Berita

Ustadz Abu Ammar/Ist

Nusantara

Mengenang Komitmen Ustadz Abu Ammar

SABTU, 07 APRIL 2018 | 22:03 WIB

SAHABAT itu baru terasa kerinduannya saat tiada. Itulah yang saya rasakan saat mendengar Ustadz Abu Ammar tutup usia, hari ini Sabtu, 7 April 2018 di kota suci Qom, Iran. Ust Abu Ammar adalah sosok yanga tekun menggali ilmu agama tanpa kenal lelah.

Pada umur di atas paroh baya, beliau masih menggali ilmu di Negeri Mullah hingga akhir hayatnya. Selama tiga dekade, beliau konsisten menimba ilmu di kota suci Qom. Beliau juga berguru dengan para soko guru sekaliber ayatullah seperti Ayatullah Jawadi Amoli.

Banyak memori yang tiba-tiba kembali terkenang kembali saat mendengar Ust Abu Ammar wafat. Pertama kali saya mengenal Ust Abu Ammar saat menjadi santri di pesantren Bangil, sekitar 25 tahun lalu. Saat itu, Ust Abu Ammar duduk di pelataran masjid sambil berbincang-bincang dengan sahabatnya. Saya saat itu hanya menatap dari jauh dan menyimpan rasa kagum yang dalam pada beliau. Apalagi saat itu, saya sudah baca karya ilmu logikanya.


Ternyata tatapan itu tidak berhenti di situ saja. Waktu berjalan hingga saya dipertemukan langsung dengan Ust Abu Ammar secara langsung saat saya mendapat kesempatan belajar di kota suci Qom, Iran. Saat itu saya sudah beda melihat sosok Ust Abu Ammar. Saya saat itu melihatnya sebagai sosok yang kontroversial. Meski demikian, saya bisa rasakan Ust Abu Ammar sebagai sosok yang tulus.

Tidak sedikit dari kalangan pelajar tercerahkan karena petuah-petuahnya yang tulus. Beliau selalu meminta para pelajar  untuk tuntas mengkaji ilmu-ilmu Islam tradisional (hauzah). Orientasi demi orientasi selalu disampaikan setiap kali bertemu pelajar yang baru datang dari tanah air untuk belajar serius dan jaga tradisi keilmuan hauzah. Saya pun termasuk orang yang terkesan dengan orientasi keilmuan beliau yang selalu mendorong semua pelajar Indonesia untuk tetap konsisten. Saat saya memutuskan untuk bekerja di pusat media Iran, IRIB, sebagai wartawan, Ust Abu Ammar termasuk orang yang menunjukkan kekecewaannya.

Saat belajar di kota suci Qom, saya relatif menggunakan sela-sela waktu untuk bertanya kepada Ust Abu Ammar. Saat itu, saya kagum pada keilmuan Ust Abu Ammar. Meski saat itu beliau dikenal sebagai sosok yang kontroversial, saya diam-diam menyimpan rasa kagum pada Ust Abu Ammar. Suatu saat, saya pernah menanyakan masalah yang berkaitan dengan wacana kekinian. Beliau jawab dengan lugas dan jelas, bahkan lebih luas dari jawabannya yang tertuang pada majalah ilmiah yang jadi trend wacana saat itu. Saya pun hampir setiap waktu bertemu dengan Ust Abu Ammar berusaha menanyakan masalah-masalah yang terkadang beliau mempunyai jawaban dengan sudut pandang yang berbeda. Mungkin karena inilah beliau dikenal sosok kontroversial.

Di satu sisi, Ust Abu Ammar termasuk sosok yang komitmen pada keilmuannya. Sikapnya pun terbukti pada penolakan atas pemimpin kafir. Terkait polemik pemimpin non muslim di pilgub DKI, beliau memberikan jawaban yang cukup mencerahkan. Beliau mampu menengahkan dalil naqli lainnya yang menjelaskan haramnya pemimpin non muslim dalam berbagai skala, bahkan kekuasaan sekecil apapun.  Sementara banyak teman almamaternya yang malah lebih bersikap toleran di luar batas, bahkan bisa dipahami liberal.

Menurut Ust Abu Ammar yang dikenal dengan sebutan Sinar Agama,  tidak boleh sama sekali memilih pemimpin non muslim, sekalipun hanya untuk kepemimpinan kecil. Ayatullah Jawadi Amuli dalam pelajaran bahtsu al-khaarijnya (yang tersebar di seluruh dunia melalui siaran langsung pengajaran hauzah) pernah menafsirkan ayat yang dimaksudkan dalam ketidakbolehan menjadikan orang kafir sebagai pemimpin, maknanya adalah dalam dan dengan jalan apapun. Yakni secara mutlak kafir tidak diberi jalan oleh Allah untuk menjadi pemimpin muslim walau sekecil apapun.

Ayat yang saya maksud adalah ini (QS: 4:141):

وَلَنْ يَجْعَلَ اللَّهُ لِلْكَافِرِينَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ سَبِيلًا

"Dan Allah sama sekali tidak akan memberi jalan bagi orang kafirin untuk menguasai mukminin."

Ayatullah Jawadi berkata "sabil" di sini apa saja yang berupa penguasaan pada kaum mukmin seperti kepemimpinan walau kecil sekalipun. Semoga Allah menerima arwahnya di sisi Allah Swt.

Alireza Alatas

Pembela ulama dan NKRI, aktivis Silaturahmi Anak Bangsa Nusantara (Silabna)

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

Bayang-Bayang LDII

Rabu, 08 April 2026 | 05:43

UPDATE

DPR Tak Setuju Skema War Tiket Haji Meski Masih Wacana

Minggu, 12 April 2026 | 14:01

PM Carney Tegas Akhiri Ketergantungan Militer Kanada pada AS

Minggu, 12 April 2026 | 13:52

Pemerintah Tak Perlu Reaktif Respons Usulan JK

Minggu, 12 April 2026 | 13:40

Pembicaraan Damai di Pakistan Gagal Capai Kesepakatan, GREAT Institute: Buah dari Inkonsistensi AS

Minggu, 12 April 2026 | 13:34

Pengawasan Kasus Hukum oleh DPR Bukan Intervensi

Minggu, 12 April 2026 | 13:11

Negosiasi 21 Jam Gagal, Iran Sebut Tuntutan AS Tak Masuk Akal

Minggu, 12 April 2026 | 13:08

Perundingan Damai Iran dan AS Berakhir Tanpa Hasil

Minggu, 12 April 2026 | 12:26

Hasan Nasbi Sebut Pernyataan Saiful Mujani Ajakan Jatuhkan Pemerintah

Minggu, 12 April 2026 | 12:23

Prabowo Harus Singkirkan Menteri Titipan Era Jokowi

Minggu, 12 April 2026 | 12:15

Seluruh Elemen Pemerintahan Jangan Menunda Kepindahan ke IKN

Minggu, 12 April 2026 | 12:01

Selengkapnya