Berita

Nasaruddin Umar/Net

Ormas Islam & Kelompok Radikal (1)

Apa Dan Siapa Kelompok Radikal Itu?

SABTU, 14 JULI 2018 | 10:27 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

LEDAKAN bom bunuh diri di Jawa Timur menjelang bulan Ramadhan yang pelakunya diduga kelompok radikal-teroris dan terakhir ledakan bom di Bangil tanggal 5 Juni yang baru lalu, menandakan masih adanya ancaman kel­ompok radikal-teroris yang perlu dicermati lalu dicarikan solusi. Masalah kelompok radikal-teroris tentu bukan hanya tugas pihak keamanan khususnya Densus 88 dan BNPT, tetapi tanggung jawab kita semua seluruh lapisan masyarakat. Bagaimanapun juga ancaman kelompok radikal-teroris di neg­eri besar dan pluralistik seperti Indonesia tentu sangat fatal. Negara-negara yang relatif homo­gen seperti Iraq dan Syiria bisa porak poranda apalagi negara besar seperti Indonesia.

Siapa sesungguhnya kelompok radikal itu? Masyarakat kita masih banyak yang belum me­mahami dengan jelas apa dan siapa kelompok radikal-teroris itu, terlebih dengan banyaknya istilah yang silih berganti digunakan oleh media seperti kelompok ekstrim, kelompok garis keras (hard liner), kelompok ISIS (Islamic State in Iraq and Sham) dan Alqaeda. Ada orang yang me­nyamakan antara Kelompok radikal dan kel­ompok ekstrem atau teroris dan ada pula yang membedakannya. Ada yang menganggap Kel­ompok Radikal sama dengan orang yang ber­pegang teguh kepada perinsip ajaran agama, sehingga ia menyamakan antara Kelompok radikal dan kelompok fundamental. Ada lagi orang semaunya menggunakan istilah-istilah tersebut secara bebas, sehingga terkadang orang alim yang taat beragama melampaui rata-rata orang lain dijuluki kelompok ekstrim beragama, atau banyak lagi istilah lain dalam bahasa Inggeris dan bahasa Arab yang sudah familiar di Indonesia.

Mengklaim orang lain sebagai kelompok fun­damentalis dengan konotasi radikal, hanya lan­taran orang itu sangat taat menjalankan praktek keagamaan, dengan kata lain, mengelompok radikalkan orang yang bukan radikal, sama ba­hayanya kelompok radikal itu sendiri, karena sama-sama menjadikan orang lain yang tak berdosa menjadi korban. Kalau kelompok per­tama bisa mencelakakan orang lain yang tak berdosa lantaran mereka tidak sefaham secara ideologi, maka kelompok kedua juga bisa mem­bunuh karier dan merusak nama baik orang lain lantaran klaim yang keliru. Meng-ISIS-kan orang yang bukan ISIS juga bisa menyebabkan hancurnya nama baik dan karier seseorang.


Kelompok radikal-teroris biasa diartikan den­gan suatu kelompok yang memiliki faham atau aliran tertentu yang berusaha melakukan pe­rubahan dan pembaharuan dengan menem­puh cara-cara kekerasan ekstrem. Cara-cara kekerasan itu antara lain menghalalkan segala cara di dalam mencapai tujuannya, termasuk melakukan tindakan pengeboman, penculi­kan, perampokan, dan tindakan kriminal lain­nya untuk memperoleh dana guna membiayai perjuangannya. Kelompok Radikal juga berusa­ha mengganti tatanan nilai yang ada di dalam masyarakat sesuai dengan ideologi yang dia­nutnya. Simbol perjuangan yang mereka usung ialah jihad untuk melawan kekafiran. Negara yang tidak menjalankan syari'ah Islam disebut negara kafir dan orang-orang yang mendukung­nya juga disebut kafir yang halal darahnya.

Kelompok radikal-teroris selalu mengajak orang untuk hijrah, yakni meninggalkan negara kafir menuju ke negara Islam, misalnya hijrah dari NKRI ke NII. Orang-orang yang berkuasa di negara kafir tersebut juga dianggap kafir. Ke­kayaan yang dimiliki negara kafir halal untuk dimiliki dengan cara apapun karena itu milik musuh. Jika harta itu dimiliki dianggap fae atau ganimah, harta yang diperoleh melalui jihad. Jika mati di dalam perjuangan tersebut maka disebut syuhada', atau mujahid yang gugur di jalan Allah. Mereka akan langsung masuk syur­ga dan dijemput oleh puluhan bidadari. Mem­bunuh orang dengan cara apapun tidak ada masalah karena dianggap suasana perang. Apalagi negara kafir tadi juga disebut negara yang wajib diperangi (Dar al-Harb).

Populer

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

KPK Didesak Panggil Zita Anjani Buntut Harta Meroket 1.000 Persen

Kamis, 18 Juni 2026 | 04:19

UPDATE

Roy Suryo dan dr. Tifa Dirawat di RS Polri atas Rekomendasi Dokter

Sabtu, 20 Juni 2026 | 08:10

Israel Bom Lebanon Selatan, 16 Tewas di Tengah Sengkarut Gencatan Senjata

Sabtu, 20 Juni 2026 | 07:57

Pemulangan Haji 2026 Tembus 121 Ribu Orang, Ratusan Kloter Sudah Tiba di Tanah Air

Sabtu, 20 Juni 2026 | 07:50

Emas dan Perak Tertekan Dolar AS

Sabtu, 20 Juni 2026 | 07:38

Indonesia Tetap di Jalur Emerging Market, Airlangga Janji Tuntaskan Reformasi

Sabtu, 20 Juni 2026 | 07:19

STOXX 600 Terkoreksi, Saham Barang Mewah di Zona Merah

Sabtu, 20 Juni 2026 | 07:06

Pasokan Batu Bara untuk Pembangkit Listrik Harus Aman, Ini Solusinya

Sabtu, 20 Juni 2026 | 06:58

Saat Negara dan Masyarakat Berbenah

Sabtu, 20 Juni 2026 | 06:40

Pemerintah RI Diminta Serius Selamatkan ABK Indonesia yang Disandera Perompak Somalia

Sabtu, 20 Juni 2026 | 06:12

Dilema Tuntutan Mahasiswa

Sabtu, 20 Juni 2026 | 05:55

Selengkapnya