Berita

Foto: Net

Bisnis

PDIP: 1997-1998 Kenaikan UMR Hanya Rp 20 Ribu, Sekarang 600 Persen

JUMAT, 20 JULI 2018 | 10:17 WIB | LAPORAN:

Kondisi ekonomi Indonesia saat ini dengan krisis moneter pada akhir masa pemerintahan orde baru dinilai sangat berbeda.

Politisi PDI Perjuangan, Adian Napitupulu menjelaskan, pada akhir bulan Agustus tahun 1997 lalu, nilai tukar rupiah mencapai Rp 2.500 per dolar AS. D saat itu, Upah Minumum Regional (UMR) DKI Jakarta hanya Rp 172.500 per bulan atau sekitar 69 dolar AS per bulan.

Namun dari akhir Agustus 1997 hingga Januari sampai Juli 1998, kondisi ekonomi kian terus memburuk. Nilai tukar rupiah terus naik hingga Rp 16.800. Parahnya, UMR DKI masih di kisaran Rp 192 ribu per bulan atau 11,4 dolar AS.


"Dari 1997 ke 1998 kenaikan UMR hanya Rp 20 ribu atau sekitar 13 persen sementara kenaikan nilai dolar mencapai 600 persen," jelas Adian dalam keterangan pers yang diterima wartawan, Jumat (20/7).

Situasi ekonomi yang kian memburuk saat itu, kata dia, membuat banyak perusahaan gulung tikar yang mengakibatkan PHK massal. Dampaknya daya beli masyarakat sangat menurun.

Situasi ketika itu, menurut dia, sangat jauh berbeda dengan kondisi ekonomi di era pemerintahan sekarang ini di bawah kepemimpinan Presiden Jokowi. Sebab, saat awal dilantik, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS sudah mencapai Rp 12.200 dengan UMR DKI sebesar Rp 2.441.000 per bulan atau 200 dolar AS per bulan.

Diakuinya pada bulan Juli tahun 2018 lalu, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS meningkat hingga Rp.14.400. Namun UMR DKI saat ini sudah mencapai Rp 3.648.000 per bulan atau setara dengan 253 dolar AS.

Oktober 2014 hingga Juli 2018, papar dia, dolar hanya naik Rp 2.200 atau 18 persen. Sementara kenaikan UMR DKI dari Rp 2.441.000 menjadi Rp 3.648.000 atau 49 persen dari Oktober 2014.

"Jika dikonversi dengan dolar maka dari tahun 2014 hingga 2018 UMR naik 26 persen dari 200 dolar menjadi 253 dolar," urai anggota Komisi VII DPR ini. [wid]

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

UPDATE

Andre Rosiade Sambangi Bareskrim Polri Usai Nenek Penolak Tambang Ilegal Dipukuli

Senin, 12 Januari 2026 | 14:15

Cuaca Ekstrem Masih Akan Melanda Jakarta

Senin, 12 Januari 2026 | 14:10

Bitcoin Melambung, Tembus 92.000 Dolar AS

Senin, 12 Januari 2026 | 14:08

Sertifikat Tanah Gratis bagi Korban Bencana Bukti Kehadiran Negara

Senin, 12 Januari 2026 | 14:03

KPK Panggil 10 Saksi Kasus OTT Bupati Lampung Tengah Ardito Wijaya

Senin, 12 Januari 2026 | 14:03

Prabowo Terharu dan Bangga Resmikan 166 Sekolah Rakyat di Banjarbaru

Senin, 12 Januari 2026 | 13:52

Kasus Kuota Haji, Komisi VIII Minta KPK Transparan dan Profesional

Senin, 12 Januari 2026 | 13:40

KPK Periksa Pengurus PWNU DKI Jakarta Terkait Dugaan Korupsi Kuota Haji

Senin, 12 Januari 2026 | 13:12

Prabowo Tinjau Sekolah Rakyat Banjarbaru, Ada Fasilitas Smartboard hingga Laptop Persiswa

Senin, 12 Januari 2026 | 13:10

Air Naik hingga Sepinggang, Warga Aspol Pondok Karya Dievakuasi Polisi

Senin, 12 Januari 2026 | 13:04

Selengkapnya