Berita

Foto/Net

Politik

Paham Radikalisme Belum Wassalam...

UI Dan BNPT Teken MOU
SELASA, 24 APRIL 2018 | 09:26 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Jelang Pilkada dan Pilpres, penyebaran paham radikalisme di kampus perlu diwaspadai. Dikhawatirkan penyebaran pa­ham ini semakin meningkat, karena mahasiswa selalu jadi target radikalisme.

Hal tersebut dikatakan Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir di acara Penandatanganan Nota Kesepahaman antara Universitas Indonesia (UI), dengan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), di UI, Depok, kemarin.

"Kekhawatiran ini muncul karena pada kenyataannya kita masih berkutat dengan masalah yang dapat memecah belah persatuan. Padahal, masyarakat negara lain sudah membahas revolusi industri 4.0, tapi kita masih membahas masalah per­bedaan," katanya.


Nasir mengapresiasi terbangunnya kerja sama BNPTdan UIdalam upaya menangkal berkembangnya aksi radikalisme di perguruan tinggi. Sebab, kerja sama ini untuk menang­kal aksi radikalisme. "Ideologi kita itu Pancasila, dan itu sudah harga mati, nggak bisa dirubah," ujarnya.

Nasir juga percaya, penera­pan program bela negara di lingkungan kampus merupa­kan langkah yang tepat untuk menangkal penyebaran paham radikalisme. Apalagi mahasiswa adalah pintu gerbang untuk memajukan Indonesia sehingga perlu diberikan bimbingan dan pembinaan yang baik terkait pemahaman ideologi negara.

"Nasionalisme dan bela negara harus kita dorong, radikalisme dan intoleran harus kita tangkal," paparnya.

Di tempat sama, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komjen Pol Suhardi Alius meminta para mahasiswa untuk menjadi agen penangkal paham radikalisme sesuai bidangnya masing-masing.

Sebab, di tengah meningkatnya dinamika pembangunan nasional, pemerintah masih membutuh­kan banyak tenaga ahli hukum, ekonomi, energi dan lainnya dalam mewujudkan Ketahanan Nasional (Tannas) yang kuat.

"Jika Tannas itu kuat, maka eksistensi negeri ini otomatis akan tetap terjaga. Karena kita dapat memetakan masalah pertahanan nasional serta mampu memberikan solusi atas permasalahan radikalisme di Indonesia," paparnya.

Selain itu, Suhardi mengimbau kepada seluruh masyarakat agar tidak memberi stigma terhadap agama terkait dengan masalah terorisme. Alasannya, karena fenomena itu muncul akibat adanya penyimpangan, dan para pelaku tidak menyadari akan hak itu. ***

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

Pelaku Penembakan Rombongan Tito Karnavian Diringkus

Jumat, 03 April 2026 | 19:59

UPDATE

Nasdem Ingatkan Ancaman El Nino dan Dampak Geopolitik ke Pangan Nasional

Selasa, 07 April 2026 | 14:17

Istana Kaji Wacana Potong Gaji Menteri, Belum ada Keputusan

Selasa, 07 April 2026 | 14:14

Pemerintah Genjot Biofuel untuk Redam Dampak Kenaikan Harga Pangan

Selasa, 07 April 2026 | 14:02

Benteng Etika Digital: Pemerintah Godok Dua Perpres untuk Jinakkan Risiko AI

Selasa, 07 April 2026 | 13:53

KPK Panggil Petinggi 5 Perusahaan Travel Haji

Selasa, 07 April 2026 | 13:34

Seruan Saiful Mujani Tak Digubris, Istana: Prabowo Fokus Agenda Strategis

Selasa, 07 April 2026 | 13:33

Monitoring Ketat Jadi Kunci WFH ASN Tetap Produktif

Selasa, 07 April 2026 | 13:21

Pemerintah Klaim Ketahanan Pangan Nasional Stabil hingga 11 Bulan ke Depan

Selasa, 07 April 2026 | 13:17

Jangan Adu Domba Rakyat dengan Pemerintah Soal BBM

Selasa, 07 April 2026 | 13:11

Kasus Suap Pemkab Bekasi: KPK Periksa Istri Ono Surono Sebagai Saksi

Selasa, 07 April 2026 | 13:08

Selengkapnya