Berita

Adhie M Massardi

Inggris Juara Dunia, Dalam Kesombongan Sepakbola

MINGGU, 24 JUNI 2018 | 16:20 WIB | OLEH: ADHIE M. MASSARDI*

BRASIL boleh bangga sebagai negara paling sukses dalam sepakbola karena sudah mengoleksi 5 kali gelar juara Piala Dunia. Atau Italia dan Jerman yang masing-masing pernah 4 kali memenangi kompetisi sepakbola 4 tahunan itu. Uruguay juga punya hak nepuk dada karena dicatat sejarah sebagai negara pertama yang meraih prestasi tertinggi di ajang supremasi sepakbola dunia itu.

Akan tetapi kenyataannya, fakta yang kita bisa lihat sehari-hari, negara yang paling sombong dalam sepakbola ternyata Inggris. Begini ceritanya:

Semua negara anggota Federasi Sepakbola Internasional (FIFA) punya asosiasi atau konfederasi sepakbola. Setiap asosiasi/konfederasi mencantumkan nama negara asal, dan tercatat dalam akronimnya.


Brasil, misalnya, punya CBF, konfederasi sepakbola yang huruf "B" dalam akronim itu kepanjangan dari Brasil, atau lengkapnya Confederação Brasileira de Futebol (ini bahasa Portugis!). Di Perancis akronimnya FFF (Fédération Française de Football), dan di Italia FIGC (Federazione Italiana Giuoco Calcio).

Indonesia yang juga anggota FIFA punya PSSI yang huruf "I"nya kepanjangan dari nama negara: Indonesia. Sedangkan di Amerika Serikat namanya USSF (United States Soccer Federation), dan sepakbola Jerman berada di bawah kendali organisasi DFB (Deutscher Fussball-Bund) yang huruf "D"nya kepanjangan dari "Deutscher", nama alias negara Jerman.

Tapi orang-orang Inggris bikin asosiasi sepakbola "FA" doang! FA itu singkatan dari Football Association, asosiasi sepakbola! Seolah dunia sepakbola atau sepakbola dunia itu milik mereka. Sehingga tidak perlu menambah huruf "E" sebagai kepanjangan dari "England" sehingga akronimnya menjadi "EFA" atau "FAE".

Memang, didirikan pada 1863, "The FA" adalah asosiasi sepakbola tertua di muka bumi. Karena di masa lalu Inggris adalah negara paling sukses sebagai penjajah, maka persepakbolaan di negara-negara yang menjadi koloninya otomatis berada di bawah kendali The FA.

Bukan hanya itu. Peraturan, tatacara atau Laws of the Game sepakbola modern yang sekarang berkembang di seluruh dunia, dasar-dasarnya banyak digagas oleh para pengurus FA, kemudian diakomodasi dan ditetapkan sebagai aturan resmi sepakbola dunia oleh FIFA yang baru didirikan pada 21 Mei 1904 di Paris, Perancis. (Inilah sebabnya FIFA akronim dari Fédération Internationale de Football Association dan tidak berbahasa Inggris International Federation of Football Association yang kalau disingkat menjadi IFFA…!).

Oya, karena kedudukannya yang strategis dalam sejarah sepakbola dunia, pengurus FA menjadi anggota tetap di International Football Association Board (IFAB), semacam Dewan Keamanan di PBB, yang tugasnya membuat aturan dan hukum di dunia persepakbolaan. Inovasi VAR (Video Assistant Referee) digodok dan disahkan oleh lembaga ini sebelum dilaksanakan FIFA.

Inggris Membuktikan Kesombongannya

Meskipun prestasi sepakbola internasionalnya kurang memuaskan, tercatat baru sekali menjuarai Piala Dunia, itu pun karena pada 1966 jadi tuan rumah, kesombongan Ingrris ada dasarnya. Bukan hanya karena peran sejarahnya dalam dunia sepakbola, tapi kontribusi, intensitas dan kesungguhannya dalam mengatur tata-kelola sepakbola sebagai industri (tontonan) yang bermanfaat bagi banyak orang.

