Berita

Kementan Dukung Lestarinya Kearifan Lokal Sistem Kuming

SENIN, 06 AGUSTUS 2018 | 16:11 WIB | LAPORAN:

Tim Balitbang Kementerian Pertanian kembali menyusuri lokasi lahan pertanaman umbi-umbian di Kabupaten Manokwari, Papua Barat.

Dulunya lahan ini adalah hutan belantara yang dipenuhi berbagai macam pohon khas Papua. Sayangnya karena penebangan liar akhirnya hanya tersisa batang-batang pohon yang berserakan dan sebagian disusun rapi sebagai persediaan kayu bakar. Namun ada yang menarik dari pandangan tersebut, hijaunya tanaman umbi-umbian cukup menarik perhatian. Juga ada tanaman jagung lokal yang sudah mulai menghijau daunnya.

BPTP Papua Barat memilih lokasi ini untuk melakukan kajian Pendampingan PTT Umbi-umbian untuk meningkatkan produksi umbi lokal Papua Barat melalui skema pembiayaan KP4S SMARTD. Ini bukan daerah transmigrasi, jadi petaninya adalah penduduk asli Papua.


Sehari-harinya para petani ini bekerja sebagai nelayan. Namun ketika musim angin kencang berhembus, mereka beralih pekerjaan menjadi petani. Tidak, mereka tidak punya lahan tetap yang dapat diolah setiap kali istirahat dari melaut. Mereka berusahatani di ladang berpindah, dengan membuka hutan bersama kelompoknya, menanam komoditas yang sama, lalu menjual produk segarnya ke pasar terdekat.

Hamparan lahan yang baru dibuka itu seluas 2 hektar itu sudah ditanami antara lain 2 klon ubi kayu lokal, 3 klon talas lokal, dan 1 klon ubi jalar lokal, serta jagung varietas lokal.

Septinus Pondayar, Ketua Kelompok Oridek, salah satu poktan beranggotakan 22 orang yang menjadi kolaborator BPTP, saat berbincang dengan Tim di lahan mengemukakan kegembiraan anggotanya ketika didatangi penyuluh BPTP dalam rangka sosialisasi kerjasama tersebut.

"Kami tanam kakao sebelum ini, tapi kena serangan hama, habis semua," ujarnya menyebutkan alasan mengapa berminat dalam kegiatan ini. "Jadi kami gembira sekali dibantu membuka lahan ini, kami akan terus bertanam disini," ujarnya saat ditemui di lokasi beberapa waktu lalu.

Dari rilis yang dikirim oleh Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian (BBP2TP) Vyta Hanifah diketahui bahwa BPTP memang memberikan pendampingan sekaligus mengintroduksi perbaikan teknis budidaya tanpa meninggalkan kearifan lokal yang telah bertahun-tahun diterapkan petani.

Salah satu kearifan lokal itu adalah penerapan sistem kuming, yaitu dalam satu kali musim tanam ubi kayu, petani dapat memanen umbi berkali-kali dengan memilih lebih dulu umbi yang sudah besar ukurannya. Sedangkan umbi yang kecil tidak dipanen dulu melainkan tetap dibiarkan terpendam dalam tanah hingga ukurannya membesar dan siap dipanen. Dan yang membuat takjub petani tidak memberikan perlakuan pupuk apapun karena bumi Papua ini masih sangat subur.

"Kami bisa memanen ubi kayu sampai setahun lebih dengan sistem kuming ini," ungkapan kebanggaan dari Afner Mansebar, Ketua Kelompok Wompasi, poktan lain beranggotakan 15 orang yang juga terlibat dalam kegiatan BPTP di lokasi ini.

Ubi kayu varietas lokal ini potensinya terlihat menjanjikan. Dari satu pohon saja, umbinya dapat dipanen mulai umur 2,5 bulan setelah tanam. Bahkan hasilnya pun mencengangkan Tim Balitbangtan yang saat itu melihat sendiri hasil panen seorang petani dari satu pohon. Jika ditimbang, panenan itu ditaksir seberat 10-15 kg. Jadi, jika 1 pohon menghasilkan 10 kg pada umur panen 2,5 bulan, maka bisa dibayangkan besarnya produksi dari luasan lahan yang ditanami.

"Ini harus dilestarikan varietasnya, ya Pak, potensinya luar biasa," pesan Nono Sutrisno, salah satu Tim Balitbangtan yang bahkan sempat mencicipi mentahnya ubi kayu segar hasil panenan itu.

Setali tiga uang dengan pesan tersebut, BPTP Papua Barat berharap kegiatan KP4S SMARTD ini dapat menghasilkan output pelepasan varietas-varietas lokal Papua Barat. Tak lain, untuk melestarikan kekayaan sumber genetik lokal serta mendukung lestarinya kearifan lokal masyarakat Papua Barat.

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

Sikap Adem Ayem Seskab Teddy Mencurigakan

Selasa, 05 Mei 2026 | 02:06

KPK Dalami Peran Haji Her dan Suryo di Skandal Cukai Rokok

Jumat, 01 Mei 2026 | 20:51

Omongan Amien Rais Dibenarkan Publik selama Tak Dibantah Teddy

Kamis, 07 Mei 2026 | 02:15

UPDATE

Bali Disiapkan Jadi “Dubai Baru”, Duit Asing Bebas Pajak

Jumat, 08 Mei 2026 | 20:07

DPR Minta Pemerintah Cepat Terbitkan Aturan Turunan UU PPRT

Jumat, 08 Mei 2026 | 20:01

Dugaan Korupsi Dana APBD untuk Unsultra Dilaporkan ke KPK

Jumat, 08 Mei 2026 | 19:57

DPR: Kode Etik Media Arus Utama Lebih Jelas Dibanding New Media

Jumat, 08 Mei 2026 | 19:38

Tarumajaya Raih Paritrana Award Bukti Desa Berpihak kepada Rakyat

Jumat, 08 Mei 2026 | 19:26

Polisi Sudah Periksa 39 Saksi Terkait Kecelakaan Kereta di Bekasi Timur

Jumat, 08 Mei 2026 | 19:15

Ekonomi Tumbuh (Tidak) Disyukuri

Jumat, 08 Mei 2026 | 19:11

Ombudsman RI Bentuk Majelis Etik untuk Tegakkan Integritas dan Profesionalisme

Jumat, 08 Mei 2026 | 19:10

Sejarah Erupsi Gunung Dukono Masa ke Masa

Jumat, 08 Mei 2026 | 19:06

PLN Bedah Mitigasi Risiko Pidana dalam Penerapan KUHP dan KUHAP Baru

Jumat, 08 Mei 2026 | 18:42

Selengkapnya