Berita

Foto/Net

Bisnis

Bahan Bakar Jadi Beban Kinerja Keuangan Garuda

SENIN, 30 JULI 2018 | 11:24 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Kenaikan harga minyak berdampak langsung pada kinerja PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA). Sebagian besar beban usaha Garuda bersumber dari biaya bahan bakar aftur.

Direktur Utama PT Garuda Indonesia, Pahala Nugraha Man­sury mengatakan ada pening­katan beban bahan bakar di se­mester I-2018 ini terhadap total beban perseroan. Total beban bahan bakar semester I tahun ini sekitar 35 persen hingga 40 persen dari total biaya.

"Hal ini menjadi tantangan. Kami sudah melakukan hedging dan melakukan cost efisiensi dari bahan bakar," ujar Pahala.


Menurutnya tahun lalu porsi beban bahan bakar hanya sekitar 33 persen dari total biaya. Di sisi lain dia membeberkan jika harga aftur di dalam negeri cenderung lebih mahal dibandingkan dengan luar negeri. "Untuk suplai kita kan dari Pertamina. Kita ketahui memang ada kenaikan harga dan di Indonesia itu har­ganya lebih tinggi dari negara lain karena memang (Pertamina) harus mensuplai dan biaya logis­tiknya itu tinggi," katanya.

Selain itu, pelemahan rupiah yang terus terjadi belakangan ini juga memicu beban kepada per­seroan. Perusahaan penerbangan pelat merah itu melakukan per­baikan untuk menekan beban keuangan itu selama semester satu sebanyak 30 persen atau 50 persen dari kuartal I. "Pening­katan biaya aftur dan depresiasi rupiah mempengaruhi kinerja," kata dia.

Rupiah cenderung melemah juga berpengaruh pada bisnis penerbangan. Lantaran sebagian biaya operasional industri penerbangan memakai dolar AS. Mengutip data Bloomberg nilai tukar rupiah terhadap dolar AS melemah 6,21 persen secara year to date. Sementara itu, berdasar­kan kurs referensi Jakarta Inter­bank Spot Dollar Rate (Jisdor), rupiah melemah 6,94 persen terhadap dolar AS.

Parahnya Rupiah sempat be­rada di posisi 13.542 per dolar AS pada 2 Januari 2018 menjadi 14.483 per dolar AS pada akhir pekan kemarin. Namun dirinya tidak ingin menyebut kinerja keuangan lebih dalam karena untuk semester ini masih dalam proses final. "Laporan lengkap semester I masih menunggu pekan depan," katanya.

Meski begitu, Pahala menu­turkan kinerja keuangan perse­roan membaik dari sisi biaya penyewaan pesawat dan juga utilisasi. Dia juga optimistis kinerja semester I tahun ini tren­nya membaik dari sisi utilisasi pesawat dan biaya yang mem­baik dari renegosiasi leasing pesawat.

"Pertumbuhan pendapatan ada dan triwulan II dibandingkan tri­wulan I kinerja rute internasional ada perbaikan," ujarnya.

Dijelaskan, dari sisi opera­sional masih ada perbaikan. Perbaikan lebih dari 30 persen di bottom line year-on-year (yoy) di semester I. Dan lebih dari 50 persen dari triwulan I.

Terbitan KIK

Pihaknya juga berencana menerbitkan Kontrak Investasi Kolektif-Efek Beragun Aset (KIK-EBA) untuk melakukan pembiayaan kembali (refinanc­ing) utang-utangnya yang jatuh tempo. Beberapa obligasi yang sudah jatuh tempo misalnya obligasi sebesar Rp 2 triliun pada 3 Juli 2018. Penerbitan KIK-EBA ini adalah cara perusahaan untuk menyelesaikan beban-beban.

"Memang tujuan utamanya 3 Juli lalu kita ada Rp 2 triliun untuk obligasi yang jatuh tempo, kemudian juga ada kewajiban kepada bank-bank yang harus kita bayarkan dan ini memang upaya kita mengurangi kewa­jiban yang jangka pendek dan menggantikannya dengan kewa­jibannya yang jangka panjang," jelas Pahala.

Agunan yang digunakan da­lam KIK-EBA adalah pendapa­tan dari tiket penerbangan rute Indonesia-Jeddah dan Madinah. Sementara informasi dari PT Kustodian Sentral Efek Indone­sia (KSEI) nilai KIK-EBA yang diterbitkan sebesar Rp 1,8 triliun. KIK-EBA ditawarkan kepada investor dengan tingkat kupon 9,75 per tahun. Namun, Pahala belum mau membeberkan rinci. "Pastinya akan kita umumkan setelah transaksinya closing. Tapi kita harapkan di atas Rp 1 triliun," tuturnya. ***

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

Tiket Jakarta Fair Tidak Ramah Kantong Rakyat Berpenghasilan Rendah

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:21

UPDATE

Penumpang Melonjak di Libur Sekolah, Whoosh Hadirkan Promo Wisata

Sabtu, 27 Juni 2026 | 19:57

Razman Dieksekusi

Sabtu, 27 Juni 2026 | 19:29

Purbaya Bantah Restitusi Pajak Ditahan, Tuding Ada Permainan Oknum DJP

Sabtu, 27 Juni 2026 | 18:51

Dari Kandang ke Kanopi Hutan: Tiga Orangutan Hasil Rehabilitasi Kembali ke Alam Liar

Sabtu, 27 Juni 2026 | 18:45

Perjalanan Tengkar KH Miftachul Akhyar

Sabtu, 27 Juni 2026 | 17:52

Punya Integritas, Zulhas Lantik Uya Kuya Pimpin PAN Jakarta

Sabtu, 27 Juni 2026 | 17:34

Terus Meningkat, Mayoritas Publik Tak Puas Kinerja Wapres Gibran

Sabtu, 27 Juni 2026 | 17:22

Dikuasai Gaya Hidup, Pasar Indonesia Diincar Asing

Sabtu, 27 Juni 2026 | 16:41

Polisi Tangkap Perantara Jual Beli Sabu 1 Kg di Pasar Baru

Sabtu, 27 Juni 2026 | 16:29

JK Resmikan Pembangunan Masjid Hajjah Yuliana Bekas Kantor Polisi di Melbourne

Sabtu, 27 Juni 2026 | 16:00

Selengkapnya