Berita

Hasto Kristianto/Net

Wawancara

WAWANCARA

Hasto Kristianto: Gerakan #2019GantiPresiden Merupakan Manuver Politik, Bukan Aspirasi Masyarakat

KAMIS, 12 APRIL 2018 | 10:13 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Setelah sempat muncul gera­kan "Jokowi dua periode" beber­apa waktu lalu, sekarang gerakan antitesanya yakni; #2019Gan­tiPresiden lagi nge-hits di berba­gai lini masa sosmed. Di media sosial, banyak orang selfi dengan mengenakan kaos bertuliskan #2019GantiPresiden. Lantas, bagaimana PDIP menyikapi gerakan ini? Berikut penjelasan Sekjen PDIP, Hasto Kristianto.

Tanggapan Anda terkait munculnya gerakan #2019 GantiPresiden?
Ya, dalam konteks seperti itu kita ini kan berkebudayaan Timur. Pak Jokowi sudah mem­berikan penjelasan Presiden itu hanya rakyat yang bisa me­nentukan dalam pemilu. Maka buat kami mengapa memilih dukungan yang lebih efektif di tengah-tengah rakyat. Jadi, hal ini gambaran politik riil di tengah rakyat.

Politik riil itu membangun peradaban, politik riil itu bukan asal bicara hanya karena faktor suka atau tidak suka, bukan itu sebabnya. Alhasil rakyat juga memberikan pilihan.

Politik riil itu membangun peradaban, politik riil itu bukan asal bicara hanya karena faktor suka atau tidak suka, bukan itu sebabnya. Alhasil rakyat juga memberikan pilihan.

Yang namanya pemimpin itu menyatukan dan membangun peradaban bukan memecah belah bangsa. Membangun optimisme bangsa bukan mem­bangun pesimisme.

Tapi kan itu aspirasi?
Saya melihat itu bukan as­pirasi, saya melihat itu sebuah manuver-manuver politik lan­taran elektabilitas Pak Jokowi yang tinggi dan juga kepemimpi­nan Pak Jokowi di tengah rakyat. Pasalnya, mereka tidak bisa melakukan hal itu. Ketika Pak Jokowi turun ke rakyat, maka rakyat berbondong-bondong dengan penuh antusiasme me­nyambut pemimpinnya.

Baru-baru ini Anda ber­temua dengan Ketua Umun PKB Muhaimin Iskandar apakah membahas soal du­kungan kepada Jokowi di Pilpres 2019?
Ya, kalau kami lihat Cak Imin sendiri meresmikan posko untuk memenangkan Pak Jokowi. Ini merupakan hal positif kan. Terkait bagaimana langkah se­lanjutnya, ya bagaimana tentu saja Pak Jokowi akan berdialog dengan Cak Imin dalam kapasti­tas beliau sebagai Ketua Umum PKB.

Apakah sudah positif bakal menggandeng Cak Imin men­jadi cawapres Jokowi?
Ya, untuk PDIP sendiri dan partai-partai yang menyatakan mendukung Pak Jokowi saling menguatkan. Namun untuk saat ini kami konsentrasi dulu untuk pilkada serentak. Terkait siapa yang dipilih sebagai cawapres Pak Jokowi, dari PDIP itu sudah diserahkan kepada Bu Megawati Soekarnoputri. Tentu saja nanti hal tersebut akan didi­alogkan bersama-sama.

Sebab, kami bukan kali ini saja menentukan cawapres. Sebelumnya juga telah dilaku­kan bersama-sama dialog antara Pak Jokowi dengan ketua umum partai politik pengusung beliau saat itu. Dialog kami ya akan terus dilakukan, termasuk men­dengarkan dari Pak Jusuf Kalla sebagai tokoh nasional dan to­koh yang sangat berpengalaman di dalam pemerintahan.

Tawaran koalisi dari PKB sepertinya masih bersyarat yakni, harus menjadikan Cak Imin sebagai cawapres?
Di manapun, misalnya di Jerman mereka membentuk pemerintahannya berunding cukup alot dan keras. Ini meru­pakan hal yang biasa apalagi kita semua berbicara soal tantangan bernegara.

Kita bicara sistem politiknya, ekonominya, dan budayanya itu merupakan hal yang biasa. Kami menyebutnya sebagai agenda kepemerintahan ke depan. Itu kan harus disepakati oleh Pak Jokowi dengan seluruh partai politik pengusung.

Jadi ada kemungkinan PDIP bakal mencari bakal cawapres selain Cak Imin?

