengkapnya