Tantangan terbesar untuk memenangkan kembali Joko Widodo agar terpilih kembali sebagai Presiden RI untuk periode kedua adalah menangkis kabar bohong atau hoax.
Demikian disampaikan Jurubicara PSI, Andy Budiman kepada wartawan, Rabu (25/4).
Andy mengatakan, hasil survei terakhir yang dirilis Litbang Kompas menjadi bukti bahwa Presiden Jokowi, secara kualitas, jauh melampaui para kandidat lain di mata publik.
Dalam survei ini, elektabilitas Jokowi mengalami kenaikan menjadi 55,9 persen. Angka itu meningkat dibandingkan dengan enam bulan sebelumnya, ketika elektabilitas Jokowi 46,3 persen.
Sementara itu, Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto 14,1 persen, turun dari sebelumnya 18,2 persen. Mantan Panglima TNI Gatot Nurmantyo yang sebelumnya 3,3 persen kini tersisa 1,8 persen. Sejumlah calon lain semakin susut keterpilihannya, menjadi kurang dari 1 persen.
"Ini adalah bukti bahwa masyarakat puas terhadap hasil kerja Presiden Jokowi. Ancaman terbesar kini adalah menangkis berbagai kabar bohong yang beredar luas melalui media sosial seperti isu serbuan tenaga kerja asal (TKA) China ke Indonesia, atau soal utang luar negeri dan kesenjangan sosial yang dibingkai dalam perspektif SARA," kata Andy.
Andy memberi contoh bagaimana hoaks di media sosial mengacaukan hasil pemilu di Amerika Serikat dan kini mendorong Kongres AS menyelidiki dalang di balik penyebaran kabar bohong terutama melalui Facebook.
"Kita melihat media sosial mempunyai dua sisi. Ia mampu menggerakkan orang untuk memperjuangkan kebebasan melawan para diktatur sebagaimana terjadi pada revolusi Arab. Tapi di sisi lain ia potensial mengganggu demokrasi sebagaimana terjadi pada kasus pemihan presiden Amerika Serikat," ujar Andy.
Karena itulah, menurut Andy, PSI membantu Jokowi dengan menyebarkan informasi yang benar melalui media sosial terkait berbagai fitnah yang ditujukan kepada presiden.
"Hoax hanya bisa ditanggulangi dengan jalan menyebarkan sebanyak mungkin informasi yang benar. Caranya adalah dengan mendorong media mainstream menjadi clearing house untuk meluruskan berbagai kabar bohong, dan kedua membanjiri media sosial dengan informasi yang benar sebanyak mungkin, dengan strategi penyebaran yang tepat," kata Campaign Manager PSI ini.
Andy melanjutkan kampanye melawan hoax yang ditujukan kepada Jokowi adalah upaya PSI untuk memenangkan Jokowi, sekaligus mendidik publik agar kritis dalam membaca pesan di media sosial.
"Ini adalah bagian dari pendidikan politik ala PSI, khususnya kepada generasi muda yang aktif di media sosial," tambah Andy.
Melalui berbagai pesan kreatif dalam bentuk video, foto, dan teks, PSI aktif menjelaskan berbagai masalah seperti infrastruktur, tenaga kerja asing, utang luar negeri, termasuk berbagai fitnah SARA yang ditujukan kepada Jokowi via media sosial seperti Instagram, Facebook, Twitter maupun WhatsApp.
"PSI ingin agar publik khususnya anak muda menyerap informasi yang lengkap dan akurat. Tujuannya agar mereka mempunyai panduan yang benar ketika kelak ke kotak suara. Itulah ikhtiar kami untuk meningkatkan kualitas demokrasi," pungkas Andy.
[ian]