Berita

Rizal Ramli/Net

Politik

Rizal Ramli: Sistem Impor Kuota Itu Kejam Bagi Petani

SELASA, 07 AGUSTUS 2018 | 10:50 WIB | LAPORAN: WIDIAN VEBRIYANTO

Kenaikan harga barang kebutuhan pokok tidak bisa dilepaskan dari sistem impor yang diberlakukan di negeri ini.

Ekonom senior Dr Rizal Ramli mengungkapkan bahwa impor yang berbasis kuota menjadi biang keladi kenaikan harga kebutuhan rakyat tersebut.

Sistem impor dengan kuota ini membuat banyak mafia ikut bermain. Mereka menitip harga sebagai komisi dan seenaknya dalam menentukan jumlah kuota barang yang diimpor.


“Itulah kenapa harga gula Indonesia dua kali dari Australia atau Bangkok. Itu juga kenapa harga daging jadi mahal,” jelasnya dalam Talk Show Bravos Radio bertajuk ‘Ngobrol Bareng Tokoh’ usai berkunjung ke Pasar Kramat Jati, Senin (6/8).

Diterangkan Rizal bahwa sistem ini kejam karena para mafia bisa memainkan kuoto impor sesuka hati tanpa mempedulikan kondisi petani yang sedang panen.

Dia mencontohkan impor bawang yang kuotanya dinaikkan saat petani sedang panen. Sehingga, membuat petani kapok untuk kembali menanam bawang karena kalah dari bawang impor yang membanjiri pasar.

“Sistem ini kejam. Begitu nggak panen, impornya dikurangin. Jadi ini sistem menciptakan ketergantungan impor yang permanen. Ini sebetulnya setengah subversif karena merugikan petani dan pelangan,” tegas Menko Perekonomian era Presiden Abdurrahman Wahid itu.

Tidak cukup sampai di situ, para mafia terkadang sengaja melebihkan kuota impor demi meraup keuntungan. Hal itu setidaknya yang dikeluhkan petani garam di Jawa Timur dan petani tebu di Jawa Tengah kepada RR, sapaan akrab Rizal Ramli.

“Petani tebu kesal karena impor dilebihkan 2 juta ton. Siapa nanti yang akan beli gula mereka (petani),” urainya.

Menurutnya, semua itu terjadi karena banyak pejabat yang bermain untuk mencari uang dalam kesempitan.

“Dengan naikkan impor kan komisinya gede. Itu yang bikin rusak,” tukas mantan Menko Kemaritiman itu. [ian]

Populer

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Kekesalan JK Dipicu Sikap Gibran dan Serangan Termul

Senin, 20 April 2026 | 12:50

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

UPDATE

Kebijakan Energi Harus Seimbang dengan Perlindungan Daya Beli Masyarakat

Minggu, 26 April 2026 | 08:05

Lewat Seminar di Wonosobo, Jateng Nyatakan Perang Terhadap Hoaks

Minggu, 26 April 2026 | 07:36

Jemaah Haji Diminta Selalu Bawa Kartu Nusuk dan Dokumen Resmi

Minggu, 26 April 2026 | 07:32

Menkop Optimistis Kopdes Perkuat Ekonomi Masyarakat

Minggu, 26 April 2026 | 07:03

Narkoba Melahirkan Rezim TPPU

Minggu, 26 April 2026 | 06:42

KH Imam Jazuli: Kiai Transformatif Cum Saudagar Gagasan

Minggu, 26 April 2026 | 06:23

Pertemuan Prabowo-Kapolri Mengandung Makna Kebangsaan Mendalam

Minggu, 26 April 2026 | 06:03

Satu Keluarga dengan Lima Nyawa Melayang di Barito Utara

Minggu, 26 April 2026 | 05:48

Tanpa Kubu Tetap

Minggu, 26 April 2026 | 05:13

Pertemuan Menhan dengan Para Jenderal Bukan Sekadar Temu Kangen

Minggu, 26 April 2026 | 05:09

Selengkapnya