Berita

Foto: RMOL

Nusantara

20 TAHUN REFORMASI

Seniman Bisa Mendorong Kontrol Sosial

KAMIS, 17 MEI 2018 | 22:33 WIB | LAPORAN:

Musisi atau seniman bebas berkreasi untuk menghasilkan karya-karya terbaik di era reformasi. Sebab, demokrasi memberikan ruang kebebasan kepada siapapun untuk berkarya, termasuk para seniman.

Begitu diutarakan mantan aktivis 98, Bambang Ali Priambodo dalam diskusi bertajuk "Refleksi 20 Tahun Reformasi dari Mata Pegiat Seni" di Jakarta, Kamis malam (17/5).

"Bagaimana 20 tahun reformasi, saya pikir kita tidak diarahkan untuk membuat apa yang mau kita buat sebagai seniman. Kita tidak dilarang untuk mengkritik rezim," jelasnya.


Vokalis Dod'z With The Warriors ini menjelaskan, saat ini seniman atau musisi lebih dihadapkan kepada pertanggungjawaban terhadap hasil karya, bukan kepada rezim seperti orde baru.

"Dua puluh tahun reformasi memang memberikan ruang luas bagi siapapun untuk berkarya. Ditambah lagi dengan adanya konsep digital. Kita sekarang bebas, ada YouTube, facebook dan lain-lain. Seniman bisa mendorong kontrol sosial," jelas Dodo yang juga salah seorang pendiri organisasi mahasiswa Front Nasional ini.

Musikus Tony Waluyo Sukmoasih yang lebih dikenal dengan Tony Q Rastafara, menyampaikan, reformasi 98 lalu bukan hanya bagaimana membangun sistem pemerintahan, tetapi lebih bagaimana menumbuhkan kesadaran bersama untuk menjadi lebih baik.

"Jadi reformasi itu sebenarnya lebih kepada bagaimana manusia-manusianya ini untuk membangun kesadaran, untuk membuat reformasi yang sebenarnya," ujar Presiden Reggae Indonesia ini.

Soal bagaimana peran musikus untuk mencegah maraknya aksi radikal dan terorisme, menurut Tony, bisa dengan dilakukan dengan karya-karya yang menumbuhkan rasa cinta tanah air.

"Bicara teroris ini kita tidak bisa hanya bicara hari ini. Saya pikir mungkin ada kepentingan global sebenarnya. Contohnya, kalau runut-runut, kalau kebijakan negara tidak ikut dengan si A, B, lalu ada ini ada itu," ujarnya.

"Semua pihak harus ambil bagian untuk mencegah diri masing-masing, kemudian keluarga dan lingkungan agar tidak terbawa bujuk rayu para teroris dan pihak-pihak yang tidak toleransi," sambung Toni.

Refleksi 20 tahun Reformasi digelar Pena 98 dengan acara pameran photo dan diskusi di 11 daerah sampan puncak di tanggal 21 Mei nanti.

Kegiatan  PENA 98 bertema "Untuk Alasan Apapun Kami Tidak Mau Kembali Ke Orde Baru', ini mengingatkan anak bangsa jangan pernah kembali ke masa tersebut. [sam]

Populer

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

UPDATE

Fenomena, Warga Sumsel Ramai-Ramai Siarkan Banjir Secara Live

Minggu, 05 April 2026 | 21:48

Besok Jusuf Kalla Laporkan Rismon Sianipar ke Bareskrim Polri

Minggu, 05 April 2026 | 21:29

Kejagung Periksa Kajari Karo Danke Rajagukguk

Minggu, 05 April 2026 | 20:57

Rekan Akmil Kenang Dedikasi Mayor Zulmi di Medan Tugas

Minggu, 05 April 2026 | 20:47

LPSK: RUU PSDK Harus Perkuat SIstem Perlindungan Saksi dan Korban

Minggu, 05 April 2026 | 20:31

JK: Saya Kenal Roy Suryo, Tapi Tak Pernah Danai Isu Ijazah Jokowi

Minggu, 05 April 2026 | 19:58

Simpan Telur di Kulkas, Dicuci Dulu atau Tidak?

Minggu, 05 April 2026 | 19:56

BRIN Ungkap Asa-Usul Cahaya Misterius di Langit Lampung

Minggu, 05 April 2026 | 19:15

Mayor Anumerta Zulmi Salah Satu Prajurit Terbaik Kopassus

Minggu, 05 April 2026 | 18:51

Terendus Skema Gulingkan Prabowo Lewat Rekayasa Krisis dan Kerusuhan

Minggu, 05 April 2026 | 18:33

Selengkapnya