Berita

Maqdir Ismail/Net

Hukum

Kubu Setnov: Hakim Jangan Terpengaruh Putusan Perkara Lain

SELASA, 24 APRIL 2018 | 10:06 WIB | LAPORAN:

Sidang lanjutan perkara pokok kasus korupsi proyek pengadaan KTP Elektronik (KTP-el) kembali digelar di Pengadilan Tipikor Jakarta Pusat, Selasa (24/4). Sidang kali ini beragendakan pembacaan putusan (vonis) terhadap terdakwa kasus KTP-el, Setya Novanto.

Kuasa Hukum Setya Novanto, Maqdir Ismail mengatakan bahwa pihaknya sudah siap mendengarkan hasil putusan majelis hakim. 

"Kami siap mendengar putusan dibacakan," ujarnya saat dihubungi wartawan, Selasa (24/4)


Lebih lanjut Maqdir menambahkan jika memang diperlukan pihaknya akan menyampaikan sikap terkait hasil putusan pengadilan yang dibacakan hari ini. Namun demikian, sikap tersebut akan disampaikan setelah berdiskusi dengan kliennya.

"Sikap terhadap putusan akan disampaikan setelah ada diskusi dengan Pak Setya Novanto," tambahnya.

Namun demikian, Maqdir juga berharap putusan pengadilan terhadap mantan Ketua DPR RI itu tidak terpengaruh dengan putusan pengadilan pada kasus yang sama sebelumnya.

"Kami harapkan hakim tidak terpengaruh dengan putusan perkara yang lain," tukasnya.

Jaksa KPK menuntut Setya Novanto dengan pidana selama 16 tahun penjara serta denda sebesar Rp 1 miliar. Selain itu Novanto juga diminta jaksa untuk membayar uang pengganti sejumlah 7.435.000 dolar Amerika Serikat (AS) dan dicabut hak berpolitiknya.

Jaksa pun menyebut Novanto secara sah dan meyakinkan terlibat bersama-sama melakukan tindak pidana korupsi.

Dalam surat dakwaannya, saat menjabat sebagai Ketua Fraksi Partai Golkar, Novanto diduga memperkaya diri dari proyek KTP berbasis elektronik itu.

Ia pun disebut telah menerima uang sebesar 7,3 juta dolar AS melalui Made Oka Masagung dan Irvanto Hendra Pambudi yang merupakan tersangka pada kasus yang sama. [ian]

Populer

AHY dan Ibas Dilaporkan ke KPK Buntut Lonjakan Harta

Senin, 06 Juli 2026 | 14:49

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Melanggar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Terima Kasih Bang Refly, Nama Saya Sudah Diubah jadi ‘Si Udin’

Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14

Karier Gila-gilaan Mufli Budi Ananda: Dari Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris Krakatau Posco

Senin, 29 Juni 2026 | 00:00

Pengacara Nadiem Makarim Dilaporkan ke Peradi Buntut Ucapan "Yang Mulia Takut Ya"

Senin, 06 Juli 2026 | 18:36

Jokowi Tinggalkan Jejak Buruk bagi Masyarakat Adat Lampung

Rabu, 01 Juli 2026 | 04:23

KPK-PPATK Diminta Pastikan Harta AHY dan Ibas dari Sumber Halal

Senin, 06 Juli 2026 | 17:38

UPDATE

Prabowo Akui Punya DNA India, Suka Bergoyang Kalau Ada Musik

Rabu, 08 Juli 2026 | 16:09

Pansus DPR Desak Kemendagri Percepat Penyusunan DIM RUU Daerah Kepulauan

Rabu, 08 Juli 2026 | 16:02

Kapolri Resmikan 80 Jembatan Merah Putih Presisi di Riau, Total Kini 110 Unit

Rabu, 08 Juli 2026 | 15:50

KPK Harus Tegas, Pengembalian Amplop Raja Juli Tidak Hapus Dugaan Pidana

Rabu, 08 Juli 2026 | 15:44

Kejagung Tetapkan Tiga Tersangka Korupsi Tambang PT PMM, Ada Pegawai Bea Cukai

Rabu, 08 Juli 2026 | 15:43

Prabowo Peluk Erat Modi saat Antar Kepulangannya Menuju India

Rabu, 08 Juli 2026 | 15:34

Kekuatan Jokowi cuma Uang, Bukan Ideologi

Rabu, 08 Juli 2026 | 15:32

Memahami Aturan Paspor Diplomatik: Siapa Saja yang Berhak Memilikinya?

Rabu, 08 Juli 2026 | 15:18

Rekor Baru Messi di Piala Dunia Lewati Maradona

Rabu, 08 Juli 2026 | 15:17

Ketidakadilan Laga Argentina vs Mesir Bersifat TSM

Rabu, 08 Juli 2026 | 15:00

Selengkapnya