Berita

Nusantara

Mendikbud: Membangun Pendidikan Karakter Cegah Tindak Kekerasan

KAMIS, 31 MEI 2018 | 14:05 WIB | LAPORAN:

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendi meminta seluruh pengajar untuk menerapkan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK), dengan kegiatan pembiasaan sikap dan perilaku positif di sekolah yang dimulai berjenjang mulai dari pendidikan dasar sampai dengan pendidikan menengah.

Imbauan tersebut terdapat pada Permendikbud Nomor 18 Tahun 2016 tentang Pengenalan Lingkungan Sekolah bagi Siswa Baru, Permendikbud Nomor 82 Tahun 2015 tentang Pencegahan dan Penanggulangan Tindak Kekerasan di Lingkungan Satuan Pendidikan serta Permendikbud Nomor 75 Tahun 2016 tentang Komite Sekolah.

Saat ini, kata Muhadjir, sudah ada sekitar 65% sekolah yang menerapkan PPK.


"Mengapa belum 100%? Salah satu kendalanya adalah tenaga serta para ahlinya. Sehingga penerapannya belum optimal". ujar Muhadjir usai membuka sarasehan nasional PPK di Jakarta, Kamis (31/5).

Ia menambahkan, instansinya akan melakukan langkah terukur dan sistemik untuk menyelesaikan masalah karakter siswa. Pendidikan karakter bukanlah proses menghafal materi soal ujian tetapi memerlukan pembiasaan untuk berbuat baik, berlaku jujur, kesatria, malu berbuat curang, malu berbuat malas, dan sebagainya.

Penerapan PPK di sekolah untuk jenjang SD, sebanyak 70% untuk pendidikan karakter dan 30% akademis. Kemudian, jenjang pendidikan SMP, proporsi pendidikan karakter sebesar 60% dan 40% untuk akademis.

"Selama ini di sekolah lebih banyak mengedepankan aspek logis ketimbang karakter. Untuk itu kita arus-utamakan kembali estetika, etika dan kinestetik melalui PPK ini," imbuh dia.

Kasubdit Peserta Didik Direktorat Pembinaan SMA, Suharlan, mengatakan PPK sangat penting dilaksanakan di semua sekolah melalui internalisasi nilai-nilai yang ada.

"Sarasehan ini diadakan untuk merancang langkah strategis terkait dalam menangkal paham radikal yang ada di sekolah. Salah satunya dapat dilakukan dengan saling memahami perbedaan dan pengertian diantara sesama anak bangsa untuk hidup berdampingan secara damai," kata Suharlan.

Sarasehan itu diikuti sejumlah pemangku kepentingan dari Sulawesi Tengah, Nusa Tenggara Barat, dan DKI Jakarta. [rry]

Populer

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

UPDATE

Fenomena, Warga Sumsel Ramai-Ramai Siarkan Banjir Secara Live

Minggu, 05 April 2026 | 21:48

Besok Jusuf Kalla Laporkan Rismon Sianipar ke Bareskrim Polri

Minggu, 05 April 2026 | 21:29

Kejagung Periksa Kajari Karo Danke Rajagukguk

Minggu, 05 April 2026 | 20:57

Rekan Akmil Kenang Dedikasi Mayor Zulmi di Medan Tugas

Minggu, 05 April 2026 | 20:47

LPSK: RUU PSDK Harus Perkuat SIstem Perlindungan Saksi dan Korban

Minggu, 05 April 2026 | 20:31

JK: Saya Kenal Roy Suryo, Tapi Tak Pernah Danai Isu Ijazah Jokowi

Minggu, 05 April 2026 | 19:58

Simpan Telur di Kulkas, Dicuci Dulu atau Tidak?

Minggu, 05 April 2026 | 19:56

BRIN Ungkap Asa-Usul Cahaya Misterius di Langit Lampung

Minggu, 05 April 2026 | 19:15

Mayor Anumerta Zulmi Salah Satu Prajurit Terbaik Kopassus

Minggu, 05 April 2026 | 18:51

Terendus Skema Gulingkan Prabowo Lewat Rekayasa Krisis dan Kerusuhan

Minggu, 05 April 2026 | 18:33

Selengkapnya