Berita

Ilustrasi/RM

Nusantara

Polisi Target Unik Teroris

SENIN, 14 MEI 2018 | 20:48 WIB | LAPORAN: ADITYO NUGROHO

Polisi selalu menjadi target utama dari serangan teroris. Hal itu berdasarkan Global Terrorism Database (GTD), yang tercatat sejak tahun 1970 hingga 2017, terdiri dari hampir 12 persen target terorisme adalah Polisi.

"Polisi menjadi urut kelima jenis target paling populer, mereka telah menjadi fokus teroris hampir sebanyak
militer, pemerintah, dan entitas bisnis,” ujar Pengamat Politik Internasional, Arya Sandhiyudha dalam pesan elektroniknya kepada Kantor Berita Politik RMOL, Senin (14/5).

Penerima Cerficate in Terrorism Studies (CTS) dari International Center for Political Violence and Terrorism Research (ICPVTR) Singapura ini menjelaskan, ada sejumlah alasan mengapa teroris selalu membidik Polisi.

Penerima Cerficate in Terrorism Studies (CTS) dari International Center for Political Violence and Terrorism Research (ICPVTR) Singapura ini menjelaskan, ada sejumlah alasan mengapa teroris selalu membidik Polisi.

"Ada alasan simbolis karena Polisi dianggap target proksi untuk target lain yang diinginkan,” terangnya.

Kemudian berikutnya adalah alasan praktis. Kata Arya, ini karena beberapa target mungkin sekaligus mendapatkan senjata atau bahan lain yang dibutuhkan teroris.

"Atau target Polisi dianggap menghalangi rencana serangan,” jelasnya.

Masih kata Arya, alasan berikutnya adalah demonstratif, yakni untuk menunjukkan daya kekuatan dan komitmen teroris untuk mewujudkan tujuan mereka.

"Karena target yang mudah diakses bagi mereka seperti buah yang tergantung paling dekat digapai atau cukup mudah diserang,” beber dia.

Doktor bidang Hubungan Internasional dari Istanbul University ini selanjutnya menyatakan, target teroris umumnya bisa kombinasi dari beberapa alasan.

"Sementara polisi adalah target unik untuk teroris karena Polisi masuk ke semua kategori alasan yang ada,” pungkasnya. [sam]


Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

Pelaku Penembakan Rombongan Tito Karnavian Diringkus

Jumat, 03 April 2026 | 19:59

UPDATE

Kasus Viral Foto AI di Kalisari Cermin Lemahnya Pengawasan Aparatur

Rabu, 08 April 2026 | 00:14

MSP Raih Penghargaan Proper Emas dan Green Leadership Proper dari KLH

Rabu, 08 April 2026 | 00:04

Polri Ungkap Penyalahgunaan BBM dan LPG Subsidi, Kerugian Capai Rp1,26 Triliun

Selasa, 07 April 2026 | 23:27

Pengawasan Hutan Diperketat Antisipasi El Nino Ekstrem

Selasa, 07 April 2026 | 23:10

Demokrasi seharusnya Mengoreksi, bukan Meruntuhkan Legitimasi Negara

Selasa, 07 April 2026 | 23:00

HKTI Beri Pendampingan Peternak Lokal yang Dirugikan Perusahaan Besar

Selasa, 07 April 2026 | 22:58

Pulihkan Situasi Halmahera Tengah, Masyarakat Diminta Dukung TNI-Polri

Selasa, 07 April 2026 | 22:33

Dony Oskaria: 15 BUMN Logistik Digabung Bulan Depan

Selasa, 07 April 2026 | 22:19

GREAT Institute Dorong Prabowo Reshuffle 50 Persen Menteri di Kabinet

Selasa, 07 April 2026 | 21:59

Menko Yusril soal Kasasi Delpedro Dkk: Bisa Saja MA Putus NO

Selasa, 07 April 2026 | 21:42

Selengkapnya