Berita

Mohamad Natsir/Net

Wawancara

WAWANCARA

Mohamad Natsir: Nomor HP Dosen Dan Media Sosial Mahasiswa Kami Catat, Kami Pantau

SELASA, 05 JUNI 2018 | 08:25 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Tim Densus 88 Anti-Teror Mabes Polri menangkap tiga ter­duga teroris di kawasan kampus Universitas Riau, di Jalan HR Soebrantas Kecamatan Tampan, Pekanbaru, Riau, Sabtu (2/6) pe­kan lalu. "Mereka bukan maha­siswa, tetapi sudah alumni," kata Kapolda Riau Irjen Nandang.

Lantas bagaimana Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi menanggapi hal ini? Berikut penjelasan selengkapnya dari Menristekdikti, Mohamad Natsir.

Apakah Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi merasa kecolongan dengan penangkapan teroris di Universitas Riau?
Bukan kecolongan, saya sudah berkali-kali cerita kasus ini sudah ada sejak tahun 1983 setelah ada normalisasi kehidupan kampus dan badan koordinasi kemaha­siswaan alias NKK/BKK.

Bukan kecolongan, saya sudah berkali-kali cerita kasus ini sudah ada sejak tahun 1983 setelah ada normalisasi kehidupan kampus dan badan koordinasi kemaha­siswaan alias NKK/BKK.

Kemudian kampus ada keko­songan kegiatan terus diisi mereka. Hal ini berjalan sampai sekarang, bahkan tidak hanya di perguruan tinggi, baik di SMP dan SMA pun terjadi hal yang sama gurunya terpapar, maha­siswanya pun ikut terpapar.

Lantas cara mencegah hal ini seperti apa?

Saya berencana menggalak­kan program bela negara dan wa­wasan kebangsaan pascakeluarnya peraturan pelarangan terhadap Hizbut Tahrir Indonesia. Dengan demikian kami akan melakukan dengan cara yang lebih giat. Sekarang pun saya telah bekerjasama dengan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) agar apa yang terjadi di Riau, atau nantinya muncul di mana saja tidak ter­jadi lagi.

Seperti apa kerjasama pengawasan dengan BNPT?

Kami memonitoring semua para dosen dan mahasiswa. Untuk pendataan nanti kami akan lakukan pencatatan semua nomor handphone yang dimiliki dosen. Sedangkan media sosial para mahasiswa kami catat semuanya. Hal ini bertujuan agar kami mengatahui informasi dari para dosen maupun ma­hasiswa.

Apakah BNPT juga dilibat­kan untuk memantau acara-acara di kampus?
Kalau memantau juga tidak­lah. Pasalnya, kami melakukan kerja sama sejak 2015 saat saya menandatangani nota kesepa­haman (MoU). Dengan hal ini saya menindaklanjuti hingga sekarang. Nah, sekarang saya meminta setelah keluarnya pera­turan pemerintah tersebut penga­wasan lebih intensif.

Jadi tidak ada istilah kam­pus steril dari pemeriksaan. Kampus bukan mimbar akade­mik orang lain. Kalau meng­ganggu keamanan apapun itu dan di mana pun itu harus di­lakukan penindakan. Jadi saya sangat tidak setuju kampus tidak boleh dimasuki.

Tapi penggeledahan di UNRI beberapa hari lalu pihak kepoli­sian membawa senjata api?
Laras panjang atau laras pendek bagi saya bukan urusan itu. Pokoknya yang menganggu keamanan kami persilakan untuk masuk.

Terkait Kampus UNRI apa yang Anda akan lakukan?
Saya terus menerus melaku­kan deteksi dini. Pada saat itu saya telah berpikir kejadian ini akan terjadi. Ternyata bukan dari mahasiswa Riau namun alumni dari Riau datang ke kampus UNRI. Alhasil mereka membuat negara tak aman. Nah ini tidak boleh dan harus kami bersihkan semuanya.

