Kim Il Sung dan Bung Karno/Repro
Rachmawati Soekarnoputri tak mampu menahan haru. Beberapa kali air matanya menetes saat menghadiri Pertemuan Persahabatan Indonesia-Korea yang diselenggarakan di Jaya Suprana School of Performing Arts (JSSPA), Selasa malam (10/4).
Backdrop utama di ruangan itu menggambarkan Bung Karno dan Kim Il Sung sesaat setelah Kim Il Sung mendarat di Kemayoran, 10 April 1960. Keduanya tertawa lebar, bersahabat.
Film dokumenter yang diputar dalam kegiatan yang diselenggarakan Perhimpunan Persahabatan Indonesia-Korea dan Kedutaan Republik Rakyat Demokratik Korea atau Korea itu mengenai kunjungan Kim Il Sung ke Jakarta.
Aslinya rekaman video itu hanya memiliki dua warna saja, hitam dan putih. Namun, belakangan pihak Korea Utara berhasil memodifikasi dan memunculkan warna film itu, membuat film tampak lebih hidup. Film itu memuat kegiatan Kim Il Sung di Jakarta, Bandung dan Bogor, termasuk ketika Bung Karno menyerahkan bunga anggrek kepada Kim Il Sung yang kemudian dinamakan Kimilsungia.
Salah satu adegan di dalam film itu memperlihatkan Rachmawati menari di hadapan Presiden Sukarno dan sang tamu negara.
Rachmawati pun merasa seperti dibawa mesin waktu mundur 53 tahun ke belakang. Dia tak menyangka bahwa film dokumenter yang akan diputar itu mengenai sebuah kejadian yang pernah diikutinya dari dekat.
Sebelum film diputar, dalam sambutannya, Rachma mengatakan, bahwa Pertemuan Persahabatan Indonesia Korea diselenggarakan bersamaan dengan peringatan kunjungan Kim Il Sung ke Indonesia.
"Pada waktu itu, saya 15 tahun. Saya diminta oleh Bapak, seperti biasa kalau ada tamu negara, untuk menyumbangkan tarian. Dari umur lima tahun saya sudah diminta Bapak saya untuk mempelajari tari-tarian, baik tari Jawa, Sunda, Bali, Sumatera dan seterusnya," cerita Rachma.
"Waktu Presiden Kim Il Sung mau datang, Bapak saya memerintahkan saya bersiap-siap tampil di hadapan beliau. Ini merupakan suatu kehormatan luar biasa bagi saya, karena menari di hadapan Presiden Kim Il Sung, lalu tangan saya digandengnya," kata Rachma lagi.
Presiden Kim Il Sung ketika itu, sambung Rachma, mengatakan kepada Presiden Bung Karno bahwa ini yang sangat pandai menari. Sambil tangannya menunjuk Rachma.
"Peristiwa itu masih sangat melekat di benak saya," ujar Rachma.
"Itu sebabnya setelah sekian tahun, di tahun 2000 saya mendirikan Perhimpunan Persahabatan Indonesia Korea, dalam rangka mengabadikan pertemuan kedua pemimpin besar. Terutama karena visi dan misi, dan perjuangan kedua pemimpin besar itu banyak sekali persamaannya. Yaitu, menghadapi neokolonialisme dan neoimperialisme," demikian Rachma.
Pertemuan Persahabatan Indonesia Korea dihadiri Dutabesar Korea Utara An Kwang Il, pendiri Museum Rekor Dunia-Indonesia (MURI) Jaya Suprana dan Ibu Aylawati, Rektor Universitas Bung Karno (UBK) Soenarto Sardiatmadja, Ketua PPIK Ristiyanto, dan Sekjen PPIK Teguh Santosa yang sekaligus menjadi Ketua Seminar-El untuk mengenang pembangunan Korea Utara selama 70 tahun.
[dem]