Berita

Din Syamsuddin/Net

Politik

Ekslusivisme, Absolutisme Dan Monopolistis Masalah Pemuka Agama Di Indonesia Saat Ini

SABTU, 02 JUNI 2018 | 07:16 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

. Utusan Khusus Presiden RI Untuk Dialog Antar Agama dan Peradaban (UKP-DKAAP) Prof. Din Syamsuddin menghadiri Konferensi Pekabaran Injil 2018 di Brastagi, Sumatera Utara pada beberapa waktu lalu.

Konferensi yang berlangsung pada 29 sampai 31 Mei 2018 diselenggarakan oleh Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) bekerjasama dengan Persekutuan Gereja-gereja Pentakosta Indonesia (PGPI) Persekutuan Gereja-gereja dan Lembaga-lembaga Injili Indonesia (PGLII).

Di hadapan lebih dari 300 pemuka agama Kristen, Din Syamsuddin mengakui seringkali umat Muslim tersinggung terhadap perkembangan Misi Kristen di Indonesia. Hal ini karena merasa umatnya digerus. Din menyebut, beberapa penelitian menunjukkan bahwa annual growth rate Protestan meningkat, terutama di beberapa kantong Muslim seperti Yogyakarta dan Sumatera Barat.


"Data-data seperti ini mengentalkan berkembangnya isu kristenisasi, yang pada gilirannya turut mempengaruhi berkembangnya radikalisme Islam di Indonesia," ujar Din dalam keterangannya, Sabtu (2/6).

Menurut Din, ekslusivisme, absolutisme dan monopolistis adalah masalah pemuka agama di Indonesia saat ini. Terutama, ketika pemuka agama menjadikan masyarakat sebagai pasar bebas agama dengan dasar logika kebebasan dan hak azasi.

"Perlu dipahami bahwa misi kerasulan Muhammad SAW adalah menyebarkan rahmat bagi alam semesta. Lil 'alamin artinya seuruh alam, jadi bukan lil muslimin, atau rahmat hanya untuk seluruh Muslim," katanya.

Din pun menuturkan, dalam Muyawarah Besar Pemuka Agama Untuk Kerukunan Bangsa yang diselenggarakan oleh Kantor UKP-DKAAP di Jakarta pada Februari lalu, para pemuka agama telah membahas bersama dasar relasi hubungan antar agama. Telah disepakati, pondasi relasi tersebut harus bersandar pada persahabatan berdasarkan kemanusiaan sejati. Dalam pertemuan itu juga disepakati bahwa NKRI berdasarkan Pancasila adalah final.

"Takdir kita adalah hidup sebangsa di dalam kemajemukan. Untuk itu kita mengaku bahwa bersama kita dari Tuhan, untuk Tuhan dan kemanusiaan. Di dalam Islam, ini yang dimaksudkan dengan rahmatan lil alamin. Hasil Mubes ini akan kita sosialisasikan ke wilayah-wilayah," tutur Din.

Din menggarisbawahi, kerukunan yang diperjuangkan bukan saja berdasarkan kebutuhan bangsa, tetapi juga kebutuhan orang perorang, kelompok per kelompok. Dalam kaitan ini kerukunan tidak boleh menghalangi misi dan dakwah.

"Sebaliknya juga misi dan dakwah tak boleh mengganggu kerukunan," tandasnya.

Dia pun menjelaskan bahwa pada dasarnya agama Islam, Kristen dan Yahudi memiliki lebih banyak persamaan dibandingkan dengan perbedaan. Salah satu contohnya, antara Islam dan Kristen sama-sama menerima Yesus. Bedanya hanya soal penyebutan gelar kepada Yesus. Islam menerimanya sebagai salah satu rasul yang agung, sementara Krisen mengakuinya sebagai Tuhan. Dalam Qur'an penyebutan nama Isa Almasih lebih banyak ketimbang Muhammad.

"Selain itu, agama Islam dan Kristen sama-sama merupakan agama misioner. Kristen menyebutnya misi, sementara Islam menyebutnya dakwah," tambah Din.

Lebih lanjut Din pun menjelaskan, misi maupun dakwah ada yang berhaluan keras, tetapi juga yang halus. Ada yang membangun pandangan dan tujuan untuk menambah jumlah umat, tetapi juga ada yang hanya mengajak ke jalan Allah.

"Jalan Allah dalam pengertian ini merujuk pada kebaikan bersama (common good). Di sini semua agama punya persepsi yang sama, sekalipun sebutannya berbeda. Jelas di sini bahwa dakwah itu bukan untuk mengajak orang masuk Islam, tetapi menuntun orang ke jalan yang benar," tutupnya. [rus]

Populer

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

GAMKI: Ceramah Jusuf Kalla Menyakiti Umat Kristen

Senin, 13 April 2026 | 08:21

UPDATE

Pakar HTN Sambut Baik Putusan MK Perkuat Kedudukan Hasil Audit BPK

Selasa, 21 April 2026 | 18:18

Refly Harun soal Info P21 Kasus Ijazah Jokowi: Itu Ngarang!

Selasa, 21 April 2026 | 18:17

Efek Domino MBG, Pendapatan Petani Naik 60 Persen

Selasa, 21 April 2026 | 18:13

Hadiah Hari Kartini: Pengesahan UU PPRT Lindungi Pahlawan Domestik

Selasa, 21 April 2026 | 18:04

Staf PBNU Mangkir dari Panggilan, KPK Siap Jadwal Ulang

Selasa, 21 April 2026 | 17:52

RUU PPRT Disahkan DPR Bukti Perempuan Hadir di Parlemen

Selasa, 21 April 2026 | 17:43

Peringati Hari Kartini, KPP: Perempuan Harus Aktif dari Suara ke Aksi

Selasa, 21 April 2026 | 17:42

Huawei Rilis Pura 90 Series, Ini Spesifikasi, Fitur Kamera, dan Harganya

Selasa, 21 April 2026 | 17:16

Staf Orang Kepercayaan Maidi Dicecar KPK soal Penampungan Dana CSR

Selasa, 21 April 2026 | 17:13

13 WNI Jadi Korban Kebakaran 1.000 Rumah Apung di Malaysia

Selasa, 21 April 2026 | 17:10

Selengkapnya