Apakah Anda akan memanggil rektor UNRI?
Sudah saya panggil. Nanti tanggal 25 Juni saya akan kum­pulkan rektor Perguruan Tinggi Negeri, Direktur Politeknik Kopertis. Saya akan kumpulkan dan bicara detail bagaimana cara sistem pengamanan dalam kampus.

Adakah kemungkinan rek­tor UNRI dicopot?
Kemungkinan dengan melihat tingkat kesalahannya. Kalau dia adalah pendukung beda lagi urusannya.

Apakah kejadian di UNRI termasuk kelalain rektor?
Ini belum kami pelajari, mengingat kami tengah mengumpulkan data dan informasi. Karena kampus harus betul-betul bebas dari radikalisme. Harus bersih dan tidak boleh terjadi lagi.

Adakah gambaran kuri­kulum yang akan digalakan Kemenristekdikti untuk ke depannya?

Gambaran kurikulum kami akan design kampus harus bisa memahami terhadap keadaan yang ada di Indonesia. Hal ini bertujuan supaya ada keper­cayaan di dunia kalau kampus tidak aman, apalagi ada orang asing yang masuk. Maka kuri­kulum terkait kebangsaan dan wawasan bela negara itu yang terpenting lantaran selama ini telah hilang.

Apakah kejadian serupa bisa terjadi di kampus-kam­pus lain?
Menurut saya mungkinlah. Makanya kita semua harus be­nar-benar preventif. ***

Populer

Dosen Unikama Kecewa, Lima Bulan Kampus Dikuasai Kelompok Tak Dikenal

Jumat, 30 Januari 2026 | 02:25

Kasus Hogi Minaya Dihentikan, Komisi Hukum DPR: Tak Penuhi Unsur Pidana

Rabu, 28 Januari 2026 | 17:07

Hologram di Ijazah UGM Jadi Kuncian Mati, Jokowi Nyerah Saja!

Senin, 26 Januari 2026 | 00:29

Wanita di Medan Terima Vonis 2 Tahun Usai Gunakan Data Orang Lain untuk Pengajuan Kredit

Jumat, 30 Januari 2026 | 16:50

Jokowi Butuh Perawatan Kesehatan Super Intensif

Jumat, 30 Januari 2026 | 00:41

Rektor UGM Bikin Bingung, Jokowi Lulus Dua Kali?

Rabu, 28 Januari 2026 | 22:51

KPK Amankan Dokumen dan BBE saat Geledah Kantor Dinas Perkim Pemkot Madiun

Rabu, 28 Januari 2026 | 11:15

UPDATE

Jokowi Jadikan PSI Kendaraan Politik demi Melanggengkan Dinasti

Senin, 02 Februari 2026 | 10:15

IHSG "Kebakaran", Sempat Anjlok Hingga 5 Persen

Senin, 02 Februari 2026 | 09:49

Ketegangan Iran-AS Reda, Harga Minyak Turun Hampir 3 Persen

Senin, 02 Februari 2026 | 09:47

Tekanan Pasar Modal Berlanjut, IHSG Dibuka Anjlok Pagi Ini

Senin, 02 Februari 2026 | 09:37

Serang Pengungsi Gaza, Israel Harus Dikeluarkan dari Board of Peace

Senin, 02 Februari 2026 | 09:27

BPKN Soroti Risiko Goreng Saham di Tengah Lonjakan Jumlah Emiten dan Investor

Senin, 02 Februari 2026 | 09:25

Komitmen Prabowo di Sektor Pendidikan Tak Perlu Diragukan

Senin, 02 Februari 2026 | 09:14

Menjaga Polri di Bawah Presiden: Ikhtiar Kapolri Merawat Demokrasi

Senin, 02 Februari 2026 | 09:13

Emas Melandai Saat Sosok Kevin Warsh Mulai Bayangi Kebijakan The Fed

Senin, 02 Februari 2026 | 09:07

Nikkei Positif Saat Bursa Asia Dibuka Melemah

Senin, 02 Februari 2026 | 08:49

Selengkapnya