Benar, istilah hooligans (penonton sepakbola biang kerusuhan) lahir di Inggris. Puncak kebrengsekan para hooligan terjadi di Stadion Heysel di Brussels, Belgia, 29 Mei 1985, saat gelaran final Liga Champions yang mempertandingkan Liverpool vs Juventus.

Suporter Liverpool bentrok dengan pendukung Juventus yang jumlahnya lebih sedikit. Tembok stadion rubuh. Akibatnya, sebanyak 39 orang meninggal dan 600 lebih lainnya luka-luka. UEFA pun menskor, melarang semua klub Inggris tampil di pentas internasional selama 5 tahun.

Gara-gara skorsing itu, FA kemudian melakukan berbagai upaya untuk mengubah citra sepakbola dari semula tontonan kaum lelaki (macho) yang cenderung sangar, menjadi sepakbola sebagai tontonan keluarga. Munculnya gambar perempuan cantik, anak-anak, bahkan terkadang para prince dan princess Kerajaan Inggris dalam siaran (langsung) pertandingan sepakbola, adalah bagian dari cara FA menjinakan dunia sepakbola.

Hasil jerih payah FA itu bukan hanya dinikmati oleh klub-klub sepakbola Inggris yang kemudian menuai penggemar luar biasa di seluiruh dunia, tapi oleh semua komunitas sepakbola di muka bumi. Kalau ada ibu-ibu muda mengantar anak laki-lakinya ke tempat kursus sepakbola, itu antara lain hasil kerja orang-orang Inggris di dalam FIFA.

Nah, di Rusia nanti malam, timnas Inggris akan membuktikan kesombongannya saat berhadapan dengan Panama (19.00). Tim berjuluk The Three Lions yang dikapteni Harry Kane ini tentu tak akan kesulitan menambah tiga poin sehingga lolos ke babak 16 besar menemani Belgia yang sudah lebih dulu melaju setelah mengalahkan Korea Selatan dan Tunisia.

Kendati bukan tim yang diunggulkan, melihat penampilan mereka saat mengalahkan Tunisia (2-1) pekan lalu, Inggris bisa melaju ke babak-babak penting selanjutnya. Makanya, beruntung Inggris, Eslandia dan beberapa negara Eropa lainnya batal memboitkot Piala Dunia 2018 sebagai protes ulah Rusia yang seenaknya membunuh Sergei Skripal (66) yang dituduh membelot di Inggris.

Pertandingan lainnya malam ini antara Jepang vs Senegal dan Polandia vs Kolombia di hanya akan memberi kepastian pada posisi masing-masing di klasemen di Grup H. Jepang dan Senegal akan tetap di posisi atas, sedangkan Polandia dan Kolombia di bawahnya.[***]

@AdhieMassardi

Populer

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

Tiket Jakarta Fair Tidak Ramah Kantong Rakyat Berpenghasilan Rendah

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:21

UPDATE

Kampus Demokrasi Obama

Selasa, 23 Juni 2026 | 05:54

Presiden Prabowo Kemudikan Kapal Indonesia Menuju Ekonomi Pancasila

Selasa, 23 Juni 2026 | 05:36

Merekonstruksi Ulang Konsolidasi Kebangsaan

Selasa, 23 Juni 2026 | 05:18

Keberadaan DSI Perlu Dievaluasi Ulang dalam Tata Niaga Sawit

Selasa, 23 Juni 2026 | 04:59

Usaha Jufriyah Terus Keruk Cuan Bersama BRI

Selasa, 23 Juni 2026 | 04:34

Perdamaian AS-Iran Tanpa Israel

Selasa, 23 Juni 2026 | 04:16

Turnamen Tenis Meja Masduki Cup 2026 Mengukir Asa Menuju Pentas Dunia

Selasa, 23 Juni 2026 | 03:55

BRI Consumer Expo 2026 Makassar Hadirkan Berbagai Solusi Finansial

Selasa, 23 Juni 2026 | 03:35

Koperasi Menjaga Keseimbangan

Selasa, 23 Juni 2026 | 03:15

Gaya Hidup Sehat dan Kebersamaan Harus jadi Kebutuhan

Selasa, 23 Juni 2026 | 02:55

Selengkapnya