Kami berpirikir positif, kami berpikir untuk mendukung Pak Jokowi dua periode. Itu juga diikuti lebih awal dengan meny­iapkan agenda-agenda kepemer­intahan ke depan. Artinya, kami lebih maju. Kami sudah mem­bahas agenda-agenda ke depan yang harus disepakati nanti oleh partai politik. Itu bukan syarat namun design pemerintahan ke depan yang akan lebih baik dari­pada periode pertama ini.

PDIP belakangan makin intens bertemu dengan elite-elite partai pendukung koalisi Jokowi. Apa saja yang sudah menjadi kesepakatan?

Ya tentu saja, kan PDIP mengambil langkah inisiatif untuk berdialog. Dialog itu kan baik dan dialog itu kan positif. Hal ini kan bermusyawarah untuk, misalkan gagasan sep­erti yang telah disampaikan Cak Imin, ini kan bagus. Gagasan sintesa antara Soekarnoisme dan Gusdurisme yang diangkat oleh PKB merupakan hal yang menarik, untuk menjadi bagian wacana yang positif demi bangsa dan negara ini.

Perhitungannya lebihmudah melawan Prabowo Subianto atau melawan calon lain?
Pilpres itu bukan bicara mu­dah atau tidak. Pilpres itu bicara gagasan terbaik untuk bangsa dan negara. Bagaimana tang­gung jawab pemimpin harus memberikan skenario agar bang­sa yang luar biasa bagus ini bisa kembali. Setidak-tidaknya memimpin bangsa Asia-Afrika sebagaimana dulu dirintis Bung Karno.

Sinyal Partai Demokrat juga ada kemungkinan ikut mera­pat ke PDIP. Benar begitu?
Biru itu kan langit, warna laut. Ini semua kan warna yang indah.

Soal bagi-bagi sembako yang dilakukan Jokowi di Sukabumi Jawa Barat tujuan­nya apa?

Ya, dalam konteks ini Pak Jokowi berideologi Pancasila sebagai sila Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Dalam konstitusi kita saja fakir miskin dibela negara, terlebih ini rakyat.

Bagi-bagi sembakonya sam­bil kampanye kali nih?

Lho kampanye kan belum, calon wakil presiden saja belum ditentukan. ***

Populer

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

Satlap Tri Cakti Diduga Hadang Polisi di Belitung, IPW Desak Ada Tindak lanjut

Senin, 17 Agustus 2026 | 14:30

KPK OTT Rektor Unsoed Prof Akhmad Sodiq

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:01

Profil Akhmad Sodiq, Rektor Unsoed yang Terjaring OTT KPK

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 09:02

TNI Kuasai Wilayah OPM di Intan Jaya dan Sita Sejumlah Senjata

Minggu, 16 Agustus 2026 | 01:24

Belasan Teman Jokowi Bagusnya Batal Jadi Saksi Sidang soal Ijazah

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 03:14

Praperadilan Dokter Tifa Ditolak, Ini Pertimbangan Hakim

Jumat, 21 Agustus 2026 | 10:25

UPDATE

Harga Daging Sapi Tembus Rp153 Ribu/Kg, Zulhas Buka Opsi Subsidi APBN-APBD

Selasa, 25 Agustus 2026 | 14:18

LPSK Beri Perlindungan kepada Ferry Hongkiriwang, Saksi Kasus Febrie Adriansyah

Selasa, 25 Agustus 2026 | 13:54

Urusan Gula Konsumsi Aman, Kementan Kini Bidik Target Gula Industri di 2028

Selasa, 25 Agustus 2026 | 13:45

Ahmed al-Sharaa Sambut Keputusan AS Hapus Suriah dari Daftar Sponsor Teror

Selasa, 25 Agustus 2026 | 13:42

Geng Haiti Bantai 40 Pengungsi yang Berlindung di Gereja

Selasa, 25 Agustus 2026 | 13:42

Wajah Baru Jakarta, Wagub Rano Resmikan Jaksinema Pasar Rumput

Selasa, 25 Agustus 2026 | 13:29

BMKG Maksimalkan OMC di Kaltim Sepekan Ini untuk Tangani Karhutla

Selasa, 25 Agustus 2026 | 13:19

Dugaan Setoran Importasi Blueray, KPK Cecar Dua PNS Bea Cukai

Selasa, 25 Agustus 2026 | 12:50

Kasus OTT Unsoed Bisa Saja Terjadi di Kampus Lain

Selasa, 25 Agustus 2026 | 12:46

Perketat Imigrasi, Trump Bersiap Cabut 200 Ribu Visa WNA

Selasa, 25 Agustus 2026 | 12:46

Selengkapnya