Berita

Publika

Kemimpinan Nasional Dalam Pertumbuhan Ekonomi (Meroket?)

RABU, 11 APRIL 2018 | 15:22 WIB

“THE greatest leader is not necessarily the one who does the greatest things. He is the one that gets the people to do the greatest things,” Reagan

Saya menyukai definisi leadership di atas, karena jelas membedakan leader sejati dengan typical seorang manajer.

Pemimpin besar belum tentu orang yang melakukan hal-hal besar. Tetapi jelas dia memiliki kemampuan untuk menggerakkan orang banyak, menjadi inspirasi orang lain untuk melakukan hal-hal yang besar.


Kemampuan leader dalam pembangunan bukan dilihat dari high-economic growth… itu hanya hasil akhir... tapi key word nya adalah leader tersebut mampu menggerakkan semua orang, semua sektor, semua elemen, untuk bersama-sama memobilisasi all sources yang digunakan untuk menuju kepada visi bersama.

Itulah esensi leadership

Indonesia adalah negara populasi tinggi. Untuk memiliki ekonomi yang kuat butuh growth 6 hingga 7 persen. Lihat Cina, India, angka itu yang ideal untuk menyerap atau menciptakan kerja.

Tetapi untuk mencapai 6 hingga 7 persen bukan semata bermodalkan faktor-faktor ekonomi. Tapi membutuhkan leadership yang inspiratif, influencing, dan trust.

Pertumbuhan ekonomi tidak bekerja dengan dirinya sendiri, tetapi hasil reciprocal atau timbal balik dengan faktor-faktor non-economic lain.

Misalnya perubahan sosial, pertumbuhan ekonomi akan menghasilkan perubahan sosial, pola konsumsi masyarakat, cara berpikir, cara hidup, dan lain-lain. Sebaliknya perubahan sosial yang positif akan menciptakan pertumbuhan ekonomi, jadi keduanya merupakan pendukung sekaligus hasil.

Kedua, good governance. Governance bukan government (pemerintah) tetapi tata kepemerintahan, yang terdiri dari government, civil society dan korporasi. Semua berada dalam posisi seimbang. Beberapa Prinsip yang diutamakan dalam good governance adalah transparansi, akuntabilitas, efisiensi dan partisipasi.

Good governance juga memberi dukungan bagi pertumbuhan ekonomi. Sebaliknya ekonomi yang tmbuh baik bagi perkembangan good governance karena nilai-nilai demokrasi makin berkualitas sejalan naiknya taraf hidup orang banyak. Demokrasi menuntut transparansi, akuntabilitas, partisipasi rakyat.

Pada perubahan sosial dan good governance, benang merahnya adalah leadership. Pemimpin yang dipercaya, memiliki kemampuan untuk mempengaruhi orang banyak untuk bergerak pada kebaikan, memiliki kemampuan untuk memainkan role-play dalam ekonomi-politik, pasti akan didukung orang banyak.

Jadi sekarang kita bisa menjawab mengapa pertumbuhan ekonomi kita stagnan? Mengapa infrastruktur tidak didukung rakyat? Kuncinya adalah pada leadership Jokowi.

Growth 5 persen baik atau buruk? Jawabannya relatif. Tapi jika kita melihat potensi sumber daya kita lebih baik dari India, seharusnya kita juga tumbuh 7 persen. Tapi posisi rangking korupsi kita (index korupsi) lebih buruk dari India dan China. Kembali lagi ini soal leadership pada good governance. Tidak akan ada pertumbuhan tinggi jika korupsi masih tinggi. Ini indikator efisensi dan produktivitas dari utang-utang pemerintah.

Kok masih ada korupsi? Kan ada revolusi mental?

Apakah rakyat paham revolusi mental apa? Apa hasilnya selama 3 tahun? Bagaimana para pendukung Jokowi menjalankan revolusi mental dalan kehidupan sehari-hari? Mengapa mereka tidak menjadi inspirasi bagi rakyat banyak?

Ini soal trust. Pemimpin menjadi inspirator bagi hidup orang lain jika sudah mendapatkan trust dari orang yang dipimpinnya.

PM India Narendra Modi bukan tipe pemimpin yang gemar pencitraan, main kodok, tinju, pancho, choper, apalagi bagi-bagi hadiah sambil lempar-lempar dari mobil, lalu rakyatnya berlari-lari mengejar seperti pengemis di jalan raya Pantura mengejar uang recehan yang dilempar para pengendara.

