Berita

Sri Mulyani/Net

Bisnis

Sri Mulyani Kegirangan

Ekonomi Tumbuh 5,27 Persen
SELASA, 07 AGUSTUS 2018 | 10:49 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi kuartal II-2018 sebesar 5,27 persen. Angka tersebut tertinggi di era pemerintahan Jokowi-JK. Capaian tersebut masih di bawah target, namun sedikit membuat pemerintah tersenyum.

 Kepala BPS Kecuk Suhari­yanto mengungkapkan, pertum­buhan ekonomi kuartal II-2018 menanjak salah satunya dipicu momen Ramadan dan Lebaran.

"Kenaikan konsumsi rumah tangga menjadi kontributor terbesar pada pertumbuhan kuar­tal II-2018," ungkap Kecuk di Jakarta, kemarin.


Kecuk menuturkan, seluruh komponen memberikan kon­tributor pertumbuhan ekonomi kuartal II-2018. Dia merinci, konsumsi rumah tangga tercatat tumbuh 5,14 persen, lebih baik dibandingkan periode sama tahun lalu 4,95 persen.

Investasi tercatat tumbuh, 5,87 persen, lebih tinggi dibanding­kan periode sama tahun lalu 5,35 persen. kspor tercatat melonjak 7,7 persen, lebih tinggi dua kali lipat dibandingkan periode sama tahun lalu yaitu 3,36 persen. Dan, konsumsi pemerintah tum­buh 5,36 persen berbalik dari pertumbuhan negatif 1,93 persen pada periode sama tahun lalu.

"Realisasi itu dipengaruhi be­lanja pegawai untuk pembayaran THR, belanja barang, dan belanja bantuan sosial," paparnya.

Kecuk menuturkan, sektor produksi juga mempengaruhi pertumbuhan ekonomi pada kuartal II-2018. Menurutnya, pertanian, industri pengolahan, dan perdagangan mengalami peningkatan.

Sekadar informasi, pertum­buhan ekonomi kuartal II-2018 masih di bawah target yang ditetapkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja negara (APBN) sebesar 5,4 persen. Namun demikian, capaian terse­but cukup bagus karena di luar perkiraan.

Menteri Keuangan (Men­keu) Sri Mulyani happy dengan capaian tersebut. "Ini di atas yang kami perkirakan. Mungkin Anda ingat, kalau nggak ingat, di DPRkami memprediksi pada kuartal IIpertumbuhan ekonomi 5,16 sampai 5,17. Jadi kalau sekarang 5,27, itu lebih tinggi," ujar Ani-panggilan akrab Sri Mulyani di Istana Presiden, Jakarta, kemarin.

Ani menilai, pertumbuhan ekonomi kuartal II-2018 tidak lepas dari pengaruh kebijakan yang diambil pemerintah. Antara lain, libur panjang, pemberian Tunjangan Hari Raya (THR), dan stabilitas harga pangan.

"Apa yang kita lakukan berarti menimbulkan pengaruh yang cukup bagus untuk kuartal II," imbuhnya.

Ani menuturkan, dari catatan kinerja ekonomi kuartal II-2018, kinerja investasi di bawah harapan. Ani menduga, hal tersebut terjadi karena faktor adanya libur panjang. "Itu harus kita sikapi secara hati-hati, apakah kemarin karena libur panjang, karena dari manufaktur juga rendah, jadi mungkin ada kore­lasinya," katanya.

Belum optimalnya kinerja investasi, lanjut Ani, menjadi pekerjaan rumah pemerintah untuk menggenjotnya. Selain itu, kinerja ekspor nilainya masih lebih rendah dari impor.

Lebih Baik Dari Brazil


Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan juga happy dengan pertumbuhan ekonomi kuartal II-2018. Menurutnya, capaian tersebut menunjukkan pereko­nomian Indonesia tetap ter­jaga meskipun ekonomi global tengah bergejolak.

"Jika melihat negara lain yang terdampak pelemahan ekonomi global, Indonesia lebih baik dari kondisi India dan Brazil," ungkap Luhut.

Selain pertumbuhan ekonomi, Luhut mengungkapkan, pelemahan mata uang dialami Indonesia juga tidak seburuk negara lain. Posisi Indonesia di tengah-tengah.

Ekonom Institute for Development of Economics and Fi­nance (Indef) Bhima Yudhistira mengamini kenaikan konsumsi menjadi mesin pertumbuhan.

"Ada konsumsi musiman yaitu bulan Ramadan dan Leba­ran. THR dan libur panjang ber­peran besar dalam mendorong pertumbuhan," katanya.

Bhima bersyukur penyelenggaraan pilkada serentak tidak memberikan efek besar terhadap perekonomian. Menurutnya, hajat pesta demokrasi tersebut hanya mengganggu kinerja in­vestasi.

"Kinerja investasi di bawah harapan karena para investor wait and see," ujar Bhima. ***

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Langgar HAM, Segera Tangkap Taufik Hidayat dan Dihukum Setimpal!

Senin, 22 Juni 2026 | 15:05

Berpeluang Kalah, Wajar Pengacara Profesional Menolak Bela Jokowi

Kamis, 25 Juni 2026 | 07:47

Dianggap Sakit Jiwa, Ini Jawaban KPK Soal Tuntutan Ringan Bos Blueray

Jumat, 26 Juni 2026 | 14:45

UPDATE

Prabowo Tindak Lanjuti Usulan Tambah Beasiswa S3 bagi Dosen

Minggu, 28 Juni 2026 | 16:09

Panitia Ogah Disusupi Politik, Jokowi Batal Ikut Kirab Budaya di Lampung Timur

Minggu, 28 Juni 2026 | 16:06

Sekolah Rakyat Bogor Padukan Panorama Alam dan Fasilitas Pendidikan Modern

Minggu, 28 Juni 2026 | 15:43

400 Lajang Ikut Golek Garwo, Kemenag Dorong Lahirnya Keluarga Sakinah

Minggu, 28 Juni 2026 | 15:35

Dana SAL Kemenkeu Perkuat Likuiditas dan Intermediasi Bank Mandiri

Minggu, 28 Juni 2026 | 15:29

Prabowo Target Pangkas BUMN dari 1.000 Jadi 250 Perusahaan

Minggu, 28 Juni 2026 | 14:47

Safari Politik Jokowi Bareng PSI Picu Sorotan

Minggu, 28 Juni 2026 | 14:28

Daftar 32 Tim yang Lolos Piala Dunia 2026, Lajut Fase gugur

Minggu, 28 Juni 2026 | 14:16

Australia Gandakan Denda Platform Medsos Nakal hingga Rp1 Triliun

Minggu, 28 Juni 2026 | 14:06

Membaca Sinyal di Balik Ritual Jokowi Injak Kepala Kerbau di Lampung

Minggu, 28 Juni 2026 | 13:56

Selengkapnya