Berita

Arief Poyuono/Net

Politik

Arief Poyuono: Ngapain Minta Maaf, Saya Ngomong Apa Adanya Soal AHY

SENIN, 23 JULI 2018 | 18:16 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Arief Poyuono membenarkan dirinya ditegur Prabowo Subianto. Prabowo menegur Arief karena ucapannya yang mengibaratkan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) seperti anak kecil lantaran tak punya pengalaman di bidang politik.

"Benar itu, (dikirim) lewat WA," kata Arief kepada Kantor Berita Politik RMOL, Senin (23/4).

Arief tak peduli dengan teguran Prabowo agar mencabut ucapannya dan meminta maaf ke Partai Demokrat.


Arief menegaskan pendapatnya soal AHY tidak salah. Ia berpikir realistis soal AHY. Sekalipun berpendidikan tinggi dan pernah berkarir di militer, sebutan anak kecil yang disematkan Arief kepada AHY lantaran AHY tak punya pengalaman di politik.

"Mohon maaf saya tidak mau minta maaf. Ngapain juga saya minta maaf, saya ngomong apa adanya soal AHY. Realistis dong," ucap AHY.

Pernyataan bernada menyerang AHY dilontarkan Arief menjawab pertanyaan terkait wacana menduetkan Prabowo dan AHY sebagai capres dan cawapres pada Pilpres 2019. Arief mengungkapkan ketidaksetujuannya.

Hari ini beredar surat berisi teguran dari Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto kepada Arief Poyuono karena menyerang AHY.

"Saya tidak menganggap Saudara AHY seorang anak kecil, pengalaman beliau selama di TNI dan juga sekolah beliau di dalam dan luar negeri menunjukkan beliau memiliki kapabilitas," kata Prabowo dalam tegurannya.

Prabowo mengatakan pernyataan Poyuono telah melampaui kewenangan. Padahal, kata Prabowo, Gerindra sedang menjajaki peluang berkoalisi dengan Partai Demokrat.

"Saudara Arief Poyuono, saya sangat menyesal mendengar Anda membuat komentar tentang rencana kita berkoalisi dengan Partai Demokrat. Pernyataan tersebut di luar wewenang Anda dan sangat tidak memiliki dasar," sebut Prabowo.[dem]

Populer

Oknum Prajurit di Lokasi Penggeledahan di Luar Mandat TNI

Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:29

10 Jalan Febrie Adriansyah Menuju Bebas

Minggu, 19 Juli 2026 | 05:24

Hotman Paris Harus Minta Maaf

Minggu, 19 Juli 2026 | 17:02

Saat Konglomerat Tan Kian Diamankan Polisi

Sabtu, 11 Juli 2026 | 21:50

Hotman Paris Tegaskan Tuduhan Keterlibatan Febrie dalam Kasus Asabri Salah Total

Sabtu, 18 Juli 2026 | 02:58

Permainan Kejagung Terlalu Kasar soal Penghentian Pengumpulan Data Program MBG

Rabu, 15 Juli 2026 | 05:14

Penetapan Tersangka Tetap Sah Meski Belum Diperiksa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 12:35

UPDATE

Megawati: Kudatuli adalah Simbol Ketidakadilan!

Selasa, 21 Juli 2026 | 23:38

Densus 88 Ciduk Dua Pria Terlibat Jaringan Terorisme di Ciamis dan Lampung

Selasa, 21 Juli 2026 | 23:11

PDIP Sebut Babinsa Awasi Wajib Pajak Salahi Wewenang

Selasa, 21 Juli 2026 | 22:47

Purbaya Buka Peluang Ubah Status KEK di Bali untuk PFII

Selasa, 21 Juli 2026 | 22:39

Megawati Minta Pramono dan Doel Kembalikan TIM jadi Tempat Seniman

Selasa, 21 Juli 2026 | 22:30

Warga Kwini 8 Minta Sengketa Diselesaikan Lewat Jalur Hukum

Selasa, 21 Juli 2026 | 22:28

PPP Dukung Tindakan Tegas Polri Jaga Kamtibmas di Jakarta

Selasa, 21 Juli 2026 | 22:14

KPK Terbitkan Dua Sprindik Pengembangan Kasus Bea Cukai, Sudah Ada Tersangka

Selasa, 21 Juli 2026 | 21:31

Pakar Soroti Modus Dugaan TPPU Febrie dari Safe House hingga Temuan Emas Batangan

Selasa, 21 Juli 2026 | 21:24

Kiprah Mantri BRI Menjadi Penggerak Pertumbuhan Ekonomi Kerakyatan

Selasa, 21 Juli 2026 | 21:14

Selengkapnya