Tapi dia membangun infrastruktur yang mempekerjakan warga lokal, membangun fundamental ekonomi yang berbasis ekonomi rakyat tetapi di sisi lain mengembangkan industri teknologi murah. Hasilnya? India tumbuh 7 hingga 7,5 persen selama 4 tahun terakhir dan pendapatan perkapita jauh di atas Indonesia.

Kita masih jauh mengejar India, apalagi China. Bahkan IPM index pembangunan manusia indonesia, rata-rata pertumbuhannya masih di bawah Vietnam.

Pemimpin yang disebut Ronald Reagen tadi adalah pemimpin transformasional, pemimpin yang berbagi visi (bukan visi kemauannya sendiri), menjual nilai-nilai dan memberi ruang partisipasi orang banyak. Perspektifnya mengutamakan kualitas.

Berbeda dengan pemimpin transaksional yang membangun relasi-relasi dengan pengikutnya berbasis material/ekonomi, dan kuantitas. Bagi-bagi sepeda, hadiah, kartu, setifikat adalah perilaku transaksional. Itu semua bukan perilaku yang inspiratif dan mengajarkan nilai-nilai, bukan solusi yang substansial dan fundamental.

Dalam realitas, banyak orang yang mengaku menjadi pemimpin transformasional. Tapi sesungguhnya mereka hanya pseudo transformational leader. Visi yang mereka jual sangat manipulatif, menipu rakyat. Jika kita tengok ke masa lalu, Hitler dan Mahatma Gandhi adlah pemimpin transformational bagi bangsanya masing-masing.

Tapi tanpa perlu diperdebatkan lagi, kita akan sepakat bahwa Hitler sebagai yang pseudo transformational leader dan sebaliknya Gandhi is authentic tranformational leader. [***]

Gde Siriana Yusuf

Direktur Eksekutif Trans-Gov Institute

Populer

Kafe Diduga terkait Jampidsus Digeledah

Rabu, 08 Juli 2026 | 16:36

AHY dan Ibas Dilaporkan ke KPK Buntut Lonjakan Harta

Senin, 06 Juli 2026 | 14:49

Terima Kasih Bang Refly, Nama Saya Sudah Diubah jadi ‘Si Udin’

Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14

Pengacara Nadiem Makarim Dilaporkan ke Peradi Buntut Ucapan "Yang Mulia Takut Ya"

Senin, 06 Juli 2026 | 18:36

Jokowi Tinggalkan Jejak Buruk bagi Masyarakat Adat Lampung

Rabu, 01 Juli 2026 | 04:23

KPK-PPATK Diminta Pastikan Harta AHY dan Ibas dari Sumber Halal

Senin, 06 Juli 2026 | 17:38

KPK Dikabarkan Kembali Gelar OTT di Sumut

Kamis, 02 Juli 2026 | 20:50

UPDATE

Uang Tunai Rp476 Miliar, Emas Batangan, Dokumen dan Foto Keluarga Disita dari Rumah di Sentul

Kamis, 09 Juli 2026 | 12:24

Beredar Kabar Mantan Sekjen MPR Maruf Cahyono Hari Ini Ditahan

Kamis, 09 Juli 2026 | 12:15

KPK Panggil Mulyono di Kasus Suap Audit BPK Pemkab Muara Enim

Kamis, 09 Juli 2026 | 12:11

ASN PPPK Layak Peroleh Jaminan Pensiun

Kamis, 09 Juli 2026 | 12:09

Koruptor Berkedok Penegak Hukum Pengkhianat Terbesar Bangsa

Kamis, 09 Juli 2026 | 12:07

Tanya Seputar Jaksa

Kamis, 09 Juli 2026 | 12:00

Respons Santai Usulan Jawa Barat jadi Tatar Sunda, DPR: Fokus Kerja Sajalah!

Kamis, 09 Juli 2026 | 11:57

MPR dan MK Sepakat Tak Saling Intervensi Kewenangan Lembaga

Kamis, 09 Juli 2026 | 11:41

Masih Digodok DPR, Publik Diminta Tak Khawatir Usulan Kenaikan BPIH 2027

Kamis, 09 Juli 2026 | 11:31

KPK Sita 12 Ribu Dolar Singapura dari Ketua DPRD Kuansing

Kamis, 09 Juli 2026 | 11:22

Selengkapnya