Berita

Ilustrasi/Net

Bisnis

DEN: Pembangunan PLTN Tak Akan Terjadi Sampai 2050

JUMAT, 04 MEI 2018 | 21:43 WIB | LAPORAN:

Dewan Energi Nasional memprediksi pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) tak akan dilakukan hingga 2050 mendatang.

Sekjen DEN, Saleh Abdurrahman menjelaskan, hal itu mengacu pada Rencana Umum Energi Nasional (REUN) PP 79/2014 yang menyebutkan bahwa PLTN hanya boleh dibangun jika sudah tak ada lagi sumber energi di Indonesia.

"PLTN memang pilihan terakhir, kita maksimumkan dulu potensi energi terbarukan yang kita miliki. Dan di seluruh Indonesia tidak ada sampai 2050," ujarnya kepada wartawan, Jumat (4/5).


Karenanya, lanjut Saleh, untuk saat ini pembangunan PLTN bukanlah merupakan skala prioritas. Selain itu, di saat ekonomi bangsa tengah sulit seperti sekarang ini, pembangunan fasilitas berbiaya fantastis itu tentu terlampau berat.

"Biaya pembangkitan nuklir per kWh itu termasuk mahal. Apalagi ditambah biaya-biaya resiko kecelakaan, tambah membengkak dia," jelasnya.

Saleh menekankan, Indonesia memiliki potensi energi terbarukan yang melimpah, termasuk potensi matahari dan angin yang belum dimanfaatkan sebesar-besarnya.

"Saya sangat mendukung penggunaan energi terbarukan dan mendorong daerah-daerah untuk mengembangkan energi terbarukan, selain minim resiko juga lebih murah daripada nuklir. Tren harga energi terbarukan semakin menurun, tren nuklir semakin tahun semakin naik," imbuhnya.

Ketua Dewan Pakar Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI), Herman Darnel Ibrahim, menjelaskan bahwa selain akan menyedot biaya tinggi, resiko untuk membangun PLTN juga sangatlah besar.

"Biaya investasi 5000 MW PLTN itu sekitar USD 35-40 miliar atau setara dengan Rp 500 triliun. Dengan biaya yang sama bisa membangun 20.000 MW PLTU batubara atau 30.000 MW PLTGU gas yang lebih aman dan minim resiko. Risiko Kecelakaan PLTN buruk sekali dan fatal. Kalau terjadi membahayakan bagi manusia dan dapat menyebabkan kelumpuhan ekonomi dan "kebangkrutan" negara,” tandasnya. [sam]

Populer

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

Tiket Jakarta Fair Tidak Ramah Kantong Rakyat Berpenghasilan Rendah

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:21

UPDATE

Kampus Demokrasi Obama

Selasa, 23 Juni 2026 | 05:54

Presiden Prabowo Kemudikan Kapal Indonesia Menuju Ekonomi Pancasila

Selasa, 23 Juni 2026 | 05:36

Merekonstruksi Ulang Konsolidasi Kebangsaan

Selasa, 23 Juni 2026 | 05:18

Keberadaan DSI Perlu Dievaluasi Ulang dalam Tata Niaga Sawit

Selasa, 23 Juni 2026 | 04:59

Usaha Jufriyah Terus Keruk Cuan Bersama BRI

Selasa, 23 Juni 2026 | 04:34

Perdamaian AS-Iran Tanpa Israel

Selasa, 23 Juni 2026 | 04:16

Turnamen Tenis Meja Masduki Cup 2026 Mengukir Asa Menuju Pentas Dunia

Selasa, 23 Juni 2026 | 03:55

BRI Consumer Expo 2026 Makassar Hadirkan Berbagai Solusi Finansial

Selasa, 23 Juni 2026 | 03:35

Koperasi Menjaga Keseimbangan

Selasa, 23 Juni 2026 | 03:15

Gaya Hidup Sehat dan Kebersamaan Harus jadi Kebutuhan

Selasa, 23 Juni 2026 | 02:55

Selengkapnya