Berita

Nusantara

Waspada Arwah HTI Gentayangan Di Pilgub Sumut

MINGGU, 24 JUNI 2018 | 23:50 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

. Semua pihak diimbau untuk mewaspadai gentayangannya arwah Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) di Pilkada Sumatera Utara. Meski secara organisatoris sudah mati setelah dibubarkan pemerintah dan kalah di PTUN tapi nyatanya arwah HTI tetap ada.

Imbauan disampaikan Ketua Umum Pujakessuma Nusantara Suhendra Hadi Kuntono. Dia menyebut arwah HTI gentayangan di Pilkada Sumut bisa dilihat dari spanduk-spanduk dan baliho-baliho bernada provokatif dan bernuansa SARA yang bertebaran di hampir seluruh wilayah Sumut, terutama di Medan.

Salah satu baliho bertuliskan "Larangan memilih/mengangkat kafir sebagai pemimpin lebih banyak daripada larangan berzina, memakan babi, dan meminum khamar/miras".


"Spanduk tak terkecuali terpasang di tempat-tempat ibadah," kata Suhendra melalui pesan elektronik yang diterima redaksi, Minggu (24/6).

Pujakessuma Nusantara merupakan ormas putra-putri Jawa Kelahiran Sumatera, Sulawesi dan Maluku. Suhendra menyebut polarisasi di Pilkada DKI bisa terjadi di Pilkada Sumut. Karenanya dia menegaskan harus waspada dengan arwah HTI.

"Ini berbahaya karena bisa memecah belah masyarakat Sumut. Jangan sampai polarisasi masyarakat ke dalam dua kubu yang terjadi di Pilkada DKI Jakarta terjadi pula di Pilkada Sumut. Untuk merukunkan kembali butuh waktu lama,” jelasnya.

Pilkada Sumut 2018 diikuti dua pasangan calon gubernur-wakil gubernur, yakni Edy Rahmayadi-Musa Rajekshah atau Eramas dengan nomor urut 1, dan Djarot Saiful Hidayat-Sihar P Sitorus atau JOSS dengan nomor urut 2.

Erasmas didukung koalisi Partai Gerindra, Partai Golkar, PKS, PAN, Partai Hanura, Partai Nasdem dan Perindo. Sedangkan JOSS didukung koalisi PDIP dan PPP. Adapun Sihar Sitorus satu-satunya calon non-muslim.

Suhendra mensinyalir, spanduk dan baliho bernada provokatif dan bernuansa SARA tersebut dipasang oleh pendukung Eramas karena frustrasi elektabilitas atau tingkat keterpilihan jagoannya kalah dari JOSS. Hal ini terlihat dari hasil sigi sejumlah lembaga survei.

"Program pasangan yang mereka dukung juga tidak lebih baik dari program JOSS, sehingga mereka menggunakan isu SARA untuk mengalahkan JOSS. Ini persis dengan yang terjadi di Pilkada DKI Jakarta," sebutnya.[dem]

Populer

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

UPDATE

Fenomena, Warga Sumsel Ramai-Ramai Siarkan Banjir Secara Live

Minggu, 05 April 2026 | 21:48

Besok Jusuf Kalla Laporkan Rismon Sianipar ke Bareskrim Polri

Minggu, 05 April 2026 | 21:29

Kejagung Periksa Kajari Karo Danke Rajagukguk

Minggu, 05 April 2026 | 20:57

Rekan Akmil Kenang Dedikasi Mayor Zulmi di Medan Tugas

Minggu, 05 April 2026 | 20:47

LPSK: RUU PSDK Harus Perkuat SIstem Perlindungan Saksi dan Korban

Minggu, 05 April 2026 | 20:31

JK: Saya Kenal Roy Suryo, Tapi Tak Pernah Danai Isu Ijazah Jokowi

Minggu, 05 April 2026 | 19:58

Simpan Telur di Kulkas, Dicuci Dulu atau Tidak?

Minggu, 05 April 2026 | 19:56

BRIN Ungkap Asa-Usul Cahaya Misterius di Langit Lampung

Minggu, 05 April 2026 | 19:15

Mayor Anumerta Zulmi Salah Satu Prajurit Terbaik Kopassus

Minggu, 05 April 2026 | 18:51

Terendus Skema Gulingkan Prabowo Lewat Rekayasa Krisis dan Kerusuhan

Minggu, 05 April 2026 | 18:33

Selengkapnya