Berita

Steve Bannoon/Net

Dunia

Tim Kampanye Trump Gunakan Penelitian Cambridge Analytica Untuk Cegah Demokrat Dalam Pemilu 2016

KAMIS, 26 APRIL 2018 | 14:38 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Analis dari Cambridge Analytica, Christopher Wylie angkat bicara mengenai masalah kebocoran data Facebook baru-baru ini.

Kepada House Democrats pekan ini, dia mengatakan bahwa mantan ahli strategi kampanye Steve Bannon, menggunakan penelitian perusahaannya itu untuk mencegah Demokrat memilih dalam pemilihan 2016.

Demokrat dari Komite Kehakiman DPR dan Pengawas Rumah dan Komite Reformasi Pemerintah meminta Wylie dalam sesi tertutup untuk mengungkapkan apakah Bannon secara khusus berbicara tentang penolakan hak pemilih atau pelepasan.


"Ya," jawab Wylie, menurut transkrip yang dikeluarkan oleh Partai Demokrat.

"Jika dengan istilah itu Anda bermaksud mengecilkan jenis pemilih tertentu yang lebih cenderung memilih calon Demokrat atau liberal, jika itu yang Anda maksud dengan istilah itu, maka ya," sambungnya seperti dimuat USA Today.

Wylie mengatakan kepada House Democrats minggu ini bahwa, pada awal 2014, Bannon mengarahkan Cambridge Analytica untuk menguji pesan seperti "membangun dinding" dan "menguras rawa", yang kemudian menjadi slogan utama kampanye Trump.
Bannon sendiri menjabat sebagai wakil presiden dan sekretaris Cambridge Analytica dari Juni 2014 hingga Agustus 2016, sebelum bergabung dengan kampanye Trump.

Wylie bersaksi bahwa Bannon mengarahkan Cambridge Analytica pada tahun 2014 untuk menguji gambar dan konsep untuk audiens Amerika yang berkaitan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin dan ekspansi Rusia di Eropa Timur. Dia mengatakan Putin adalah satu-satunya pemimpin asing yang digunakan dalam pengujian.

Bannon sendiri tidak memberikan tanggapan segera atas kesaksian tersebut.

Dalam sesi interogasi Wylie tersebut, Partai Republik di komite tidak bergabung dengan Partai Demokrat. Wylie juga bersaksi di hadapan Demokrat di Komite Intelijen DPR pada hari Rabu kemarin (24/4).

Diketahui bahwa Facebook baru-baru ini mengungkapkan bahwa pihaknya telah menangguhkan Cambridge Analytica dan mengklaim perusahaan konsultan politik mengamankan informasi hingga 87 juta pengguna tanpa izin, melalui aplikasi kuis kepribadian dari Global Science Research.

Cambridge Analytica menggunakan data tersebut untuk menargetkan pemilih selama pemilihan presiden 2016 atas nama kampanye Donald Trump.

CEO Facebook Mark Zuckerberg bersaksi selama sekitar 10 jam di Capitol Hill awal bulan ini karena anggota parlemen menekannya untuk menjelaskan mengapa perusahaan tidak berbuat lebih banyak untuk melindungi privasi pengguna. Facebook mengungkapkan pelanggaran privasi besar-besaran setelah Wylie memberi tahu wartawan apa yang telah terjadi. [mel]

Populer

Harta Friderica Widyasari Pejabat Pengganti Ketua OJK Ditanding Suami Ibarat Langit dan Bumi

Senin, 02 Februari 2026 | 13:47

Direktur P2 Ditjen Bea Cukai Rizal Bantah Ada Setoran ke Atasan

Jumat, 06 Februari 2026 | 03:49

KPK: Warganet Berperan Ungkap Dugaan Pelesiran Ridwan Kamil di LN

Kamis, 05 Februari 2026 | 08:34

Nasabah Laporkan Perusahaan Asuransi ke OJK

Kamis, 05 Februari 2026 | 16:40

Lima Orang dari Blueray Cargo Ditangkap saat OTT Pejabat Bea Cukai

Kamis, 05 Februari 2026 | 15:41

Koordinator KKN UGM Tak Kenal Jokowi

Rabu, 04 Februari 2026 | 08:36

Eks Relawan: Jokowi Manusia Nggedabrus

Minggu, 01 Februari 2026 | 03:33

UPDATE

Kesehatan Jokowi Terus Merosot Akibat Tuduhan Ijazah Palsu

Rabu, 11 Februari 2026 | 04:02

Berarti Benar Rakyat Indonesia Mudah Ditipu

Rabu, 11 Februari 2026 | 03:34

Prabowo-Sjafrie Sjamsoeddin Diterima Partai dan Kelompok Oposisi

Rabu, 11 Februari 2026 | 03:06

Macet dan Banjir Tak Mungkin Dituntaskan Pramono-Rano Satu Tahun

Rabu, 11 Februari 2026 | 03:00

Board of Peace Berpotensi Ancam Perlindungan HAM

Rabu, 11 Februari 2026 | 02:36

Dubes Djauhari Oratmangun Resmikan Gerai ke-30.000 Luckin Coffee

Rabu, 11 Februari 2026 | 02:19

Efisiensi Energi Jadi Fokus Transformasi Operasi Tambang di PPA

Rabu, 11 Februari 2026 | 02:14

Jagokan Prabowo di 2029, Saiful Huda: Politisi cuma Sibuk Cari Muka

Rabu, 11 Februari 2026 | 01:18

LMK Tegas Kawal RDF Plant Rorotan untuk Jakarta Bersih

Rabu, 11 Februari 2026 | 01:06

Partai-partai Tak Selera Dukung Prabowo-Gibran Dua Periode

Rabu, 11 Februari 2026 | 01:00

Selengkapnya