Berita

Nasaruddin Umar/Net

Sosiologi Terorisme (19)

Membenahi Kurikulum Pelajaran Agama

KAMIS, 21 JUNI 2018 | 08:36 WIB | OLEH: NASARUDDIN UMAR

BANYAK upaya dilakukan untuk mengeliminir kelom­pok radikal, khususnya tero­ris. Salahsatu di antaranya ialah membenahi materi ajar dan buku-buku sumber (turats) di Lembaga-lembaga Pendidikan. Mulai dari tingkat paling rendah di Taman Kanak-kanak sampai kepada perguruan tinggi. Setelah membe­nahi kurikulum, dilakukan kajian mendalam tentang literatur-literatur standar tentang ilmu-ilmu keagamaan. Jika sebuah buku ber­potensi menumbuh kembangkan faham garis keras maka tidak ada cara lain buku itu perlu ditarik atau di-"rewriting", ditulis ulang dengan perspektif yang lebih komprehensif.

Pada umumnya tema deradikalisasi yang dilakukan di banyak negara ialah berkisar pada pemahaman kembali ajaran-ajaran dasar agama yang bersifat universal. Di dalam Islam, diupayakan untuk memahami kembali ayat-ayat dan hadis yang difahami secara tekstual dan memutuskan historical background dan maqashid al-syari’ah. Sasaran deradikalisasi biasanya kurikulum dan bahan ajar seperti buku-buku, jurnal, materi-materi ceramah. Tidak terkecuali orang dan lembaga juga sering menjadi sasaran deradikalisasi sep­erti yang kita lihat di dalam sejumlah Negara. Penyisiran kurikulum dan bahan bacaan ham­pir semua negara melakukannya, termasuk Indonesia. Hanya saja cara masuknya berbeda-beda. Ada negara yang menyisir kurikulum dan silabus dengan mendrop seluruh materi yang berpotensi bisa menimbulkan pemahaman keras. Ada juga dengan cara-cara memberikan perbandingan dengan pendapat atau pandan­gan lain, meskipun dalilnya sama. Cara-cara seperti umum dilakukan, termasuk di Indonesia. Materi perbandingan mazhab (muqaranah al-madzahib) menjadi materi penting di dalam pembelajaran agama. Materi pengenalan dasar agama-agama lain juga diperkenalkan atau diajarkan di dalam jenjang pendidikan tertentu agar peserta didik tidak hanya mengenal kebai­kan agamanya sendiri tetapi pada agama lain terdapat juga ajaran kebaikan.

Buku-buku bacaan dan terbitan juga diken­dalikan dengan cara menyeleksi bahan-bahan bacaan peserta didik. Tentu dengan cara ini tidak mudah karena bahan bacaan sekarang tidak hanya dalam bentuk buku yang gampang diatur pendistribusiannya. Yang lebih berat ialah dalam bentuk e-books atau internet, yang bisa menyuguhkan apapun, termasuk bagaimana cara merakit bom. Terbukti sejumlah kasus kejadian bom pelakunya mengaku belajarnya dari internet. Bagi orang yang berbakat dan memiliki keinginan dan motivasi kuat bisa saja menemukan ide-ide cerdas melalui internet, sementara internet sekarang sudah sangat personal, karena melekat di dalam HP yang diakses kapan saja dan di mana saja.


Sasaran lain yang sering dijadikan target ialah orang-orang atau kelompok, yayasan, lembaga yang dicurigai memiliki jaringan khusus yang berpotensi menggalang kekuatan untuk menciptakan keresahan dengan melakukan se­rangkaian kekerasan atau ancaman kekerasan di dalam masyarakat. Bagi mereka targetnya adalah menimbulkan kepanikan dan ketakutan publik. Dengan begitu mereka menganggap separuh targetnya sudah tercapai. Karena itu, peran media juga sangat penting. Media bisa menemukan sarang teroris atau kelompok-kelompok mengkhawatirkan, tetapi dengan media juga kelompok-kelompok itu menjadi besar karena selalu dibesar-besarkan.

Hal lain yang sering menjadi tema ialah masalah pencegahan, penindakan, rehabilitasi, dan reintegrasi. Keempat persoalan ini bukan hanya menjadi tanggung jawab pihak keamanan atau pemerintah, tetapi semua pihak, termasuk lingkup keluarga sebagai unit masyarakat terkecil. Pencegahan, penindakan, dan rehabilitasi bisa saja diemban oleh pemerintah bersama segenap aparat hukum dan keamanan, tetapi masalah reintegrasi harus menjadi bagian yang tak ter­pisahkan dengan masyarakat luas. Di sini sering muncul masalah penting dan amat mendesak, karena rata-rata pelaku teroris itu masih mudah usia, sehingga kalau mereka dipenjara lima tahun misalnya, mereka masih memiliki usia yang cukup panjang. Jika masyarakat menolak kehadiran­nya maka tidak mustahil mereka akan mencari kembali jaringan lamanya. Bagaimanapun juga mereka juga adalah manusia biasa yang mem­butuhkan hak-hak hidup yang standar seperti makan. ninum, berkeluarga, dan bersosialisasi. Jika mereka ditolak oleh masyarakat mereka mau kemana, tentu pada akhirnya mereka dengan sendirinya akan berubah.

Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Bonatua akan Diperiksa Bareskrim terkait Dugaan Pemalsuan Dokumen Suket Gibran

Rabu, 04 November 2026 | 23:19

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Boikot Raffi Ahmad-Willie Salim Cederai Nilai Demokrasi

Senin, 02 November 2026 | 20:11

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

KPK Bongkar Dugaan Akal-akalan Cukai Rokok PT Djarum Sejak 2010

Senin, 02 November 2026 | 15:43

UPDATE

Irjen Slamet Uliandi Tersangka Keempat Kasus Penyadapan Telepon Prabowo

Jumat, 06 November 2026 | 02:03

Dzulfikar dan Fuji Abdul Tekankan Intelektualisme Pemuda untuk Pengabdian Bangsa

Jumat, 06 November 2026 | 01:31

Pramono Bertahap Menata Parkir Liar hingga Fasilitas Tanah Abang

Jumat, 06 November 2026 | 01:17

Kalau Hasil Labfor Polri Diragukan, Siapa Lagi yang Mau Dipegang?

Jumat, 06 November 2026 | 01:05

Menjaga Riau dari Ancaman Karhutla Lewat Mitigasi Berkelanjutan

Jumat, 06 November 2026 | 00:32

PPKK Perkuat Pengamanan Kawasan Kemayoran

Jumat, 06 November 2026 | 00:17

Tunjukkan Ijazah di Pengadilan Belum Tentu Akhiri Polemik

Jumat, 06 November 2026 | 00:08

Listyo Sigit Cs Pakai Mesin Sadap Seharga Rp212 Miliar

Kamis, 05 November 2026 | 23:39

Gratis Masuk Ancol Bulan November, Cek Caranya

Kamis, 05 November 2026 | 23:12

Jokowi Menolak Ijazah Diuji Ulang, Pengamat: Apa karena Kapolri sudah Diganti?

Kamis, 05 November 2026 | 23:01

Selengkapnya