Berita

SBY dan AHY/Net

Politik

Paradoks SBY Dan AHY

RABU, 01 AGUSTUS 2018 | 17:28 WIB | OLEH: SAID SALAHUDIN

SAYA kira publik semua sudah tahu bahwa Partai Demokrat punya agenda politik untuk memajukan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dalam kontestasi Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden (Pilpres) 2019.

Safari politik AHY ke sejumlah daerah dan pemampangan balihonya secara masif di berbagai pelosok negeri menjadi indikasi kuat dari agenda itu.

Para elit Demokrat pun selama ini tak henti bersuara tentang peluang AHY untuk menjadi calon presiden (capres) atau calon wakil presiden (cawapres).


Lebih kongkret lagi, aksi demi aksi deklarasi dukungan terhadap AHY juga terus digelar tanpa henti. Beberapa hari lalu dibuat di Gedung Joang 45, besok saya dengar juga akan digelar lagi di Djakarta Theater.

Nah, dari semua fakta-fakta itu kan sebetulnya sudah sangat terang benderang dan tidak bisa lagi dibantah bahwa Demokrat memang sungguh-sungguh sedang memperjuangkan AHY sebagai capres atau cawapres.

Saya sendiri sudah pernah mengatakan bahwa saya memuji sikap PKB, PKS, dan termasuk juga Partai Demokrat yang kukuh memperjuangkan kadernya sendiri untuk mengisi jabatan-jabatan di pemerintahan, dalam hal ini jabatan capres atau cawapres.

Apa yang mereka perjuangkan itu saya pandang sebagai salah satu perwujudan dari fungsi rekrutmen politik yang semestinya diadopsi oleh seluruh partai politik. Dalam Undang-Undang mengenai Partai Politik (UU Parpol) pun hal tersebut diatur.

Permasalahannya adalah, di saat AHY dan sejumlah elemen dari Partai Demokrat lainnya gencar berpromosi agar AHY bisa diterima sebagai cawapres Joko Widodo (Jokowi) atau Prabowo Subianto (setelah pintu capres mulai menyempit), Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) justru mengelak dirinya menjadi bagian dari upaya itu.

Dalam setiap keterangan yang disampaikan oleh SBY setelah dirinya melakukan komunikasi politik dengan Jokowi, Ketua Umum PAN, Pimpinan PKS, dan khususnya dengan Prabowo Subianto, SBY selalu menekankan bahwa pertemuan diantara mereka tidak pernah membahas, apalagi meminta dukungan agar AHY bisa diterima sebagai cawapres Jokowi atau Prabowo.

Apa yang dikatakan oleh SBY itu menurut saya agak mengganggu akal sehat kita. Tidak logis. Sebab, agenda untuk mengusung AHY sebagai cawapres tentu tidak bisa dilakukan secara pasif, melainkan harus dibarengi oleh sebuah proses komunikasi yang intens dengan pihak capres dan parpol lainnya.

Saat menceritakan tentang pertemuannya dengan Jokowi, misalnya, SBY sebetulnya sempat keceplosan dengan mengatakan mereka sempat membahas soal jatah kursi menteri untuk Demokrat jika partai itu bersedia bergabung di koalisi petahana.

Nah, kalau untuk isu sekunder soal posisi menteri saja sudah dibicarakan, maka logikanya: apalagi untuk hal yang lebih primer seperti posisi cawapres.

Begitu juga ketika SBY berkali-kali membantah bahwa dirinya tidak pernah membicarakan apalagi menawarkan AHY untuk menjadi cawapres Prabowo. Itu pun saya kira sangat mustahil.

Bahwa Prabowo kemudian membenarkan bantahan SBY tersebut, itu saya kira lebih disebabkan karena soal fatsun politik saja. Prabowo mungkin sekedar ingin menjaga kehormatan SBY di hadapan publik.

Nah, bantahan demi bantahan SBY tersebut jika disandingkan dengan gencarnya upaya elit Demokrat mempromosikan AHY sebagai cawapres Prabowo menjadi tidak klop. Anak buah begitu aktif, si bos seolah pasif.

Lebih terlihat lagi paradoksalnya ketika SBY mengatakan dia tidak mendorong-dorong AHY untuk menjadi cawapres Prabowo, tetapi pada saat yang sama AHY justru diizinkan oleh SBY untuk terus tampil secara aktif dalam pentas-pentas deklarasi.

Pentas demi pentas yang dihadiri oleh AHY itu kan jelas sekali maksudnya: mencari perhatian Prabowo. AHY tentu perlu tampil lebih sering di tengah proses persaingannya dengan Habib Salim Segaf Aljufri dan Ustaz Abdul Somad, sampai akhirnya Prabowo menetapkan pendampingnya.

Oleh sebab itu saya ingin mengkritik cara SBY yang selalu menutup-nutupi usahanya memperjuangkan posisi cawapres untuk AHY.

Menurut saya, sebagai seorang negarawan sekaligus tokoh partai politik, SBY semestinya memberikan edukasi politik kepada rakyat tentang mengapa gagasan soal 'power sharing' itu diperlukan dalam suatu pembentukan koalisi, khususnya terkait pengisian posisi capres atau cawapres dalam Pemilu yang serentak.

Rakyat harus diberi pengertian bahwa jika Demokrat atau parpol lainnya mengincar posisi capres atau cawapres, hal itu dilandasi oleh argumentasi yang ilmiah, sah menurut hukum, dan dianjurkan menurut UU Parpol.

Jadi janganlah menutup-nutupi suatu agenda politik yang secara kasat mata sebetulnya sudah diketahui jelas oleh publik, apalagi agenda tersebut bersifat argumentatif dan memiliki dasar hukum yang kuat. Tidak perlu lagi yang semacam itu dianggap sebagai hal yang tabu dalam perpolitikan di Indonesia. [***]

Penulis adalah pemerhati politik, pemilu dan kenegaraan

Populer

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

UPDATE

Tinjau Situs Bersejarah

Jumat, 26 Juni 2026 | 03:59

KPK Harus Berani Ungkap 'Borok' Sejumlah Forwarder di Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 03:40

Kalkulasi Strategis Akuisisi Rudal BrahMos

Jumat, 26 Juni 2026 | 03:27

Gabungan Aliansi BEM Nasional Tolak Penunggangan Gerakan Mahasiswa

Jumat, 26 Juni 2026 | 02:57

Siapa Sebenarnya Pengkhianat?

Jumat, 26 Juni 2026 | 02:40

Perlindungan Warga Sipil Papua Harus Berbasis Riset dan Demokrasi

Jumat, 26 Juni 2026 | 02:20

Ini Pesan Panglima TNI kepada 1.737 Perwira Remaja yang Baru Dilantik

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:58

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Berikut Usulan Perpemindo ke KSP soal Penempatan PMI

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:01

Jembatan Pemikiran Frans Seda

Jumat, 26 Juni 2026 | 00:53

Selengkapnya