Berita

Yusuf Supendi/Net

Wawancara

WAWANCARA

Yusuf Supendi: PDIP Dicap Partai Setan Itu Tantangan, Saya Tetap Yakin Tidak Akan Kesetanan

RABU, 25 JULI 2018 | 10:38 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Setelah gagal melenggang ke DPR lewat Partai Hanura pada Pemilu 2014 lalu, di Pemilu 2019 Yusuf kini mendaftar se­bagai bacaleg PDIP. Munculnya Yusuf Supendi dalam daftar ba­caleg PDIP cukup mengejutkan kader PKS. Di dunia maya, ne­tizen menyerang pilihan politik Yusuf. Lantas apa pertimbangan Yusuf sehingga memilih PDIP sebagai kendaraan politiknya? Apakah basis massa Yusuf yang notabenenya masih 'berbau' PKS dan Islam kanan akan turut menyokongnya meski dia nyaleg lewat PDI Perjuangan? Berikut penuturan Yusuf Supendi:

Sudah sejauh mana proses pendaftaran Anda sebagai caleg PDIP?
Saya sudah mendaftarkan diri ke KPU. Kabarnya saya sudah mendapatkan nomor urut. Di Dapil ini nanti saya juga akan bersama politisi lainnya yang tahun sebelumnya sudah me­nang di sini.

Di Pemilu 2014 lalu saat nyaleg lewat Partai Hanura Anda gagal, sekarang sebesar apa optimisme Anda nyaleg lagi melalui PDIP?

Di Pemilu 2014 lalu saat nyaleg lewat Partai Hanura Anda gagal, sekarang sebesar apa optimisme Anda nyaleg lagi melalui PDIP?
Banyak teman-teman mem­inta saya aktif lagi dalam politik. Saya melihat potensi yang saya miliki. Basis sosial, Insya Allah saya memiliki jaringan sosial, bukan politisi karbitan dan instan. Ya misalnya saja pada Pemilu 2004, saya kampanye selama 34 hari, Alhamdulillah meraih sekitar 85 ribu suara. Akhirnya mengantarkan dua anggota DPR Fraksi PKS dari Dapil IV Kota dan Kabaputen Bogor. Di Komisi III DPR, Alhamdulillah saya merupakan peraih suara terbanyak urutan keempat dari 48 anggota DPR.

Itu pertimbangan politiknya, kalau dari sisi agamanya apa yang menjadi pertimbangan Anda?
Sejalan dengan pandangan Imam Qurtubi, saya meyakini bahwa salah satu misi Rasulullah SAW diutus ke dunia adalah mewujudkan abdan robani­yyan, yakni hamba yang mapan dalam ilmu pengetahuan dan mengusai perpolitikan. Jadi pandangan seperti itu memang sudah dijelaskan oleh Imam Qurtubi disaat beliau menjelas­kan Surat Ali Imran ayat 79 dan menjadikan dasar saya untuk terus berkiprah di dunia pioli­tik sebagaimana disampaikan rekan-rekan saya. Jadi saya di­pandang masih memiliki potensi yang dapat dimanfaatkan demi kemaslahatan atau kebaikan agama, bangsa dan negara. Jadi saya juga bertanya ke beberapa orang bagaimana kalau saya maju kembali menjadi caleg. Diantaranya ada yang bilang, 'ya bagus itu, toh kiai kan memang orang politik, ya sudah pantas jika ikut politik lagi,'.

Lantas kenapa Anda memi­lih PDI Perjuangan sebagai kendaran politik?

Ini kan soal pilihan politik, pilihan hati nurani dan ijtihad haluan politik. Saya meminta bantuan kepada peneliti untuk mengkaji peta politik dan re­alitisnya di Kabupaten Bogor. Khususnya di Dapil V Jawa Barat di daerah asal saya. Saya sendiri berupaya mencermati dinamika politik nasional, saya berkonsultasi dengan sejumlah pengacara, sejumlah jamaah di Dapil V Jabar. Lalu kalau dari keluarga, terutama ibunda yang saya banggakan dan saya mulia­kan ibu Hj. Jumraeni yang sudah berusia 94 tahun, Alhamdulillah beliau telah merestui. Maka mantaplah pilihan dan ijtihad politik saya bergabung dengan PDI Perjuangan.

