Berita

Politik

PSI: Langkah Kurangi Ketergantungan AS Sudah Tepat

SENIN, 09 JULI 2018 | 12:54 WIB | LAPORAN: WIDIAN VEBRIYANTO

Keputusan Presiden Joko Widodo menjaga jarak aman dengan Amerika Serikat di bidang perekonomian diapresiasi Partai Solidaritas Indonesia (PSI).

Jurubicara PSI bidang Ekonomi, Industri, dan Bisnis Rizal Calvary Marimbo menjelaskan bahwa dengan keputusan itu, Indonesia kini tak lagi tergantung dengan AS. Sehingga, posisi tawar Indonesia lebih tinggi.

“Coba kalau dulu kita lanjutkan ketergantungan kita sepenuhnya dengan AS. Mati kita didikte habis,” ucapnya dalam keterangan tertulis yang diterima redaksi, Senin (9/7).


Atas alasan itu, dia menyebut bahwa ancaman perang dagang yang dilayangkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump kepada Indonesia menjadi bukti arah kiblat ekonomi era Jokowi sudah benar.

Kata dia, dengan menarik kiblat ekonomi nasional dari AS, kemandirian Indonesia lebih membaik dibandingkan sebelumnya. Dia mengatakan, bila ekonomi RI dulunya berkiblat ke AS, maka saat ini akan sangat dikecewakan Indonesia.

“Sebab faktanya, Presiden Trump malah menabuh perang dagang dengan Indonesia,” sambungnya.

Rizal mengatakan ketergantungan Indonesia kepada investasi AS terus menurun terus menurun secara signifikan. Pada tahun 2013, investasi Amerika Serikat sempat mencapai 2,4 miliar dolar AS. Namun nilai tersebut terus menurun hingga 2016 hanya sebesar 1,2 miliar dolar AS. Bahkan pada tahun 2015, investasi Amerika Serikat hanya mencapai angka 893 juta dolar AS.

“AS tidak masuk lima besar,” ucap dia.

Rizal menambahkan Indonesia sudah masuk dalam radar perang dagang dengan Amerika, sejak Donald Trump memasukan Indonesia dalam 16 negara mitra dagang utama yang memiliki neraca perdagangan tidak seimbang pada 2016 lalu.

Berada di urutan pertama adalah China yang menyumbang defisit mencapai 347 miliar dolar AS. Disusul oleh Jepang sebesar 68,9 miliar dolar AS, Meksiko sebesar 63,2 miliar dolar AS, Irlandia 35,9 miliar dolar AS, dan Vietnam senilai 32 miliar dolar AS.

Beberapa negara lain yang juga menyumbang defisit neraca perdagangan AS adalah India, Italia, Korea Selatan, Malaysia, Thailand, Perancis, Taiwan, Kanada, dan termasuk Indonesia. [ian]

Populer

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Kekesalan JK Dipicu Sikap Gibran dan Serangan Termul

Senin, 20 April 2026 | 12:50

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

Camat hingga Dirut PDAM Kota Madiun Digarap KPK

Kamis, 16 April 2026 | 13:50

UPDATE

Permintaan Chip AI Dongkrak Saham Intel hingga 24 Persen

Sabtu, 25 April 2026 | 12:18

Apa Itu UNCLOS? Dasar Hukum Jadi Acuan Indonesia di Selat Malaka

Sabtu, 25 April 2026 | 12:03

Purbaya Siap Geser hingga Non-Job Pegawai Pajak Bermasalah

Sabtu, 25 April 2026 | 12:02

Jalan Mulus Kevin Warsh ke Kursi The Fed, Dolar AS Langsung Terkoreksi

Sabtu, 25 April 2026 | 11:45

Subsidi Motor Listrik Disiapkan Lagi, Pemerintah Bidik 6 Juta Unit

Sabtu, 25 April 2026 | 11:16

IHSG Sepekan Anjlok 6,61 Persen, Kapitalisasi Pasar Menciut Jadi Rp12.736 Triliun

Sabtu, 25 April 2026 | 10:59

Rupiah Melemah, DPR Desak Pemerintah Jaga Daya Beli Rakyat

Sabtu, 25 April 2026 | 10:48

Wamen Ossy Gaspol Benahi Layanan Pertanahan: Target Tanpa Antrean dan Lebih Cepat

Sabtu, 25 April 2026 | 10:27

Ketergantungan pada Figur, Cermin Lemahnya Demokrasi Internal Parpol

Sabtu, 25 April 2026 | 10:02

Netanyahu Akui Sempat Jalani Terapi Kanker Secara Diam-diam

Sabtu, 25 April 2026 | 09:51

Selengkapnya