Nasaruddin Umar/Net
Nasaruddin Umar/Net
LEDAKAN bom bunuh diri di Jawa Timur menjelang bulan Ramadhan yang pelakunya diduga kelompok radikal-teroris dan terakhir ledakan bom di Bangil tanggal 5 Juni yang baru lalu, menandakan masih adanya ancaman kelÂompok radikal-teroris yang perlu dicermati lalu dicarikan solusi. Masalah kelompok radikal-teroris tentu bukan hanya tugas pihak keamanan khususnya Densus 88 dan BNPT, tetapi tanggung jawab kita semua seluruh lapisan masyarakat. Bagaimanapun juga ancaman kelompok radikal-teroris di negÂeri besar dan pluralistik seperti Indonesia tentu sangat fatal. Negara-negara yang relatif homoÂgen seperti Iraq dan Syiria bisa porak poranda apalagi negara besar seperti Indonesia.
Siapa sesungguhnya kelompok radikal itu? Masyarakat kita masih banyak yang belum meÂmahami dengan jelas apa dan siapa kelompok radikal-teroris itu, terlebih dengan banyaknya istilah yang silih berganti digunakan oleh media seperti kelompok ekstrim, kelompok garis keras (hard liner), kelompok ISIS (Islamic State in Iraq and Sham) dan Alqaeda. Ada orang yang meÂnyamakan antara Kelompok radikal dan kelÂompok ekstrem atau teroris dan ada pula yang membedakannya. Ada yang menganggap KelÂompok Radikal sama dengan orang yang berÂpegang teguh kepada perinsip ajaran agama, sehingga ia menyamakan antara Kelompok radikal dan kelompok fundamental. Ada lagi orang semaunya menggunakan istilah-istilah tersebut secara bebas, sehingga terkadang orang alim yang taat beragama melampaui rata-rata orang lain dijuluki kelompok ekstrim beragama, atau banyak lagi istilah lain dalam bahasa Inggeris dan bahasa Arab yang sudah familiar di Indonesia.
Mengklaim orang lain sebagai kelompok funÂdamentalis dengan konotasi radikal, hanya lanÂtaran orang itu sangat taat menjalankan praktek keagamaan, dengan kata lain, mengelompok radikalkan orang yang bukan radikal, sama baÂhayanya kelompok radikal itu sendiri, karena sama-sama menjadikan orang lain yang tak berdosa menjadi korban. Kalau kelompok perÂtama bisa mencelakakan orang lain yang tak berdosa lantaran mereka tidak sefaham secara ideologi, maka kelompok kedua juga bisa memÂbunuh karier dan merusak nama baik orang lain lantaran klaim yang keliru. Meng-ISIS-kan orang yang bukan ISIS juga bisa menyebabkan hancurnya nama baik dan karier seseorang.
Populer
Senin, 05 Januari 2026 | 16:47
Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54
Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13
Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39
Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00
Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46
Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15
UPDATE
Senin, 12 Januari 2026 | 14:15
Senin, 12 Januari 2026 | 14:10
Senin, 12 Januari 2026 | 14:08
Senin, 12 Januari 2026 | 14:03
Senin, 12 Januari 2026 | 14:03
Senin, 12 Januari 2026 | 13:52
Senin, 12 Januari 2026 | 13:40
Senin, 12 Januari 2026 | 13:12
Senin, 12 Januari 2026 | 13:10
Senin, 12 Januari 2026 | 13:04