Bisa Anda ceritakan ba­gaimana prosesnya hingga Anda bisa menjadi bacaleg PDIP?
Jadi setelah saya mendap­atkan restu dari ibunda, pada tanggal 9 Mei 2018 lalu, saya komunikasi dengan Pak TB Hasanuddin, Ketua DPD PDI Perjuangan Jawa Barat, beliau katakan, ‘saya sangat senang akang bersedia merapat karena saya ditugaskan untuk mencari orang potensial.’ Nah setelah beberapa hari dari itu, tepatnya tanggal 12 Mei, saya bertemu dengan Pak Hasto. Lalu saya bertanya kepada Pak Sekjen, apakah saya bisa diterima mera­pat ke PDI Perjuangan? Lalu Pak Sekjen langsung menjawab, 'saya bukannya senang, tapi sangat bahagia akang bersedia merapat ke PDI Perjuangan'. Terus pada tanggal 9 Juli 2018, saya bertemu Pak Hasto, secara resmi saya dibuatkan kartu tanda anggota PDI Perjuangan dan secara lengkap saya se­rahkan persyaratan menjadi bacaleg DPR dari Dapil V Jabar, Dan menurut Pak Hasto, Ibu Megawati Soekarnoputri selaku ketua umum partai sudah oke, Alhamdulillah. Alhamdulillah PDI Perjuangan menerima saya dengan baik dan menjadikan saya sebagai bakal calon ang­gota legislatif Dapil V Jabar, Kabupaten Bogor. Untuk itu saya ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya.

Tetapi sebagai tokoh muslim dan bekas pendiri Partai Keadilan, mengapa Anda memilih menjadi caleg dari PDI-Perjuangan?
Saya amati di lapangan dan membaca laporan riset bahwa pemilih PDI Perjuangan itu 70 persen adalah kaum santri, muslim yang taat beragama. Maka dengan dasar itu, tepatlah jika saya bergabung dengan partai ini.

Tapi saat ini banyak ka­langan Islam menilai PDI Perjuangan sebagai partai yang anti Islam. Bagaimana itu?
Nah, akan halnya belakan­gan tahun ini PDI Perjuangan dipersepsikan sebagai partai anti Islam dan simpatisan Partai Komunis Indonesia (PKI), partai setan itu merupakan tantangan bagi saya bersama rekan-rekan untuk mengubah persepsi itu. Saya yakin dapat berjuang den­gan mengoreksi persepsi keliru tersebut melalui penyebaran in­formasi yang tepat dan perilaku politik yang mengedepankan kemaslahatan agama, bangsa dan negara. Namun saya yakin, saya tidak akan kesetanan.

Jika memang itu fakta nyata bukan mitos dengan dukungan alat bukti yang kuat dan aku­rat, setiap warga negara yang memiliki legal standing berhak melakukan proses hukum sesuai peraturan perundang-undangan. Jika isu itu menjadi persepsi tanpa bukti, maka itu adalah hoax. Itu adalah tindakan keji dan dosa hukumnya, perbuatan dosa tersebut wajib ditinggalkan oleh setiap warga negara yang baik. ***

Populer

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

Satlap Tri Cakti Diduga Hadang Polisi di Belitung, IPW Desak Ada Tindak lanjut

Senin, 17 Agustus 2026 | 14:30

KPK OTT Rektor Unsoed Prof Akhmad Sodiq

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:01

Profil Akhmad Sodiq, Rektor Unsoed yang Terjaring OTT KPK

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 09:02

TNI Kuasai Wilayah OPM di Intan Jaya dan Sita Sejumlah Senjata

Minggu, 16 Agustus 2026 | 01:24

Belasan Teman Jokowi Bagusnya Batal Jadi Saksi Sidang soal Ijazah

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 03:14

Praperadilan Dokter Tifa Ditolak, Ini Pertimbangan Hakim

Jumat, 21 Agustus 2026 | 10:25

UPDATE

Kejagung Periksa 6 Saksi Kasus Korupsi BGN

Selasa, 25 Agustus 2026 | 04:12

Karhutla Tak Cukup Dipadamkan, Harus Dicegah dan Diusut

Selasa, 25 Agustus 2026 | 04:00

Bung Karno Sang Orator

Selasa, 25 Agustus 2026 | 03:38

Tangis Megawati Pecah saat Wajah Bung Karno Muncul di Langit Gelora Bung Tomo

Selasa, 25 Agustus 2026 | 03:20

Jangan Takut, tapi Tetap Waspada soal Isu Rusuh Agustus Jilid II

Selasa, 25 Agustus 2026 | 03:07

15 Saksi Dugaan Penyalahgunaan Pelimpahan Nomor Porsi Haji 2026 Diperiksa

Selasa, 25 Agustus 2026 | 02:33

Tim Hukum Hukum Ungkap 30 Pelanggaran Penanganan Kasus Febrie Adriansyah

Selasa, 25 Agustus 2026 | 02:20

DSI Resmi Beroperasi, Ini Jajaran Direksi dan Komisarisnya

Selasa, 25 Agustus 2026 | 02:02

Soekarno Cup 2026 Libatkan 400 Talenta Muda

Selasa, 25 Agustus 2026 | 01:31

Mustahil Sjafrie Larang Mahasiswi Unhan Berjilbab

Selasa, 25 Agustus 2026 | 01:21

Selengkapnya