Berita

Alghiffary Aqsa/RMOL

Pertahanan

Tindakan Represif Aparat Bisa Lahirkan Teroris Dan Radikalis Baru

KAMIS, 17 MEI 2018 | 22:02 WIB | LAPORAN:

Memperlakukan seorang narapidana terorisme (napiter) dengan tidak baik, justru akan membuat keluarganya yang sejak awal tidak setuju dengan faham tersebut justru bisa menjadi radikal dan ekstrimis.

Direktur LBH Jakarta, Alghiffary Aqsa menjelaskan, berdasarkan pengalaman dia mendampingi beberapa napi teroris, perlakuan yang tak adil misalnya menyangkut administrasi saja bisa menimbulkan terorisme baru.

"Bukan hanya kepada dirinya (napi menjadi semakin radikal), tapi juga kepada anggota keluarganya. Keluarganya jadi radikal dan ekstrimis," ungkapnya dalam konferensi pers di Kantor Komisi Untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), Jalan Kramat II, Jakarta Pusat, Kamis (17/5).


Untuk itu, dia berharap agar pengelolaan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) dapat direformasi sedemikian rupa. Sehingga nantinya, Lapas bisa merubah seseorang yang memiliki kecenderungan ekstrimisme menjadi cinta damai.

Lebih lanjut, Alghiffary menceritakan soal pengalamannya yang pernah mendampingi Pondok Pesantren Ibnu Mas'ud di Bogor, Jawa Barat yang ditutup secara sepihak oleh pemerintah setempat. Pesantren ini dituduh sebagai sarang teroris di Indonesia yang sangat di pantau.

"Isi nya ada sekitar 250 anak. Dimana banyak itu anak terpidana teroris. Karena mereka ditolak di mana-mana tidak bisa sekolah di mana-mana. Tiba-tiba pemerintah, BNPT pemerintah Kabupaten Bogor. Langsung menutup. Insiden pemicu nya itu pembakaran umbul-umbul merah putih," bebernya.

Ditegaskannya, pembubaran pesantren tersebut dilakukan secara sewenang-wenang. Padahal, pengurus pesantren ini sudah mau memadukan kurikulum kewarganegaraan. Pengurus pesantren pun katanya, juga sudah sepakat untuk dibina oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Kemenag.

"Tapi tetap dibubarkan. Akhirnya orang yang radikal menjadi lebih ekstrimis. Karena ada kekerasan dari negara yang langsung dialami," sesalnya.

Parahnya lagi, tambah Alghiffary, orang tua menjemput anak-anak setelah pesantrennya ditutup pun digeledah. Padahal, mereka sama sekali tidak terkait dengan tuduhan sebagai teroris.

"Kemudian orang tuanya dan anaknya diikuti sampai rumahnya. Lalu di rumah ya digeledah. Ini kan memunculkan kebencian kepada pemerintah. Kemudian karena adanya tindakan represif betul-betul menjadikan mereka teroris. Akhirnya orang-orang 200-an itu pecah jadi 10-15 sel. Tadinya hanya satu di pesantren yang mau dibina," paparnya.

Lebih lanjut Alghiffary mendesak Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) untuk segera mengevaluasi aksi represif aparat semacam itu.

"Apakah mereka, BNPT bisa memantau sel tersebut. Tindakan seperti ini yang harus di evaluasi," desaknya. [fiq]

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

Usai Dimaafkan Jusuf Hamka, KAKI Dorong Polri Buka Kembali Kasus NCD Unibank

Sabtu, 05 September 2026 | 19:53

UPDATE

Kasus Bansos, Kabulog Jateng hingga Pejabat Pemkab Brebes dan Jember Diperiksa KPK

Rabu, 09 September 2026 | 14:28

Purbaya Bakal Tarik Dana Daerah yang Mengendap Rp100 Triliun di Bank

Rabu, 09 September 2026 | 14:26

Rumah Digeledah, Direktur PT CMC Diperiksa KPK Hari Ini

Rabu, 09 September 2026 | 14:06

Rugikan Negara Rp35,7 Miliar, KPK Panggil Direktur PT Brantas Abipraya

Rabu, 09 September 2026 | 13:49

Kata Bonjopi, Persib si Raja Comeback

Rabu, 09 September 2026 | 13:39

Punya 12 Pabrik Sawit, Legislator Nilai Sintang Cocok Jadi Basis Produksi B50

Rabu, 09 September 2026 | 13:29

Pakistan: Serangan Houthi ke Saudi Bisa Aktifkan Pakta Pertahanan Mekkah

Rabu, 09 September 2026 | 13:27

PISA 2025 Tak Banyak Bergerak, Indonesia Sedang Menormalisasi Krisis Pembelajaran

Rabu, 09 September 2026 | 13:02

Penyaluran B50 Tembus 3,4 Juta KL, 94 Persen SPBU Sudah Salurkan Biodiesel

Rabu, 09 September 2026 | 12:47

Tim SAR Diminta Maksimalkan Pencarian Lima Jurnalis Hilang Kontak di Anak Krakatau

Rabu, 09 September 2026 | 12:38

Selengkapnya