Berita

Publika

Negara Dalam Keadaan Oleng

SABTU, 23 JUNI 2018 | 12:57 WIB

HARI ini, Indonesia tak lebih dari puncak karya dominasi Barat.  Senjakala nasib bangsa hampir tiba. Tidak ada pilihan lain. Kembali ke UUD 1945 (asli) adalah harga mati.

Nilai-nilai luhur Pancasila akan menjadi sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara. Liberalisasi semua sektor akan dihentikan.

Program deliberalisasi akan dijalankan secara masif dan progresif-revolusioner. Deliberalisasi politik akan disertai dengan deliberalisasi ekonomi. Tidak ada lagi Demokrasi Liberal. Tidak ada lagi Ekonomi Liberal. Di satu sisi utang luar negeri dan investasi asing dikendalikan, di sisi lain mobilisasi kapital domestik dilakukan secara determinan.


Pemangkasan subsidi, dilepasnya kontrol negara terhadap harga dan dihapusnya pembatasan usaha individual -sebagaimana pernah diadopsi oleh konsep "500 Days Program" (1990) yang sempat merubuhkan bangunan ekonomi Rusia di era Boris Yeltsin dan "Harvard-Yavlinsky Plan" atau "Grand Bargain" (2011) yang menangguk kritik habis-habisan di Amerika Serikat, akan dijauhi.

Sebagai alat koreksi terhadap ketidaksempurnaan pasar (market imperfections) dan salah satu instrumen kebijakan fiskal untuk menjaga pemerataan akses ekonomi dan pembangunan, subsidi sosial akan dipertahankan. Karena mekanisme pasar mengancam hak rakyat atas harga yang terjangkau (affordable price) untuk komoditi atau cabang produksi penting yang menguasai hajat hidup orang banyak, ideologi sesat tersebut pantas dikubur dalam-dalam oleh sejarah.

Sebaliknya, redistribusi kekayaan, landreform, nasionalisasi PMA, kontrol ketat sumber daya alam dan penangguhan pembayaran utang luar negeri patut diperjuangkan oleh pemerintah.

Kelak, Indonesia takkan diobral lagi dan menjadi ladang jarahan bangsa asing. Indonesia takkan dijual dengan harga berapapun juga.

Indonesia bukan subordinat OGOS maupun OBOR. Negara akan mengontrol secara ketat sektor-sektor strategis yang menentukan hajat hidup rakyat.

Sektor-sektor strategis tersebut akan dimiliki (owned), diurus (managed) dan dikerjakan (operated) oleh negara. Negara akan menempatkan diri sebagai planner (perencana), regulator (pengatur) dan player (pemain).

Kita akan berdiri di atas kaki kita sendiri. Kita akan berdiri di atas martabat, kehormatan dan harga diri kita. Sebagai bangsa merdeka, sebagai bangsa berdaulat. ***

Nugroho Prasetyo

Panglima Front Pembela Rakyat (FPR)

Populer

Kafe Diduga terkait Jampidsus Digeledah

Rabu, 08 Juli 2026 | 16:36

AHY dan Ibas Dilaporkan ke KPK Buntut Lonjakan Harta

Senin, 06 Juli 2026 | 14:49

Terima Kasih Bang Refly, Nama Saya Sudah Diubah jadi ‘Si Udin’

Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14

Pengacara Nadiem Makarim Dilaporkan ke Peradi Buntut Ucapan "Yang Mulia Takut Ya"

Senin, 06 Juli 2026 | 18:36

Jokowi Tinggalkan Jejak Buruk bagi Masyarakat Adat Lampung

Rabu, 01 Juli 2026 | 04:23

KPK-PPATK Diminta Pastikan Harta AHY dan Ibas dari Sumber Halal

Senin, 06 Juli 2026 | 17:38

KPK Dikabarkan Kembali Gelar OTT di Sumut

Kamis, 02 Juli 2026 | 20:50

UPDATE

Uang Tunai Rp476 Miliar, Emas Batangan, Dokumen dan Foto Keluarga Disita dari Rumah di Sentul

Kamis, 09 Juli 2026 | 12:24

Beredar Kabar Mantan Sekjen MPR Maruf Cahyono Hari Ini Ditahan

Kamis, 09 Juli 2026 | 12:15

KPK Panggil Mulyono di Kasus Suap Audit BPK Pemkab Muara Enim

Kamis, 09 Juli 2026 | 12:11

ASN PPPK Layak Peroleh Jaminan Pensiun

Kamis, 09 Juli 2026 | 12:09

Koruptor Berkedok Penegak Hukum Pengkhianat Terbesar Bangsa

Kamis, 09 Juli 2026 | 12:07

Tanya Seputar Jaksa

Kamis, 09 Juli 2026 | 12:00

Respons Santai Usulan Jawa Barat jadi Tatar Sunda, DPR: Fokus Kerja Sajalah!

Kamis, 09 Juli 2026 | 11:57

MPR dan MK Sepakat Tak Saling Intervensi Kewenangan Lembaga

Kamis, 09 Juli 2026 | 11:41

Masih Digodok DPR, Publik Diminta Tak Khawatir Usulan Kenaikan BPIH 2027

Kamis, 09 Juli 2026 | 11:31

KPK Sita 12 Ribu Dolar Singapura dari Ketua DPRD Kuansing

Kamis, 09 Juli 2026 | 11:22

Selengkapnya